GIANYAR, BALI EXPRESS – Untuk mempertahankan hidup di tengah pandemi Covid -9, Putu Wida Arsanti yang dulunya bekerja sebagai terapis spa di Ubud, kini banting stir menjual jamu kunyit. Awal perempuan asal Banjar Pengosekan Kaja, Desa Mas, Kecamatan Ubud membuat jamu, karena ingin menolong orang sakit. Namun di tengah wabah Covid -19, justru keahliannya ini menjadi sumber penghasilan untuk kebutuhan pokok sehari-hari.
“Karena tidak ada kesibukan, saya bikin jamu kunyit yang berkhasiat meningkatkan imunitas tubuh. Awalnya karena ingin menolong orang yang terkena sakit lambung. Saat itu saya kasi jamu kunyit. Karena saya juga bekerja menjadi spa terapis sehingga tidak fokus mengurus jamu. Setelah wabah ini, spa terapis kan tidak boleh buka, jadi saya fokus membuat jamu,” jelasnya Minggu (26/4).
Perempuan 46 tahun itu mengaku, dalam sehari hanya membuat 30 botol jamu kunyit. Kemudian ia jual di pasar dan di Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Mas. “Kalau di pasar saya nitip pada pedagang yang jualan di sana. Di BUMDes juga sama seperti itu. Sehari hanya 30 botol saya bikin. Kalau ada yang kurang, kadang mereka langsung cari ke rumah,” imbuhnya.
Wida mengaku, satu botol jamu kunyit dijual seharga Rp 8 ribu, sedangkan untuk kompensasi kepada para pedagang yang ia titip, diberi 20 persen. Dengan menjual jamu tersebut, ia mengaku, tidak hanya bisa membantu para pedagang, akan tetapi dapat juga membantu serta mengobati para konsumen yang tengah memerlukan jamu kunyit tersebut.
Disinggung soal bahan baku, Wida mengaku harus membeli ke Pasar Badung. Karena jenis kunyit yang dijadikannya jamu tersebut tidak ada di wilayah Ubud. “Biasanya saya beli induk kunyit di Pasar Badung. Selain kunyit juga diisi asam, gula aren dan madu. Kalau menggunakan kunyit saja, khasiatnya kurang,” paparnya.
Selain untuk meningkatkan kekebalan tubuh, menurut Wida, jamu kunyit juga berkhasiat untuk mengobati sakit maag, diabetes, hingga penambahan stamina. “Kadang kalau ada yang sakit, mereka membeli langsung ke rumah. Langsung saya bikin racikannya. Bahkan ada juga yang langsung minta dipijit jika pembelinya memang perlu,” tandas Wida.
Editor : Nyoman Suarna