Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mohon Kesuburan dan Nerang di Peti Merana dan Melanting

I Komang Gede Doktrinaya • Rabu, 1 Juli 2020 | 16:06 WIB
Mohon Kesuburan dan Nerang di Peti Merana dan Melanting
Mohon Kesuburan dan Nerang di Peti Merana dan Melanting

BANGLI, BALI EXPRESS -Umat yang nangkil (datang ) ke Pura Pucak Bukit Jati di Desa Adat Guliang Kawan, tidak sebatas pangemponnya saja. Banyak yang datag dari luar, karena diyakini sebagai pusatnya Pura Subak di Bangli. 


Pangempon  yang nangkil ke pura, tidak hanya saat piodalan atau Usaba. Banyak juga datang di luar upacara rutin tersebut. Khususnya nangkil ke Palinggih Peti Merana maupun Palinggih Pangubengan dan Melanting, yang merupakan bangian dari Pura Pucak Bukit Jati.


Mereka yang nangkil ke Palinggih Peti Merana kebanyakan petani yang gagal panen akibat tanamannya diserang hama dan sudah tidak bisa ditangani secara sekala, misalnya dengan pemakaian obat-obatan pembasmi hama atau upaya lainnya.


Pamedek yang nangkil  cukup ngaturang bhakti asoroh jangkep, ajengan takilan.  Ditambah belalang, capung atau pisang mas. Termasuk ngaturang banten lain di palinggih yang berada di kompleks Pura Pucak Bukit Jati.  “Kalau ada mau nunas di  Palinggih Peti Merana biasanya menghubungi saya. Tidak hanya petani padi. Petani subak abian yang tanamannya rusak, juga nunas ke sini,” jelas Pemangku Pura Pucak Jati, Jro Gede Mangku Sudana, akhir pekan kemarin.  Syukurlah setelah nunas keselamatan itu, lanjutnya, petani bisa tersenyum melihat tanamannya.


Diakuinya,  selain petani, pamedek yang datang ternyata juga banyak  pedagang. Mereka mohon kelancaran dalam berjualan. Nunasnya di Palinggih Melanting. Banyak percaya bahwa yang berstana sangat pemurah.  “Mereka yang datang itu biasanya yang baru memulai berjualan,” terangnya. 


Pada Palinggih tersebut, lanjutnya,  juga merupakan tempat Nerang (memohon agar tidak turun hujan). Terlihat sebuah paso tanah liat berukuran besar di sana. Paso tersebut merupakan perlengkapan Nerang. Selain paso, sarana lainnya adalah kayu bakar. Kayu bakarnya khusus patahan pohon besar yang tumbuh di areal Palinggih Melanting dan Pangubengan. Warga yang mohon agar tidak hujan, cukup ngaturang banten pejati dan dipuput oleh Jro Gede. “Itu saja bantennya. Lalu saya nunasang biar tidak hujan di tempat warga yang ada upacara,” tutur pria asali Desa Bunutin, Bangli ini.


Pura tersebut menjadi tempat Nerang sudah berlangsung secara turun temurun. Jro Gede tak perlu belajar sebagaimana juru terang pada umumnya. Ia sebatas membantu warga memohon agar tidak hujan. Sehingga upacaranya berjalan lancar. Sejauh ini, kata dia, yang mohon Nerang sebatas warga wilayah  Desa Adat Guliang Kawan. Belum pernah dari desa jauh dari pura. “Kalau saya misalnya diundang Nerang di tempat lain, saya tidak bisa. Saya cuma bisa memohon di pura ini,” tandas mantan kondektur bus tersebut.


 

Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#bangli