Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Merebu, Haturkan Babi Guling saat Sugihan

hakim dwi saputra • Sabtu, 28 Oktober 2017 | 15:00 WIB
Merebu, Haturkan Babi Guling saat Sugihan
Merebu, Haturkan Babi Guling saat Sugihan

BALI EXPRESS, TABANAN – Menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan, umat Hindu akan menjalani rentetan rahinan termasuk Sugihan Jawa maupun Sugihan Bali. Pelaksanaan Sugihan Jawa maupun Sugihan Bali di berbagai daerah di Bali ada perberdaan. Meskipun memiliki makna yang sama yakni untuk pembersihan sebelum merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan.


Di sejumlah wilayah di Kabupaten Tabanan sendiri, Sugihan Jawa atau Sugihan Bali, selain melakukan persembahyangan sebagaimana mestinya, juga diisi dengan nguling. Babi guling selanjutnya dihaturkan di merajan masing-masing, ada yang menyebutnya tradisi merebu, atau pengerebuan.


Salah seorang warga Banjar Bongan Gede, Desa Bongan, Kecamatan Tabanan, Made Donny Darmawan menjelaskan, ia melaksanakan tradisi tersebut setiap Sugihan Bali. Babi guling dihaturkan di Merajan Gede serangkaian dengan persembahyangan Sugihan Bali. “Kalau di keluarga saya, yang menghaturkan guling bergiliran.Yang penting, saat Sugihan ada guling yang dihaturkan dan ini sudah kami jalani sejak dulu,” ungkapnya Jumat kemarin (27/10).


Ia pun mencontohkan yang dijalani di keluarganya. Merajan Gedenya terdiri atas 4 KK. Maka setiap KK mendapatkan giliran menghaturkan babi guling setiap enam bulan sekali. Setelah persembahyangan dihaturkan, maka babi guling bisa dinikmati bersama keluarga besar.


Hal serupa dilakukan oleh Komang Suparta, warga Banjar Jambe Baleran, Desa Dajan Peken, Kecamatan Tabanan. Suparta menjalani tradisi merebu pada Sugihan Jawa sebagai wujud rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan. “Jadi warga di Banjar Jambe Baleran ada yang merebu pada Sugihan Jawa dan ada yang pada Sugihan Bali, yang jelas babi guling yang dihaturkan merupakan ungkapan rasa syukur,” paparnya.


Sementara itu Ketua PHDI Tabanan, I Wayan Tontra mengatakan bahwa merebu artinya mebersih-bersih, sehingga tradisi merebu sesuai dengan makna hari Sugihan yakni untuk pembersihan Buana Agung dan Buana Alit menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan. “Merebu itu artinya mebersih-bersih, menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan,” tegasnya.

Editor : hakim dwi saputra