Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kendala Izin, Konservasi Lontar Capai 546 Cakep

I Putu Suyatra • Senin, 2 April 2018 | 17:06 WIB
Kendala Izin, Konservasi Lontar Capai 546 Cakep
Kendala Izin, Konservasi Lontar Capai 546 Cakep

BALI EXPRESS, DENPASAR – Pemeliharaan lontar memang saat ini gencar dilakukan oleh penyuluh Bahasa Bali. Selain untuk menjaga lontarnya sendiri juga menjaga kearifan isi dari lontar tersebut. Dalam pelaksanaannya sangatlah dibutuhkan pengertian pemilik lontar dan peralatan yang akan digunakan. Bahkan untuk membersihkannya memerlukan izin dari pemilik lontar, serta menggunakan bahan yang khusus dan mahal. Meskipun terdapat kendala, saat ini telah ada 546 lontar yang telah teridentifikasi. 


Lontar biasanya yang terdapat pada sebuah griya ataupun puri kerajaan itu dibersihkan oleh petugas dari penyuluh Bahasa Bali. Selain itu di rumah warga juga terdapat lontar yang disakralkan sehingga memerlukan pendekatan khusus agar diberikan konservasi. Koordinator penyuluh Bahasa Bali Kota Denpasar, GA Widyarti mengaku dalam proses konservasi menemukan beberapa kendala. “Biasanya lontar ditaruh pada merajan atau kamar suci, makanya kita harus pendekatan dulu kepada pemilik lontar supaya bisa dibersihkan,” jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di Denpasar Minggu kemarin (1/4).


Selain terkait izin pemilik lontar, dia mengaku saat ini terkendala dengan alat-alat yang dipergunakan dalam pembersihan lontar. Karena memang memerlukan minyak yang khusus agar lontarnya tetap utuh dan tidak dimakan rayap. Jelas perempuan yang akrab disapa Gek Widya ini, alat yang digunakan berupa minyak sereh dan alkohol yang harganya cukup mahal. Namun, pada awalnya hanya melakukan pembersihan saja yang dibantu alatnya dari Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Sehingga selanjutnya juga dilakuakn konservasi dan identifikasi.


Ketika mendapatkan izin membersihkan lontar, Gek Widya menjelaskan pemilik lontar kadang hanya menyarankan menghaturkan canang dan ada juga yang menggunakan pejati lengkap. “Dalam lontarnya juga terdapat tutur, geguritan, plutuk, babad, parwa, usada, kawisesan, bahkan ada yang kajang. Sedangkan pemiliknya sendiri ada yang sudah tahu isinya dan ada yang belum. Untuk bahan pembersihnya ada juga berinisiatif menyiapkan sendiri, dan kita ajak saat proses pembersihan agar pemiliknya tahu juga bagaimana caranya,” papar perempuan 29 tahun tersebut.


Proses pembersihan dan konservasi lontar dilakukan sesuai banyaknya lontar. Ketika banyak, Widya mengaku akan ditangani oleh penyuluh per kecamatan dengan menyesuaikan waktunya. Dalam satu kecamatan, dirinya menyebutkan terdapat 10 orang tenaga penyuluh Bahasa Bali. Hingga saat ini lontar yang sudah dikonservasi mencapai 447 cakep lontar pada tahun 2017.


“Konservasiny tahun ini masih berlanjut, nanti akhir april baru bisa memastikan jumlahnya. Karena saat ini di Denpasar Utara nambah lagi 31 cakep dan Denpasar Timur lagi 68 cakep. Kemungkinan akhir april akan nambah kembali,” imbuhnya. 


Dikonfirmasi Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Bagus Mataram menjelaskan agar masyarakat jangan terlalu tenget kepada lontarnya. Karena penyuluh Bahasa Bali bertujuan untuk melestarikan dan menjaga lontar tersebut dengan cara dibersihkan dan didata. Karena menurutnya sendiri masih banyak lontar – lontar yang dimiliki masyarakat dan belum diizinkan untuk dikonservasi.


“Itu lontar kan kita tidak ambil, melainkan dibersihkan, dirawat dan diidentifkasi. Inilah salah satu kurang pemahaman dari masyarakat, seolah-olah lontarnya itu tenget. Sebaiknya masyarakat berikan agar dibersihkan agar tidak rusak,” tandasnya. 

Editor : I Putu Suyatra
#lontar #denpasar