Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Terbuat dari Sampah, Lukisan Primitif Wiradana Jadi Seni Instalasi

Nyoman Suarna • Kamis, 13 Agustus 2020 | 01:55 WIB
Terbuat dari Sampah, Lukisan Primitif Wiradana Jadi Seni Instalasi
Terbuat dari Sampah, Lukisan Primitif Wiradana Jadi Seni Instalasi

DENPASAR, BALI EXPRESS – Sebuah karya seni lukis biasanya dituangkan di media kanvas atau kertas. Namun apa jadinya bila lukisan tersebut dibuat di sebidang sampah, seperti dilakukan Made Wiradana?


Made Wiradana adalah seorang seniman lukis di Denpasar yang melirik tumpukan sampah menjadi sebuah karya seni. Sampah yang dimaksud adalah serpihan plafon dari sebuah bangunan kontrakan. Melihat tumpukan plafon yang berserakan, Wiradana mencoba merespon bidang demi bidang serpihan itu dengan goresan cat. Dengan konsep lukisan primitifnya, alhasil serpihan-serpihan itu memiliki nilai seni serta bentuk yang unik. “Kemarin saya lihat banyak plafon berserakan karena ada orang bongkar rumah. Lalu saya perhatikan, dan bisa digunakan sebagai media. Daripada jadi sampah, saya kumpulin semua,” ujarnya saat diwawancarai di rumahnya, Rabu (12/8).


Wiradana pun mengaku telah mengerjakan lukisan-lukisan dengan barang bekas itu sejak seminggu lalu. Dari bentuk-bentuk yang dihasilkan melalui goresan kuas dan catnya, ia memasang lukisan tersebut di tembok rumahnya. Ia pun menganggap serpihan-serpihan plafon itu adalah karya instalasi yang dapat memperunik design rumahnya. “Sudah dari seminggu saya kumpulin lalu saya respon dari bentuk-bentuk itu, saya lukis yang unik. Lalu dipasang. Saya anggap ini karya instalasi. Setelah dilihat-lihat kok menarik, jadi saya ingin pasang di seluruh tembok rumah. Karena banyak bekas-bekas plafon itu saya lukis, pemasangannya dibantu tukang,” tambahnya.


Jika diperhatikan, seluruh lukisan yang dituangkan dalam serpihan plafon tersebut memiliki gaya lukis bebas namun mengedepankan aksen primitif. “Semua lukisan dan bentuk-bentuknya saya angkat konsep primitif. Karena primitif itu kan bentuknya global, bisa dicerna siapa saja. Saya suka primitive karena roh dan karakternya kuat. Dan cikal bakal lukisan modern, ya primitif,” sambungnya,


Pria yang menggeluti dunia lukis sejak tahun 1986 ini pun terinspirasi dari hasil penelitiannya di Goa Liang-liang semasa kuliah. Sejak saat itu ia tertarik untuk bertahan pada konsep primitif di setiap lukisan yang dihasilkannya. “Semua lukisan saya lebih menonjol ke primitif. Karena waktu kuliah, saya meneliti lukisan di goa liang-liang. Di sana saya melihat corak lukisan-lukisan seperti doa untuk hari esok. Lalu saya tertarik dengan spiritnya itu. Saya perkenalkan lukisan dari goa itu, dan diapresiasi penikmat,” ujarnya.


Kesederhanaan konsep primitif membuat Wiradana tidak memerlukan tenaga ekstra untuk menghasilkan suatu karya. Sebab objek-objek yang dituangkan dalam lukisn itu tak selalu sama persis dengan objek aslinya. “Selain itu, primitif itu sederhana, tanpa harus persis, naif. Karya itu tidak harus mengikuti ruang dan volume. Mengikuti naluri saja. Tapi feelnya dapat. Dari sana primitif itu punya jiwa seni yang unik,” tambahnya.


Kreativitasnya untuk membuat instalasi rumah dari barang bekas itu pun didukung penuh oleh istri dan anak-anaknya. Bahkan tak jarang anak-anaknya turut membantu Wira dalam proses melukis. Wiradana pun merencanakan untuk memenuhi seluruh tembok rumahnya. “Kalau dipasang memenuhi rumah bisa sampai sepuluh ribu keping mungkin habis,” kata dia.


Selain memasang serpihan plafon sebagai instalasi rumah, tembok pagar rumahnya juga dipenuhi dengan lukisan-lukisan hasil karyanya. Di sisi kanan pagar rumah terdapat lukisan beberapa maestro seperti Van Gogh, Picasso, Jean-Michel Basquat, Haji Widayat hingga Mark Cagar. Deretan tokoh  tersebut merupakan idola dari Wiradana. Ia pun berharap di kemudian hari ia dapat menjadi seniman lukis kelas dunia.


Sementara di sisi kiri pagar rumah terdapat lukisan ayam jago. Di atas pagar pun terdapat instalagi ayam jago yang dibuat dari kawat. Untuk objek ini, kata Wiradana, karena dia menyukai ayam. Sebab 6 tahun lalu dia sempat menyukai permainan sabung ayam (tajen). Namun saat ini sudah berhenti dan fokus pada dunia lukis. Untuk menghormati hasil dari tajen itu, ia pun melukis ayam sebagai wujud terima kasihnya.

Editor : Nyoman Suarna
#denpasar #sampah