BALI EXPRESS, DENPASAR – Sembilan tari Bali yang sudah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) oleh UNESCO akan ditampilkan secara utuh dalam pelaksanaan Pesta Kesenian Bali (PKB) Ke-41 tahun 2019.
Kesembilan tarian tersebut meliputi Tari Baris Upacara, Tari Rejang, Tari Sanghyang, Dramatari Gambuh, Tari Topeng Sidakarya, Dramatari Wayang Wong, Tari Legong Keraton, Barong Ket, dan Joged Bumbung.
“Kesembilan tari Bali yang sudah ditetapkan sebagai WBTB itu akan masuk dalam kategori pagelaran saat pelaksanaan PKB Ke-41 nanti,” ujar Kabid Kesenian dan Tenaga Kebudayaan, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ni Wayan Sulastriani, saat ditanya persiapan pelaksanaan PKB Ke-41, Kamis (21/3).
Menurutnya, dalam pelaksanaan PKB tahun ini, kesembilan tari tersebut akan ditampilkan secara utuh. Karena di tahun lalu, baru beberapa tarian saja yang ditampilkan dalam pagelaran.
“Tahun lalu baru beberapa. Tahun ini kesembilannya. Itu dari masing-masing kabupaten/kota. Tapi ada juga yang ditunjuk oleh provinsi, sesuai pemetaan yang dilakukan tim curator, seperti Gambuh Anyar dari Tegalalang,” jelasnya.
Dia menjelaskan, pelaksanaan PKB tahun ini akan dijadwalkan dari 15 Juni sampai dengan 13 Juni 2019 di Taman Budaya, Art Center. PKB yang dianggarkan sebesar Rp 6 miliar ini mengangkat tema Bayu Pramana dengan makna Memuliakan Sumber Daya Angin.
Tema itulah yang akan menjadi bingkai utama materi pokok PKB yang meliputi pawai, parade, lomba, pagelaran, pameran, sarasehan, dan workshop.
Menurut Sulastriani, tahap persiapan pelaksanaan telah mencapai 75 persen. Rapat bersama kabupaten/kota juga sudah dilaksanakan, dan saat ini sudah memasuki tahap pembinaan. “Setelah pembinaan selesai, tinggal teknis saja,” tukasnya.
Disinggung soal pembeda PKB tahun ini dengan yang sebelumnya, Sulastriani menyebutkan, secara umum materi tetap sama karena materi PKB sudah diatur dalam perda. Namun, perbedaannya tetap pada konten atau isi PKB itu sendiri.
“Pawai tahun ini lebih mengedepankan gerak dinamis. Peserta dari kabupaten/kota tidak lagi menggunakan mobil hias. Ini mengacu pada tema PKB tahun ini yakni Bayu Pramana. Sehingga, dalam garapannya, kabupaten/kota mengacu pada angin, seperti pindekan atau memainkan gempong penjor,” bebernya.
Perbedaan PKB tahun ini juga diterapkan pada parade. Salah satunya gong kebyar. Baik kategori dewasa, anak-anak, maupun wanita. Kalau dulu, gong kebyar dewasa dilengkapi dengan fragmentari, tahun ini tidak lagi. “Fragmentari akan berpindah pada pagelaran kolosal berbasis kabupaten/kota. Gong kebyar pada tahun ini lebih ke sesolahan dan karawitan,” pungkasnya.
Editor : hakim dwi saputra