Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Atasi Limbah, Penggiat Lingkungan Ubud Ajak Buat Biopori

I Komang Gede Doktrinaya • Senin, 2 November 2020 | 21:45 WIB
Atasi Limbah, Penggiat Lingkungan Ubud Ajak Buat Biopori
Atasi Limbah, Penggiat Lingkungan Ubud Ajak Buat Biopori



GIANYAR, BALI EXPRESS – Penggiat lingkungan asal Ubud,  Wayan Sudiarta, mengajak masyarakat untuk membuat biopori sebagai resapan. Upaya itu dilakukan untuk mengatasi air limbah yang ada di pekarangan rumah maupun tempat umum.


Terlebih memasuki musim penghujan, limpahan air, utamanya air rumah tangga terbuang keluar rumah tanpa diresap sedikitpun di pekarangan, sehingga meluber. Guna mengatasi madalah ini, 


pria asal Banjar Tengah, Desa Peliatan, Ubud ini, menjelaskan biopori merupakan salah satu solusi yang tepat.


Wayan Sudiarta menjelaskan, sampai saat ini solusi yang ramah lingkungan terhadap persoalan air limbah salah satunya dengan membuat biopori.


Disebutkannya, untuk pemukiman padat seperti di BTN, dengan tiga biopori kecil sudah cukup menanggulangi persoalan limbah air.


“Sesungguhnya ini murah, dengan tiga biopori kecil dan uang pengganti Rp 150 ribu sudah dipastikan memiliki biopori,” ungkapnya, Senin (2/11).


Jika ingin memasang biopori ukuran lebih besar, ia menyampaikan cukup merogoh kocek Rp 180 ribu. Disebutnya, jika ingin menangani sampah organik di rumah tangga, maka setidaknya dibutuhkan 10 sampai 15 lubang biopori.


“Ingat, sampah organik dicacah kecil, masukkan ke biopori. Bahkan, puntung rokok sebaiknya tidak masuk, apalagi plastik,” sambungnya.


Bagi warga yang ingin memasang sendiri, cukup menghubungi Biopori Bersahaja, dengan mengganti biaya produksi Rp 20 ribu ukuran kecil dan Rp 25 ukuran besar.


Dikatakannya, pemasangan biopori juga tidak boleh sembarangan, dimana harus mencari titik tangkap air dan lahan bukan bekas urug. “Biasanya sebelum memasang biopori, kami survei dulu. Agar pasangan biopori menjadi efektif,” terang Sudiarta.


Dalam menggalakkan pemasangan biopori dan sampah organik rumah tangga, Sudiarta besama komunitasnya telah melakukan berbagai pendekatan ke beberapa pihak. Mulai kepada pemerintah, tokoh masyarakat, dan pendekatan kepada hunian rumah padat.


“Animo masyarakat cukup tinggi, namun  masih banyak yang tercecer. Utamanya di pemukiman padat,” tegasnya.


Ditambahkannya, di pemukiman padat sangat membutuhkan biopori. Apalagi menurutnya penghuni di pemukiman padat lebih memilih menutup pekarangan dengan beton atau batu sikat.



 


Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#ubud