Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Spesialis Ogoh-ogoh Anatomi Tubuh, Angkat Tema Raja Buduh

Nyoman Suarna • Senin, 10 Februari 2020 | 03:50 WIB
Spesialis Ogoh-ogoh Anatomi Tubuh, Angkat Tema Raja Buduh
Spesialis Ogoh-ogoh Anatomi Tubuh, Angkat Tema Raja Buduh


GIANYAR, BALI EXPRESS – Meski hari raya Nyepi masih jauh, sekitar dua bulan lagi, pembuatan ogoh-ogoh di sejumlah tempat sudah dimulai.  Hal ini terkait dengan lomba atau parade yang digelar di masing-masing wilayah. Terkait dengan itu, masing-masing sekaa teruna berupaya mencari ide cemerlang untuk diekspresikan dalam bentuk ogoh-ogoh.


Sekaa Teruna Sentana Luhur, Banjar Kelodan, Desa/Kecamatan Tampaksiring, Gianyar, misalnya, sejak tahun 2015 sudah memulai membuat ogoh-ogoh yang berukuran jumbo dan menonjolkan anatomi tubuh. Saat ini pun mereka sudah memulai proses pembuatan ogoh-ogoh yang diberikan nama “Raja Buduh”.


Arsitek ogoh-ogoh spesialias anatomi tubuh Ida Bagus Nyoman Surya Wigenam, S.Sn menjelaskan, ia sudah mulai membuat ogoh-ogoh sejak duduk di bangku kelas 5 SD. Namun waktu itu masih ogoh-ogoh pribadi dan untuk anak-anak. Sedangkan untuk ogoh-ogoh yang ada di banjar, pemuda 28 tahun tersebut mengaku baru mengambilnya sejak tahun 2015 lalu.


“Kalau di banjar sejak tahun 2015 saya buat bersama anggota STT. Sejak itu saya lebih menonjolkan anatominya. Karena semua ogoh-ogoh saya kira harus ada bagian anatominya. Rata-rata ada yang buat ingin menonjolkan anatomi, tapi kadang dikejar waktu sehingga sekedar saja. Namun kami di sini lebih menonjolkan bagian anatominya, mengingat ogoh-ogoh kan melambangkan bhuta kala sehingga harus tampil seram,” jelasnya saat ditemui Minggu (9/2).


Pria alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar tersebut mempaparkan,dari 2015 lalu terdapat enam karya yang sudah dibuatnya. Berawal dari ogoh-ogoh tanpa judul, 2016 ogoh-ogoh bernama Anca Srawa, 2017 ogoh-ogoh seorang prajurit, 2018 ogoh-ogoh kala-kalai,  2019 ogogh-ogoh Dugra, dan untuk tahun 2020 ini ia tengah membuat ogoh-ogoh bernama Raja Buduh.


“Untuk Raja Buduh sebenarnya tahun lalu sudah ada ancang-ancang. Karena saya belum pernah buat ogoh-ogoh perempuan, maka dibuatlah tahun lalu ogoh-ogoh Durga. Namun tahun ini dibuat Raja Buduh. Entah kenapa, momennya sangat tepat, dan saya tidak ada sama sekali untuk menyinggung tokoh atau siapapun,” ungkap pria yang juga ketua STT Sentana Luhur tersebut.


Gusman Surya juga menyampaikan, ia tidak mengedepankan sinopsis dalam ogoh-ogoh yang dibuatnya. Namun lebih menonjolkan visualisasi, karena ogoh-ogoh terlihat seram jika visualiasinya digarap secara serius. Tetapi alangkah lebih bagus jika dilengkapi dengan sinopsis. “Tapi kebanyakan orang lebih senang melihat bentuk dan wajah ogoh-ogoh daripada sinopsisnya,” beber dia.


Pria dari Gria Ageng Kelodan Manuaba, Tampaksiring itu mengaku, sejak tahun 2015 lalu karyanya paling pendek 5 meter. Sedangkan untuk Raja Buduh tahun ini dikatakan mencapai 8 meter dengan volume terbesar dari tahun-tahun sebelumnya. Diungkapkan memiliki tinggi 8 meter, panjang 4 meter dan beratnya mencapai 2 ton.


“Raja Buduh ini saya bikin dengan gaya duduk di singgasana, karena raja itu kan memang seperti itu gayanya. Raja berarti seorang tokoh yang dipercayai rakyat, sedangkan buduh berarti gila. Gila yang saya maksudkan adalah gila terhadap kekuasaan, dan saat menjadi raja, ia pun lupa dengan tugas dan kewajiban,” ungkapnya.


Lanjut Gusman Surya, bahan yang dipergunakan ogoh-ogoh adalah besi, anyaman bambu dan kertas. Ketiga bahan dasar itu merupakan bahan yang sering digunakannya dalam proses membuat ogoh-ogoh. “Sebenarnya tahun lalu sekitar bulan Agustus 2019 sudah saya posting di media sosial tentang pembuatan Raja Buduh ini, hanya saja waktu itu baru klue saja,” imbuhnya.


Disinggung berapa lama proses pembuatannya, ia menyampaikan rata-rata mencapai 1,5 bulan. Khusus untuk tahun ini, ia mengambil dua bulan karena terbentur dengan piodala dan perayaan Galungan dan Kuningan. Dikatakan, proses pembutan ogoh-ogoh gaya anatomi tersebut sama dengan ogoh-ogoh di tempat lain. Hanya saja ia mengerjakannya dari dasar, dilanjutkan dibentuk saat finishing.


“Biasanya kan banyak yang membuat ogoh-ogoh dimulai dari anyaman bamboo, dibentuk rapi, tetapi saat akhir-akhir malah tidak mengedepankan anatominya. Nah, kami balikkan itu. Dari awal kami bentuk bakalan saja, alias biasa-biasa. Menuju finishing baru kami kedepankan anatominya. Begitu juga dengan sketnya, kami hanya buat garis saja dari pada skeet yang seram, takutnya kalau tidak sesuai ketika sudah jadi. Istilahnya, ekspetasi berbeda dengan realitanya,” tandas pria kelahiran 23 September 1991 ini.


Gusman Surya menambahkan, bahan yang dipergunakan terdiri atas bambu sebanyak 50 batang, sebanyak 300 sisitan bambu, dan menghabiskan ulatan klakat sebanyak 200 buah. Sedangkan kendala yang dihadapinya, hanya terbentur dengan waktu anggota STT, karena banyak yang kerja. “Sehingga kami siasati membuat ogoh-ogoh pada malam harinya, kadang sampai pagi. Tergantung situasi saja, mengingat jumlah anggota STT kami hanya 50 orang,” tandasnya.

Editor : Nyoman Suarna
#gianyar #ogoh-ogoh #tampaksiring