Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Balai Arkeologi Bali Cek Temuan Benda Purbakala di Belimbing

I Komang Gede Doktrinaya • Kamis, 9 Juli 2020 | 00:29 WIB
Balai Arkeologi Bali Cek Temuan Benda Purbakala di Belimbing
Balai Arkeologi Bali Cek Temuan Benda Purbakala di Belimbing

TABANAN, BALI EXPRESS - Balai Arkeologi Bali bersama Dinas Kebudayaan Kabupaten Tabanan mengecek temuan benda-benda purbakala di Banjar Beniti, Desa Belimbing, Kecamatan Pupuan, Tabanan, Selasa (7/7). Perwakilan Balai Arkeologi Bali dan Dinas Kebudayaan Tabanan didampingi Perbekel Desa Belimbing, BPD Desa Belimbing, Kepala Kewilayahan setempat, serta tokoh masyarakat yang juga anggota DPRD Tabanan I Gusti Nyoman Omardani.

Menurut Perbekel Desa Belimbing I Nyoman Surianto, Balai Arkeologi dan Dinas Kebudayaan Tabanan kembali melakukan pengecekan terhadap situs yang diduga benteng, guci, gerabah, manik-manik, dan uang kepeng yang ditemukan  masyarakat setempat. "Temuan-temuan itu diukur, kemudian difoto, sementara dengan metal detector belum," ujarnya.

Ditambahkannya, saat ini benda-benda tersebut disimpan di rumah-rumah penduduk yang menemukan. Ia berharap benda-benda tersebut bisa menjadi situs budaya atau cagar budaya yang bisa menjadi daya tarik wisata, sehingga bisa memberikan manfaat bagi penduduk lokal.

Ditambahkan oleh tokoh masyarakat Desa Belimbing sekaligus anggota DPRD Tabanan, I Gusti Nyoman Omardani, selain benteng, guci, gerabah, dan uang kepeng, satu benda yang menarik perhatiannya adalah adanya Tajak, sejenis alat pertanian yang diprediksi sudah ada sejak zaman sebelum masehi. "Tajak ini digunakan untuk menghaluskan pematang sawah, umurnya diperkirakan di atas 2000 tahun. Dan, ada juga pecahan keramik yang motifnya diperkirakan ada di zaman Dinasti Song atau Yuan," paparnya.

Ia pun berharap Balai Arkeologi untuk menindaklanjuti temuan ini sampai ada kesimpulan yang jelas, terkait peradaban tua yang ada di Desa Belimbing. Apalagi, menurutnya, banyak faktor pendukung untuk melakukan kajian dan penelitian. "Karena ini juga sebagai sebuah kekayaan budaya yang dimiliki Tabanan yang bahkan mungkin satu-satunya," lanjutnya.

Kata dia, jika dilihat hasil temuan di lapangan, wilayah ini sudah sangat maju, baik dari bukti-bukti temuan gerabah-gerabah Cina yg menandakan ada sebuah hubungan langsung berupa perdagangan. Apalagi peradaban di wilayah tersebut diduga kuat berkaitan  dari zaman sebelum Masehi sampai Zaman Dinasti Song atau Yuan. "Dan, ada kebanggaan bahwa nenek moyang kita sudah demikian maju budayanya," sambung Omardani.

Namun, intinya pihaknya ingin menguak peradaban yang selama ini terpendam di Desa Belimbing. Sehingga pihaknya sangat mendukung dilakukan penelitian terkait hal tersebut. "Jadi, hasil pengecekan akan dirapatkan oleh Balai Arkeologi untuk menentukan langkah selanjutnya, dan kami tentunya sangat mendukung penelitian ini," pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Balai Arkeologi Wilayah Kerja Bali-NTB-NTT, I Gusti Made Suarbawa, menjelaskan, pengecekan dilakukan untuk menindaklanjuti surat dari Dinas Kebudayaan Tabanan yang meneruskan surat permohonan Perbekel Belimbing mengenai temuan benda-benda purbakala tersebut. Didampingi oleh peneliti dan staf teknis, Suarbawa pun mengecek sejumlah benda yang diduga oleh masyarakat setempat merupakan peninggalan arkeologi.

Adapun benda-benda dan objek tersebut kebanyakan ditemukan secara tidak sengaja oleh masyarakat setempat. "Ada berbagai macam artefak, fragmen, kemudian keramik, uang kepeng, batu ulekan, batu datar, ada juga beberapa jenis tajak dan batu permata. Serta susunan batu padas yang diduga benteng oleh masyarakat setempat," bebernya.

Susunan batu padas tersebut berada di lokasi yang disebut Munduk Tanah Putih oleh masyarakat dan memang susunananya mengikuti alur munduk, cukup panjang dan lebar yang  terlihat sudah ada campur tangan manusia. "Apakah ini memang benteng, itu perlu penelitian lebih lanjut. Tapi, cerita yang berkembang di masyarakat di sana adalah benteng," imbuhnya.

Sayangnya, pihaknya belum menemukan sampel arang dari batu padas tersebut untuk bisa dicocokkan. Diantaranya untuk dicocokkan dengan batu padas kuno yang ada di Munduk Andong. Namun, untuk benda seperti uang kepeng, diprediksi sudah berumur cukup tua, yakni sudah ada sejak dari abad 10 hingga 18 Masehi, dan berasal dari Dinasti Song, Ming, hingga Cing. "Sayangnya uang kepeng dalam kondisi berkarat, sehingga kita belum bisa menganalisis. Yang jelas uang kepeng ini bisa saja menandakan adanya kontak dagang masyarakat dan berorientasi melalui pantai utara," tegasnya.

Atas pengecekan tersebut, pihaknya pun kini akan melakukan penelitian lebih lanjut dimana benda-benda tersebut tetap disimpan di rumah masyarakat yang menemukan. "Temuan itu masih dibawa masyarakat karena kesadaran masyarakat Desa Belimbing cukup tinggi, aspek pelestarian atau penghormatan mereka terhadap benda-benda itu sangat responsif, bahkan saat menemukan tidak begitu saja berani mereka ambil. Jadi untuk saat ini akan kita teliti lebih lanjut," tandasnya.  

Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#tabanan