BALI EXPRESS, TABANAN - Serangkaian dengan Karya Agung Panca Wali Krama di Pura Agung Besakih mulai 6 Maret 2019 mendatang, umat Hindu di Bali telah dilarang melaksanakan upacara ngaben mulai 20 Januari lalu hingga 4 Maret mendatang. Kondisi itu membuat beberapa warga yang memiliki kerabat yang telah meninggal dunia, memilih menitipkan jenazah kerabatnya di rumah sakit. Hal itu jelas saja membuat ruang penyimpanan jenazah menjadi penuh, seperti yang dialami ruang penyimpanan jenazah BRSU Tabanan. Lantaran dari maksimal ruangan menampung delapan jenazah, kini sudah ada 11 jenazah yang dititipkan warga.
Dengan kondisi itu, mau tidak mau, pihak rumah sakit akhirnya memilih menempatkan dua peti jenazah di luar freezer. Mengingat dari enam freezer yang dimiliki pihak rumah sakit, keenamnya sudah penuh terisi. “Ya, saat ini ruang jenazah memang sudah full,” ungkap Kepala Ruang Jenazah I Gusti Nyoman Sadia Wirka.
Dikatakan, ruang penyimpanan jenazah mulai penuh sejak sepekan. Hal ini karena adanya larangan ngaben serangkaian karya Panca Wali Krama di Pura Besakih. “Sebenarnya maksimal ada enam jenazah di ruangan, karena disini hanya tersedia enam freezer. Tapi sekarang sudah ada 11 jenazah. Makanya ada tiga freezer yang kini berisi dua jenazah, dan sisanya dua jenazah lagi diletakkan di peti jenazah di luar freezer,” bebernya.
Meski harus menempatkan dua jenazah di luar freezer, pihaknya tetap rutin melakukan kontrol. Dimana jenazah baru akan dibersihkan dua kali sehari, dan jika sudah lama bisa dibersihkan seminggu sekali. “Yang di luar freezer selain dibersihkan, juga kita berikan formalin sebagai pengawet,” terangnya.
Sementara itu Kasubbid Rawat Darurat dan Tindakan Medik BRSU Tabanan AA Ngurah Putra Wiradana juga mengakui, idealnya ruang jenazah di BRSU Tabanan memang menyimpan delapan jenazah. Rincianya enam tempat di dalam freezer, dan dua tempat di dalam peti di luar freezer. Hanya saja, berkaitan dengan karya Panca Wali Krama di Besakih, saat ini sudah ada 11 jenazah yang dititipkan warga di ruang jenazah BRSUD Tabanan.
Kondisi ini membuat pihaknya dengan teliti mengatur penempatan, hingga akhirnya diputusakan untuk satu freezer diisi dua jenazah, dan itu pun atas persetujuan keluarga. Tak heran, dari 11 jenazah yang dititipkan sampai kemarin, sembilan jenazah diletakkan di dalam enam buah freezer, dan dua jenazah lainnya di dalam peti.
Kendati demikian, menurut dr. Wiradana kouta penitipan jenazah masih aman. Tetapi jika memang nanti melebihi kuota, pihaknya terpaksa menyarankan pihak keluarga menitipkan jenazah kerabatnya ke rumah sakit yang lain, yang memang memiliki layanan penitipan jenazah. “Kami akan bantu carikan, seperti di RS Sanglah dan RS Mangusada Badung,” ungkapnya.
Terkait biaya penitipan, dr Wiradana memaparkan, karena penitipan jenazah tidak masuk dalam jaminan kesehatan. Sehingga masuk ke pembayaran umum. Jadi biaya yang dikeluarkan untuk penitipan jenazah per hari sebesar Rp 75.000. “Karena jenazah yang dititipkan kami lakukan kontrol secara rutin,” pungkasnya.
Editor : I Putu Suyatra