Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ada Padi dan Tunjung Aneh di Pura Pucak Bukit Jati

Chairul Amri Simabur • Rabu, 1 Juli 2020 | 15:58 WIB
Ada Padi dan Tunjung Aneh di Pura Pucak Bukit Jati
Ada Padi dan Tunjung Aneh di Pura Pucak Bukit Jati

BANGLI, BALI EXPRESS - Pura Pucak Bukit Jati di Desa Adat Guliang Kawan, Bangli, punya daya tarik tersendiri bagi wisatawan, terutama yang suka spiritual. Selain arsitektur bangunannya yang indah, pura yang berada di atas bukit ini  menyimpan sejumlah cerita unik.



Pura Pucak Bukit Jati dipercaya sebagai pusatnya pura subak di Bangli.  Areal pura termasuk luas. Terdiri dari empat palebahan. Yaitu pucak bukit jati, utamaning mandala, Palinggih Peti Merana serta Palinggih Pangubengan yang menjadi satu palebahan dengan Melanting.


 


Pemangku Pura Pucak Bukit Jati, Jro Gede Mangku Sudana, tidak tahu persis kapan pura itu dibangun. Diakuinya hingga saat ini belum ditemukan bukti tertulis soal keberadaan pura. Ia sebatas memastikan bahwa sudah ada sejak zaman kerajaan dan sempat menjadi daya tarik wisata.  Banyak wisatawan berkunjung ke sana.


 


Berdasarkan cerita para tetuanya, disebutkan bahwa pura tersebut berkaitan dengan Pura Kehen, Bangli, dan Pura Goa Giri Putri di Nusa Penida, Klungkung. Hanya saja, hingga saat ini pihaknya belum menemukan catatan soal hubungan pura yang dimaksud.



Yang jelas, tiap karya di Pura Kehen, Ida Bhatara Pura Pucak Bukit Jati selalu lunga (pergi) ke sana. Sedangkan tiap piodalan di Pura Pucak Bukit Jati harus nunas tirta (mohon air suci) di Pura Goa Giri Putri untuk di Pucak Bukit Jati. “Katanya semuanya masih ada kaitan,” jelasnya.  


 


Piodalan dilaksanakan setiap enam bulan, bertepatan dengan Hari Raya Kuningan.  Sedangkan Usaba digelar setahun sekali, pada Purnama sasih Jiyestha. Pangempon pura berasal dari krama (warga) subak (petani sawah) di sejumlah subak di wilayah Bangli. Seperti Subak Tampa Daha di Bebalang, Subak Tanggahan di Desa Demulih, Subak Gede Taman Bali, dan Subak Gede Bunutin. “Pura ini dipercaya pusatnya Pura Subak di Bangli,” ungkap pria berusia 46 tahun itu.


 


Dikatakan Jro Gede asal Desa Bunutin, Bangli itu, ada sejumlah keunikan di pura itu. Salah satunya soal keberadaan sebuah tempat mirip kolam yang disebut dengan Telaga Mas (Kolam Emas) yang berada di utamaning mandala. Telaga Mas berukuran sekitar 60 sentimeter kali 1,5 meter tersebut berisi air, ditumbuhi satu rumpun tanaman padi. Konon, padi yang sudah ada sejak zaman dahulu itu, tidak pernah mati. Terus berbuah meskipun musim kemarau, air telaga surut.


 


Ia mengaku pernah menanam padi di sana, tapi tidak mau tumbuh. Berbeda dengan satu rumpun padi yang sudah ada itu. Tanpa dirawat tetap hidup. “Pertumbuhan padi ini menjadi tanda kesuburan padi petani di Bangli,” jelas Jro Gede.



Pria yang sudah ngayah sejak sekitar 10 tahun lalu itu, menerangkan, jika padi tersebut tumbuhnya kurang bagus, berarti banyak petani di Bangli gagal panen. Sebaliknya, ketika tumbuhnya subur, maka secara umum petani bisa tersenyum dengan hasil panennya. “Itu kepercayaan ya,” ujarnya.


 


Tak hanya padi yang menjadi tanda kesuburan tanaman. Demikian halnya dengan bunga Tunjung (Lotus)  yang tumbuh di telaga tersebut. Bunga Tunjung kadang merah, putih, dan biru. “Merah, merah saja. Kalau putih, putih saja. Begitu juga dengan biru. Tidak pernah bunganya bercampur,” tutur Jro Gede.


 


Jika bunga tunjung warnanya merah, lanjutnya, menunjukkan banyak petani gagal panen karena berbagai penyebab. Ketika warnanya putih, artinya panen bagus. Sedangkan biru menandakan panen biasa saja. “Sekarang tidak ada bunganya. Biasanya berbunga jelang Usaba,” ujar Jro Gede yang mengaku sempat melihat air telaga surut.


Nah, ketika airnya surut, Jro Gede pernah  langsung mengisi airnya. Ternyata, airnya tidak bertahan lama. Justru saat dibiarkan, telaga terisi air dengan sendirinya. “Karena tidak tahu, begitu saya lihat telaganya tidak berisi air, hanya beteg (lembab), saya isikan air. Eh ternyata airnya seperti kesedot,” kisah pria asal Desa Bunutin, Bangli itu.


 

Editor : Chairul Amri Simabur
#bangli #pura