Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sebelum Wafat, Sang Maestro Sering “Didatangi” Mendiang Suaminya

I Putu Suyatra • Kamis, 19 April 2018 | 14:21 WIB
Sebelum Wafat, Sang Maestro Sering “Didatangi” Mendiang Suaminya
Sebelum Wafat, Sang Maestro Sering “Didatangi” Mendiang Suaminya

BALI EXPRESS, GIANYAR - Wafatnya salah seorang maestro Tari Legong Peliatan I Gusti Ayu Raka Rasmi, 79, pada Selasa siang (17/4) benar-benar membuat Gumi Seni Gianyar sebagai tanah kelahirannya geger. Mendiang yang meski menikah ke Abiansemal, Badung, selama ini memang menjadi salah satu sosok penting dalam seni tari di Gianyar. Ini tak lepas dari namanya yang sudah kesohor hingga ke mancanegara. Maklum, sejak kecil mendiang sudah kerap pentas keliling dunia, termasuk di hadapan Presiden Pertama RI Soekarno. Sebelum meninggal, mendiang mengaku sering “didatangi” mendiang suaminya lewat mimpi.


Saat Bali Express (Jawa Pos Grop) mendatangi rumah salah seorang anak perempuan mendiang yang menikah ke Peliatan, suasana rumah ini tampak sepi. Bahkan angkul-angkul rumah terlihat tertutup rapat. Menurut keterangan Ni Made Apriani, penyeroan (pembantu) di rumah ini yang akhirnya menemui Bali Express (Jawa Pos Group), dikatakan jika seluruh keluarga sejak pagi sudah berangkat ke rumah duka di Abiansemal. Pasalnya almarhum yang meski lahir di Peliatan, tapi telah menikah ke Abiansemal. Sehingga seluruh prosesi dilakukan di rumahnya saat ini.


“Semuanya sampun ke Abiansemal. Karena almarhum kan di sana. Tapi katanya, saat ini jenazah almarhum masih disemayamkan di RS Kapal. Makanya di sini kosong,” ucapnya.


Terkait mengenai aktifitas almarhum yang kerap melatih menari di rumah anaknya di Peliatan tersebut, gadis yang baru beranjak dewasa ini menceritakan, memang di rumah itu almarhum sering mengajar menari. “Terakhir almarhum ke sini kalau tidak salah pas ulang tahunnya (10 Maret) dan di sini menginap sampai Nyepi. Kalau tidak salah almarhum di sini sekitar dua minggu, lalu pulang ke Abiansemal,” paparnya.


“Saya juga kurang tahu bagaimana meninggalnya almarhum. Katanya almarhum meninggal mendadak. Karena sebenarnya pas Selasa (17/4) siang almarhum mau dijemput ke Abiansemal dan diajak ke sini lagi. Tapi sekitar jam 13.00, malah ada telepon kalau almarhum meninggal dunia,” ceritanya.


Sedangkan AA Surya Aditya Wijaya, 14, salah seorang murid tari almarhum yang tiba di rumah tersebut bersama beberapa murid almarhum lainnya menambahkan, dari yang dia ketahui waktu almarhum ke Peliatan dan mengajar menari terakhir kali sebelum Nyepi, masih tampak sehat. Bahkan begitu semangat mengajarkan mereka menari. Karena itu dia dan teman-temannya begitu terkejut ketika pada Selasa sore mendengar kalau guru tarinya meninggal dunia.


“Waktu terakhir mengajar sangat sehat sekali. Bahkan sangat segar. Makanya kemarin (Selasa) sore kami terkejut waktu dapat kabar beliau meninggal,” katanya menahan rasa sedih.


“Kami sangat terpukul dengan kehilangan Beliau. Karena Beliau bagi kami sangat berharga. Beliau juga tidak neko-neko mengajar kami menari,” imbuhnya.


Sementara itu dikonfirmasi terpisah melalui sambungan ponselnya, salah seorang anak almarhum AA Istri Wirati yang menikah ke Peliatan mengungkapkan, selama ini almarhum memang sangat sehat. Namun almarhum memiliki riwayat tensi tinggi. Diduga karena tensi tinggi almarhum kambuh inilah, secara mendadak almarhum menghembuskan nafas terakhirnya sekitar jam 13.00 di RS Kapal.


“Selama ini almarhum memang lama tensi tinggi. Mungkin kemarin almarhum kelelahan lalu tensi tingginya kumat. Ini kejadiannya juga mendadak,” ucapnya.


Dia juga mengakui terakhir kali almarhum berkunjung ke rumahnya di Peliatan itu saat ulang tahun ke-79 pada 10 Maret lalu dan tinggal disana selama dua minggu sampai usai Hari Raya Nyepi. Ketika itu kondisi almarhum sangat sehat dan segar bugar. Bahkan almarhum masih menyempatkan diri melatih para muridnya menari.


Terkait dengan firasat atau pesan almarhum sebelum meninggal, diceritakan olehnya, beberapa waktu lalu almarhum memang sempat cerita jika kerap bermimpi bertemu dengan almarhum suaminya. Mimpi itu dialami almarhum beberapa kali.


“Untuk rencana nanti akan dikremasi pada 24 April nanti di Mumbul. Itu sesuai rencana keluarga di Abiansemal,” katanya. Sekaligus menyebut, almarhum memang rutin mengajar tari hanya di Peliatan. Lantaran pakem tari Legong yang digeluti almarhum yakni Legong Peliatan.


Seperti diketahui sosok I Gusti Ayu Raka Rasmi, 79, sudah tidak asing di kalangan seniman tari di Bali. Bahkan namanya sudah terkenal hingga ke luar negeri. Pasalnya almarhum merupakan salah satu maestro Tari Legong Peliatan. Almarhum sejak remaja bersama dengan para seniman dari Peliatan sudah pentas ke beberapa negara sekitar tahun 1950an. Mulai dari dataran Asia, Eropa, Amerika hingga Benua Australia. Bahkan semasa Presiden RI Pertama Soekarno, almarhum juga kerap pentas di hadapan Presiden Soekarno di Istana Tampaksiring dan Istana Negara Jakarta. 

Editor : I Putu Suyatra