BALI EXPRESS, DENPASAR - Kisah Calonarang tetap abadi, meski sudah berabad-abad berlalu. Kini kisah Calonarang disajikan dalam bentuk seni sakral yang ada di pura. Ada banyak versi mengenai pengertian Calonarang.
Calonarang ada yang menyebutkan artinya seseorang yang sakti mandraguna, orang yang kuat, hingga manusia yang jahat. Inti kisah Calonarang menceritakan seorang janda dari Desa Girah atau Dirah di Kediri, Jawa Timur. Bahkan, kini petilasannya diyakini masih ada, yakni di Dusun Butuh, Desa Sukorejo, Jawa Timur. Calonarang diberikan kepada seorang janda yang dalam bahasa Jawa disebut rondo dari Girah yang dalam pementasan seni sakral di Bali biasa disebut Walu Nateng Dirah atau Rangda Nateng Girah.
Terkait dengan legenda tersebut, pementasan Calonarang di Bali oleh Dr. Jro Mangku Gede Made Subagia, SH., M.Fil. H dikatakan, bisa dilihat dari dua konsep, yakni konsep profan dan sakral. “Profan tentunya mengangkat kisah Walu Nateng Dirah. Namun, ketika Calonarang masuk ke wilayah ritual dan ke pura, maka tergolong konsep sakral, yakni pementasan Calonarang menjadi bagian sembah bakti atau yadnya kepada Ida Bhatari Dalem,” ungkapnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
Dikatakannya, yadnya yang dimaksud adalah memuja Ida Bhatara Sakti, yakni Siwa dan Durga. Durga biasanya diwujudkan dalam bentuk rangda dan Siwa dalam bentuk barong. “Ini karena kita tidak bisa melihat beliau, sehingga diwujudkan dalam bentuk simbol itu,’ ujarnya, saat ditemui di sela-sela piodalan Pura Gede Dalem Pauman, Banjar Tegallinggah, Padangsambian Kaja, Denpasar, beberapa hari lalu. Pinisepuh Siwa Murti Bali tersebut melanjutkan, dalam hal ini, pelaksanaan Calonarang bertujuan untuk pembuktian bahwa kekuatan Tuhan yang bermanifestasi sebagai Siwa-Durga masih eksis dan juga sebagai pembuktian bahwa umatnya masatya atau menunjukkan kesetiaan.
“Seperti keberadaan bangke (bangkai) atau watangan, orang yang tidak tahu mungkin menganggapnya sebagai sok-sokan, padahal itu konsepnya masatya dan masucian,” jelasnya.
Dipaparkannya, awalnya yang bersangkutan disucikan dan ia menyatakan setia kepada Ida Bhatara dan Bhatari Dalem, maka ia mendapat anugerah langsung tanpa disadari. “Karena itu banyak sisya terkadang tidak sadar telah medapat anugerah. Yang semula sakit-sakitan, tiba-tiba menjadi sehat. Anugerah itu terkadang seperti angin, tak bisa dilihat,” terangnya.
Dulu, kata Jro Mangku, Walu Nateng Dirah juga setia dan rajin memuja Ida Bhatari Durga. “Ia rajin ke setra (kuburan) saat kajeng kliwon, mapag rahinan, sandikala, nyejeg surya, selalu dilakukan. Oleh karena itu, saat ini meski kita hanya rajin mabanten, bisa saja mendapat anugerah. Ini adalah wujud bhakta yang setia,” lanjutnya.
Pemilik Ngurah Medical Center tersebut menambahkan, Ida Bhatari Dalem hingga satu bhakta Siwa yang terkenal di Nusa Penida dan Bali, yakni Ida Ratu Gede memiliki Panca Kertya atau Panca Taksu. Kelimanya adalah pangeger yang membuat orang lain menjadi segan, pangasih yang membuat penggunanya dikasihi, usada atau kemampuan mengobati, kasiddhian atau keinginannya bisa tercapai, dan amertha atau kesejahteraan. “Kalau punya kelima hal itu, maka sangat sulit dikalahkan. Tapi gegodan (tantangan) nya juga banyak,” ujarnya.
Oleh karena itu, kembali ditekankan Jro Mangku Subagia, pentas Calonarang di tempat suci atau pura hendaknya perlu dipahami makna dan tujuannya. Semuanya tidak lepas dari rasa bhakti umat kepada Ida Bhatara. “Diharapkan dengan pementasan Calonarang umat semakin menguatkan keyakinan kepada Sang Hyang Widhi. Meski beliau tidak bisa dilihat dengan mata biasa, namun anugerah-Nya dapat kita rasakan dan patut kita syukuri,” tegasnya.