Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Warga Kesal, Melasti Diganggu Aksi Berebut Sesari

hakim dwi saputra • Selasa, 5 Maret 2019 | 04:57 WIB
Warga Kesal, Melasti Diganggu Aksi Berebut Sesari
Warga Kesal, Melasti Diganggu Aksi Berebut Sesari


BALI EXPRESS, DENPASAR – Ritual melasti di kawasan Pantai Padanggalak, Kesiman, Senin kemarin (4/3) sedikit terganggu. Pasalnya, sejumlah orang tanpa busana adat berebut sesari (uang yang diletakkan di sesajen) saat umat menghaturkan sesaji di tepi pantai. Kejadian ini pun diunggah di medsos sehingga  mengundang banyak komentar.


Salah satu warga yang namanya enggan dikorankan mengatakan, sejumlah orang tiba-tiba datang dan menunggui warga yang tengah menghaturkan canang. Tanpa basa-basi, salah seorang di antara mereka mengambil sesari di atas canang yang dihaturkan. “Saya lihat di medsos, ada orang memakai celana pendek menunggui salah satu umat yang hendak menghaturkan canang. Namun tiba-tiba dia mengambil canang yang baru baru di-ayab (dihaturkan). Saya kesal melihatnya,” ujarnya.


Ia pun mengaku sempat hendak mencari orang itu ke Pantai Padanggalak karena merasa kesal terhadap orang-orang yang rata-rata mengenakan celana pendek dan berkaos itu. Ke depan ia berharap ada pengawasan lebih ketat agar kejadian serupa tidak terulang. “Sempat kesal juga sih, karena caranya tak beretika,” katanya.


Pantai Padanggalak dari tahun ke tahun memang menjadi tempat ritual melasti. Dari pagi hingga sore  ada beberapa desa adat yang melakukan upacara melasti di Pantai Padanggalak, di antaranya Penatih, Tembau, Tonja, Angantaka, dan Bekul. Sementara saat sore hari, giliran warga Desa Pakraman Pagan, Sumerta dan Kesiman yang memenuhi sepanjang pantai. Meski hujan mengguyur saat sore hari, umat dari tiga desa pakraman ini melakukan ritual dengan khusyuk.


Pantauan di lapangan, iring-iringan umat dari Desa Sumerta dan Kesiman yang mengusung pratima diguyur hujan. Namun umat terlihat tak mempedulikan derasnya hujan, meski terlihat basah kuyup.


Alunan suara gambelan balaganjur terdengar saling bersahutan untuk mengiringi ritual yang dilaksanakan oleh masing-masing desa adat. Tidak hanya persembahyangan bersama, melasti di Padanggalak juga diwarnai dengan ritual kerauhan.


Salah seorang warga dari Desa Adat Pagan, Wayan Sukarya mengatakan, sesuai tradisi yang diyakininya, prosesi melasti berisi rangkaian ritual seperti memendak, menghaturkan pakelem hingga kerauhan. “Seperti biasa, para pemangku ada yang kerauhan dan ngunying,” tuturnya.


Sejumlah pemangku dari Desa Adat Pagan yang kesurupan terlihat menerjang air laut dan berguling di pasir. Di sisi lain terlihat sejumlah pemangku menghujam dadanya dengan keris diiringi suara gambelan yang menghentak.


Sukarya berharap, semoga Nyepi ini menjadi momentum yang baik untuk introspeksi diri. “Tentunya kita berharap diberikan keselamatan dan kerahayuan,” tandas Jaya.

Editor : hakim dwi saputra
#bali #nyepi