Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Jenazah Pengelingsir Puri Blahbatuh Ke-24 Diusung Pakai Padma Negara

hakim dwi saputra • Rabu, 19 Desember 2018 | 03:16 WIB
Jenazah Pengelingsir Puri Blahbatuh Ke-24 Diusung Pakai Padma Negara
Jenazah Pengelingsir Puri Blahbatuh Ke-24 Diusung Pakai Padma Negara


BALI EXPRESS, GIANYAR - Tradisi kremasi yang berlaku di keluarga besar Puri Blahbatuh rupanya punya corak tersendiri. Seperti terlihat pada  upacara pelebon pengelingsir puri tersebut, Ida I Gusti Ngurah Djelantik XXIV, yang berlangsung Selasa kemarin (18/12).


 


Dalam prosesi tersebut, jenazah pengelingsir puri yang mangkat pada 15 November 2018 lalu itu diusung menggunakan padma negara. Bentuknya menyerupai bade. Hanya saja atapnya tidak bertumpang.


 


Padma negara dalam prosesi itu memiliki tinggi sekitar 24 meter. Dan pembuatannya menelan biaya mencapai Rp 300 juta. Seperti diungkapkan undagi dari padma negara itu, I Ketut Gede Setiawan.


 


“Kita memang tidak mempergunakan tumpang di atasnya itu. Karena mengacu trah almarhum yang merupakan keturunan trah Djelantik. Sehingga tidak mempergunakan tumpang,” jelasnya.


 


Selama proses pembuatan, Setiawan mengaku dibantu 60 orang rekannya yang merupakan warga Blahbatuh. Mereka terbagi dalam tiga tim agar bisa mengejar waktu pengerjaan yang relatif singkat.


 


Pertama ada kelompok perancang, kedua kelompok bangunan, dan ketiga kelompok ngodi (seni ukir). Dengan pembagian kelompok seperti itu, menurut Setiawan, pengerjaan padma negara yang harusnya selesai dalam sebulan bisa dituntaskan dalam waktu 25 hari.


 


“Awalnya palebon akan dilaksanakan Februari 2019. Karena terbentur dengan Karya Agung di Pura Besakih, sehingga dicarikan hari baik lainnya dan jatuh pada hari ini. Melihat waktu yang singkat kami mencoba mempercepat pengerjaannya. Astungkara, kelar tepat waktu dengan menghabiskan dana sekitar Rp 300 juta,” kata warga Blahbatuh ini.


 


Menurutnya, proses kerja yang lumayan cepat itu juga dikarenakan puluhan anggotanya bekerja atau ngayah dari pagi sampai malam. Kesempatan ngayah di puri tersebut juga digunakan kesempatan untuk menuangkan kreativitas seni putra asli Blahbatuh. Hanya saja pembuatan lembu putih dibuat di luar Desa Blahbatuh. Karena pihaknya fokus pada padama negara.


 


Disinggung dengan berat Padma Negara itu, Setiawan menerangkan sekitar 50 ton. Selanjutnya, padma negara itu akan diusung sekitar tiga ribu krama dari delapan banjar di Desa Pekraman Blahbatuh dan dua banjar dari desa pendamping.


 


“Rute yang dilalui, dari depan puri tidak lurus ke barat menuju setra. Harus menggunakan jalan adat. Yaitu memutar ke selatan dan akan tembus dari selatan setra,” terang Setiawan.


 


Sementara itu, putra almarhum, AA Ngurah Putra Narayana menjelaskan ayahnya meninggal pada 15 Nopember 2018 lalu. Almarhum memiliki riwayat sakit kadar gula tinggi, asam lambung, dan gangguan pada ususnya.


 


Sehingga pada usianya yang ke 74 tahun pangelingsir Puri Blahbatuh Ke-24 ini menghembuskan nafas terakhirnya. Ia melanjutkan bahwa alrmarhum memiliki lima orang anak, dan Putra Narayana sendiri anak terakhir.


 


“Kami di puri buatkan Padma Negara ini sebagai bentuk bhakti kepada beliau. Bahkan Padma Negara yang ukurannya sama seperti ini ada di puri terakhir pada 1961 silam. Ukurannya, ya mirip-mirip seperti inilah,” tandas putra bungsu almarhum.

Editor : hakim dwi saputra
#gianyar #ngaben #tradisi