BALI EXPRESS, BANGLI - Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2019 tingkat SMP sudah berakhir. Masyarakat berbondong mendaftarkan putra-putri mereka ke SMP negeri yang diinginkan. Tak jarang dari mereka sampai protes ketika anaknya tidak diterima karena berbagai alasan.
Pemerintah menerapkan sistem zonasi. Salah satu yang menjadi ketentuan dalam penerimaan peserta didik. Sekolah dengan mengacu peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, memperhatikan radius tempat tinggal siswa dengan sekolah. Ini bertujuan agar pendidikan menjadi merata. Tidak ada istilah sekolah favorit dan nonfavorit. Semua ditentukan oleh radius.
Sekolah swasta pun mendapat berkah. Seperti di SMP Madia Widya Dharma di Desa Suter, Kecamatan Kintamani, Bangli. Pendaftar di sekolah ini mencapai puluhan anak.
Salah seorang pendaftar asal Desa Abang Songan, Kintamani, Ni Nengah Retig mengaku memilih menyekolahkan anaknya, Ni Putu Reza Pramita, 12, di sekolah terdekat karena alasan keamanan. Dari segi waktu juga efisien. Kalau ke sekolah negeri, maka anak-anak mereka harus menempuh jarak yang cukup jauh. Yakni sekitar 10 kilometer. Misalnya SMP Negeri 6 dan SMPN 1 Kintamani.
Dia mengaku waswas apabila anaknya sekolah ke Kintamani. Mau tidak mau, dia harus mengantar anaknya atau memberikan motor untuk dibawa menuju sekolah. "Terus terang mendengar ada zonasi, saya sudah sadar dulu. Saya dari jauh. Bersyukur juga. Lebih baik anak aman, sekolah dekat. Jadi pulang sekolah tidak lama-lama di luar rumah. Kan waktunya bisa dipakai istirahat," tutur Retig, Rabu (3/6).
Kepala SMP Madia Widya Dharma Suter, Made Purnamayasa bersyukur, sekolahnya masih diminati. Bahkan peminatnya mencapai 56 orang tahun ini. Kata Purnama, jumlah siswa di sekolahnya tak pernah menurun. Pendaftar selalu melonjak. "Kami buka sejak 20 sampai 28 Juni kemarin. Jumlahnya ya lumayan," kata kepala sekolah asal Desa Susut, Bangli.
Sekolah yang berlokasi di Banjar Suter, Desa Suter, ini didukung oleh warga dari tiga desa. Yakni Desa Suter, Abang Batudinding, dan Abang Songan. Tiga desa ini juga tergolong jauh dari sekolah negeri di Kecamatan Kintamani.
Jumlah siswa tahun ini meningkat. Tahun lalu total siswa mencapai 172 orang. Kini diprediksi meningkat seiring kemungkinan pendaftaran gelombang II masih dibuka hingga 6 Juli 2019. "Yang sudah tamat sebanyak 44 orang. Kalau dihitung siswa baru 56 orang, jelas menjadi bertambah," imbuhnya.
Purnamayasa menuturkan, orangtua siswa memang memilih untuk sekolah di SMP terdekat saja. Di samping itu, kata Pur, SMP Madia Widya sudah punya fasilitas lengkap. Untuk ujian nasional berbasis komputer (UNBK), sekolah yang berdiri pada 2001 ini mampu menyelenggarakannya secara mandiri. "Jadi kami bersyukur. Orangtua siswa berorientasi sesuai keadaan dan kebutuhan," pungkasnya.
Editor : I Putu Suyatra