Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pembuat Bade dari Bebandem Banting Setir, Bikin Layangan Celepuk

Nyoman Suarna • Jumat, 3 Juli 2020 | 00:45 WIB
Pembuat Bade dari Bebandem Banting Setir, Bikin Layangan Celepuk
Pembuat Bade dari Bebandem Banting Setir, Bikin Layangan Celepuk


AMLAPURA, BALI EXPRESS – Anak-anak di Karangasem mulai berlomba menaikkan layang-layang aneka rupa sejak beberapa waktu terakhir. Hobi ini jadi pengisi waktu luang yang mengasyikan, terutama saat libur sekolah di tengah pandemi.



Momen itu juga dimanfaatkan Ida Ketut Santosa, seniman asal Desa Bebandem, Kecamatan Bebandem. Dia menerima jasa lukis/mewarnai layang-layang. Gambarnya beragam, mulai motif aneka burung, celuluk, dan ragam lainnya.



Guratan tangan Ida Ketut Santosa membuat tampilan layang-layang lebih mantap dan menarik dilihat. Peminatnya pun makin banyak. Alhasil, Ketut menerima banyak pesanan sejak dua pekan lalu.



Pria 56 tahun itu sudah dua bulan istirahat dari rutinitas. Sebelum melukis layangan, pekerjaan utamanya adalah membuat bade atau wadah untuk upacara ngaben sejak 1994. "Basic saya memang seni rupa, bahkan otodidak. Kebetulan musim layangan jadi saya coba terima order dari pada nganggur," tutur Ida Ketut Santosa, Kamis (2/7).



Sejak pandemi, larangan untuk berkerumun, mengadakan keramaian, atau melibatkan banyak orang membuat pesanan sarana atau perlengkapan ngaben tidak ada. Pria yang juga jadi relawan kemanusiaan di salah satu organisasi ini akhirnya menganggur dua bulan.



Dia mengatakan, pemuda di Gumi Lahar sedang gandrung memainkan layang-layang. Layangan bergambar celepuk (burung hantu) dan celuluk jadi tren. "Mereka sudah tahu saya bikin gambar di layangan. Iseng-iseng ada saja (pesanan). Lumayan," ujarnya sambil mewarnai salah satu pesanan di studionya, Ganesha.



Pria asli Banjar Desa Tengah, Desa Bebandem itu mengaku kewalahan menerima pesanan. Proses pewarnaan satu layangan butuh waktu paling lama tiga hari tergantung kesulitan. Namun terkadang dia tolak jika terlalu rumit karena berpengaruh terhadap harga. Jika motif yang biasa, bisa tuntas tiga sampai lima layangan sehari.



Saat ditemui Bali Express di studionya, Ida Ketut Santosa terlihat sangat telaten mewarnai sketsa. Gambar menjadi kian apik dan tampak hidup. Tangannya cekatan seperti terkesan tak butuh waktu lama untuk menuntaskan pewarnaan itu.



Selain melukis layangan, ayah empat anak itu juga menerima pembuatan layangan plus pewarnaan. Harganya tergantung ukuran. Panjang layangan 1 meter hingga 1,5 meter dihargai Rp 150-200 ribu. Jika ukurannya 2 meter dihargai Rp 250 ribu. Jika panjang layangan kurang 1 meter biasanya langsung diwarnai.



Pemesan sebagian besar pemuda dari Kecamatan Bebandem, seperti Desa Bebandem, Sibetan, Bungaya, Desa Buana Giri, serta Jungutan. Ada juga beberapa dari Kecamatan Selat datang untuk melukis layangan.



Santosa mengakui, pekerjaan ini hanya sampingan selama rehat sementara. Jika situasi normal dan pesanan bade mulai masuk, dia akan fokus dengan pekerjaan utamanya. Termasuk memanggil kembali para pekerjanya yang dirumahkan sementara. "Kalau layangan kan musim. Otomatis fokus bikin bade," pungkasnya.



Editor : Nyoman Suarna