Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Desa Bengkel Buat Incinerator Tanpa Asap Atasi Sampah

I Komang Gede Doktrinaya • Sabtu, 19 September 2020 | 14:43 WIB
Desa Bengkel Buat Incinerator Tanpa Asap Atasi Sampah
Desa Bengkel Buat Incinerator Tanpa Asap Atasi Sampah

TABANAN, BALI EXPRESS  – Berawal dari diberhentikannya sementara pelayanan pengangkutan sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA) dari Desa Bengkel, Perbekel Desa Bengkel tak mau hanya menunggu dan berdiam diri. Berbagai solusi dicoba agar dapat  menangani sampah, dan akhirnya pilihan jatuh pada komposter sampah basah.


Perbekel Desa Bengkel, I Nyoman Wahya Biantara, mengatakan,  telah membuat pelatihan komposter sampah basah untuk sampah dapur yang dibantu rekan Gede Sinu Pradnyana 'Sleeper' dari Bali Rare Paduraksa, juga turut didukung Kadis Lingkungan Hidup Tabanan. Komposter ini nantinya akan digunakan untuk mengelola sampah organik sisa makanan atau masakan di dapur.


Dijelaskannya, setelah melalui proses fermentasi, sampah yang diolah melalui komposter tersebut menghasilkan berupa pupuk organik cair dan padat. Pupuk organik cairnya bisa dipanen setelah dua minggu, yang kemudian bisa digunakan untuk menyiram tanaman. "Hasilnya sekarang sudah ada 10 warga yang punya komposter dan kita pantau pemanfaatanya," ujarnya Jumat (18/9).


Ditambahkannya, jika jumlah tersebut merupakan awal yang baik, sehingga kedepannya ia ingin di masing-masing rumah tangga atau di setiap dapur ada satu komposter sampah basah. "Jadi, total ada sekitar 500 komposter yang diperlukan di Desa Bengkel," sambungnya.


Namun, kata dia, pihaknya juga harus mencari solusi untuk menangani sampah plastik, kertas dan residu. Dan, dalam jangka pendek, ia rasa Incenerator yang paling tepat untuk dicoba. Selanjutnya Biantara mencari referensi dan menonton beberapa video di youtube. 


Kemudian dibantu salah satu bengkel yang ada di desa milik I Made Suardana, ia pun mencoba membuat Incinerator. Satu unit prototipe Incinerator tersebut menghabiskan biaya sekitar Rp 1 juta sampai Rp 3 juta, yang biayanya dari kantong pribadinya. "Kebetulan bengkel ini memang sudah biasa buat mesin-mesin pertanian, jadi kemudian saya mencoba membuat Incinerator, alat pembakar sampah tanpa asap," paparnya.


Menurutnya, konsep alat tersebut sangat sederhana, yaitu menggabungkan kekuatan api, air, dan angin. Dengan cara dan teknik penggabungan yang tepat, maka Incinerator ini diharapkan dapat memiliki manfaat yang besar kedepannya.


Ia menyebutkan cara kerjanya adalah, sampah akan dibakar dalam sebuah drum, kemudian asap yang keluar dari drum rencananya akan difilter dengan karbonaktif (arang yang sudah di bakar dalam suhu tertentu) di tahap pertama. Lalu filter tahap kedua asap sisa dari filter pertama didestilasi menggunakan air. Harapannya asap yang disemprot air partikel debu yang halus akan terikat air.


Biantara menambahkan, penyempurnaan alat masih terus dilakukan. Saat ini kapasitas alat ini baru sekitar 60 kilogram sampah rumah tangga, sehingga kedepannya akan dibuat alat dengan kapasitas yang lebih besar untuk skala desa. Sehingga sampah-sampah residu yang berupa popok, pembalut, dan lainnya dapat dibakar dengan menggunakan alat tersebut.


"Kemarin kita baru uji coba destilasinya, dan berhasil mengurangi asap. Tapi masih ada asap yang bocor. Rencananya asap akan dihisap dulu dengan alat penghisap, baru kemudian difilter, semoga ini berhasil," tandasnya.


Apabila Incinerator tersebut telah siap, pihaknya berencana membuat Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) untuk pengelolaan sampah kedepan. Sehingga rabasan pohon, sampah plastik, kertas dan residu akan diolah di TPS3R, sedangkan sampah rumah tanggah diolah dengan komposter yang sudah ada di masing-masing rumah tangga. 




















































Editor : I Komang Gede Doktrinaya