AMLAPURA, BALI EXPRESS – Bank Indonesia telah merilis Uang Peringatan Kemerdekaan 75 Tahun Republik Indonesia (UPK75) dengan nominal Rp 75.000, Senin (17/8). Ini tentu saja hal yang menggembirakan buat masyarakat Bali, khususnya Karangasem karena motif kain tenun geringsing ada di uang edisi khusus tersebut.
Krama Desa Adat Tenganan Pegeringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem menilai ini sebagai penghormatan dan penghargaan yang patut disyukuri. Krama adat menyambut gembira dipilihnya motif kain geringsing dipasang pada bagian belakang uang pecahan Rp 75 ribu.
"Kain geringsing adalah kain yang disakralkan warga Tenganan Pegeringsingan. Ini warisan leluhur. Kami bangga dan bahagia. Yang lebih bangga tentu pendesain motif dan kain itu sendiri serta para leluhur," ungkap Perbekel Tenganan, I Ketut Sudiastika, Senin (17/8) malam.
Sudiastika menambahkan, kain geringsing adalah warisan leluhur yang sudah diakui secara nasional. Gambar yang digunakan di uang adalah kain geringsing bermotif lubeng yang disakralkan kerap dipakai saat ritual.
Kain yang menjadi ciri khas desa tua di Bali itu sudah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Nasional oleh KementErian Pendidikan dan Kebudayaan, pada 2015. Dia menginginkan, perajin kain geringsing yang berada dalam Komunitas Masyarakat Indikasi Geografis (MPIG), juga di luar kelompok juga menjadi antusias dengan ini.
Bagi masyarakat di Desa Adat Tenganan Pegeringsingan, kain geringsing merupakan simbol Desa Tenganan. Kain kebanggaan krama Adat Tenganan Pegeringsingan, dan dipakai saat mengelar upacara sakral dan disucikan warga sekitar.
Banyak filosofi dan makna yang tersirat dalam kain. Makna kain tersebut, "gering" artinya sakit dan "sing" artinya tidak. Dengan kata lain, kain geringsing diyakini sebagai kain penolak bala. Wajib hukumnya krama Tenganan memakai kain ini saat ritual sakral.
Editor : Nyoman Suarna