DENPASAR, BALI EXPRESS –Banjar Tainsiat, Denpasar menjadi salah satu barometer ogoh-ogoh di Denpasar bahkan Bali. Ogoh-ogoh yang ditampilkan selalu fenomenal. Tidak hanya berukuran jumbo, tetapi juga kreatif dan artistic. Perpaduan seni dan teknologi robotic juga menjadi andalan, sehingga ogoh-ogoh Banjar Tainsiat selalu ditunggu penonton.
Beberapa garapannya yang mampu membius penonton yakni ogoh-ogoh Bademas (2016), Sampian Mas (2017), Sang Hyang Aji Ratu Sumedang (2018), dan Kumbakarna (2019). Tak heran, Banjar Tainsiat pun selalu diserbu oleh masyarakat yang penasaran dan ingin menyaksikan langsung kehebatan ogoh-ogoh banjar tersebut.
Berbeda dengan tahun lalu yang nyaris kehabisan waktu penggarapan, kali ini rancang bangun ogoh-ogoh di Banjar Taensiat sudah berdiri. Senin (10/2), bagian kerangka sudah terlihat dibalut anyaman bamboo.
Konseptor ogoh-ogoh Banjar Taensiat, Komang Gde Sentana Putra yang akrab disapa Kedux Garage mengaku masih menggunakan konsep robotic seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun kali ini ia mengangkat judul Tedung Agung yang terinspirasi dari konsep payung Bali.
Ogoh-ogoh ini telah digarap sejak Januari lalu. Progresnya sudah mencapai 30 persen. Saat ditemui di rumahnya, Kedux menjelaskan, pemilihan konsep Tedung Agung terinpirasi dari cuaca di Bali yang tidak menentu. Kadang panas, kadang dingin. Saat musim itu pula orang-orang dapat menggunakan payung. Berawal dari fenomena itu, maka muncullah ide untuk membuat ogoh-ogoh dengan konsep Tedung Agung.
“Payung itu kan sifatnya sebagai pelindung. Sebagai peneduh. Saat cuaca dingin atau panas, orang-orang juga menggunakan itu. Dari situ saya berpikir, payung sepertinya bisa dijadikan bahan untuk garapan ogoh-ogoh,” aku Kedux saat diwawancarai Koran Bali Express, Senin (10/2).
Kedux mengatakan, ogoh-ogoh yang ditarget selesai tanggal 10 Maret mendatang ini diperkirakan menelan biaya hingga Rp 100 juta. Anggarannya pun didapat dari penggalangan dana melalui merchandise “Kesanga”. Ogoh-ogoh yang tingginya mencapai delapan meter ini masih menggunakan system robotik. “Masih sama seperti tahu sebelumnya pakai robotic. Alasannya bukan ingin membuat bergerak. Tapi di jalan kan banyak kabel-kabel yang melintang dan pohon-pohon juga. Bergeraknya dibuat untuk menghindari itu. Geraknya memang dibuat saat dibutuhkan saja,” tambahnya.
Setiap tahunnya Kedux selalu memunculkan garapan-garapan baru dengan ide-ide segar yang dituangkan dalam sebuah karya. Ia pun jarang mengangkat cerita-cerita yang sudah ada. Ia dan tim lebih tertarik menciptakan cerita baru, seperti garapannya tahun ini. Dengan jargon Asah Udeg, ia bersama tim berusaha memberikan yang terbaik lewat garapannya. Namun di sisi lain, dalam menciptakan karyanya tak jarang ia menemui kendala-kendala. Salah satunya penyamaan persepsi dari para penggarap. Namun komunikasi yang dibangun dengan baik, mampu mengatasi kendala itu.
Editor : Nyoman Suarna