Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ida Bagus Tugur, Maestro Arsitektur Bali Berpulang

Nyoman Suarna • Rabu, 23 Desember 2020 | 02:31 WIB
Ida Bagus Tugur, Maestro Arsitektur Bali Berpulang
Ida Bagus Tugur, Maestro Arsitektur Bali Berpulang

DENPASAR, BALI EXPRESS - Jika Anda mengagumi kemegahan bangunan panggung terbuka Ardha Candra di Art Centre, Denpasar dan juga Monumen Bajra Sandhi di Renon, secara tidak langsung Anda mengagumi Ida Bagus Tugur. Ya, beliau adalah arsitek dari dua bangunan megah yang membuat decak kagum banyak orang, baik di dalam maupun luar negeri. Sayang, arsitek atau yang mendapat predikat undagi terbaik Bali ini telah berpulang.


Almarhum Ida Bagus Tugur berpulang meninggalkan karya yang tidak bisa dianggap remeh. Ida Bagus Tugur kelahiran 29 Mei 1926 di Geria Cucukan, Klungkung ini juga sempat mengarsiteki beberapa bangunan terkenal, baik di Bali maupun Indonesia, selain Arda Candra dan juga Bajra Sandhi.


Bangunan tempat suci di Pura Besakih, bangunan berarsitektur Bali di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) adalah beberapa karya monumental yang pernah digarap Ida Bagus Tugur.


Saat Bali Express (Jawa Pos Grup) mendatangi kediaman beliau di Lingkungan Banjar Pala Giri, Penatih, Denpasar, Selasa (22/12) siang, jenazah almarhum sudah dibawa ke Klungkung pukul 10.00 Wita. Di sana, hanya ditemui Wayan Arisanti serta Ni Made Cakri selaku pengayah keluarga almarhum Ida Bagus Tugur.


"Sudah ke Klungkung Pak, tadi pagi berangkat," ucap Made Cakri saat ditemui di depan pintu gerbang kediaman.


Didampingi kakak kandungnya, Made Cakri berkenan menceritakan keseharian dari Ida Bagus Tugur selama hidup.


"Ratu kakiang meninggal malam hari kemarin. Padahal pagi harinya, beliau masih segar bugar. Bahkan, sempat menyanyi sambil menikmati sarapannya," ungkap Wayan Arisanti diamini Made Cakri.


Menurut keduanya, almarhum Ida Bagus Tugur meninggal karena sakit dan memang sudah lanjut usia dengan umur 94 tahun. "Tidak pernah mengeluh sakit sama sekali. Makanya kami sangat kaget ketika beliau meninggal. Mungkin karena sudah usia," tambah Wayan Arisanti.


Kakak beradik yang sudah lama menjadi pengayah ini paham betul bagaimana karakter almarhum Ida Bagus Tugur. Meski di usia senja, diakui keduanya, almarhum tidak pernah mengeluh ataupun berteriak-teriak ketika meminta sesuatu. Bahkan, beberapa tahun lalu, almarhum masih sering melukis serta berkebun di kediamannya.


"Dulu orang tua kami yang jadi pengayah di sini. Sekarang kami. Sejak kecil sering diajak sama bapak ke sini bantu-bantu," tandas Made Cakri.

Editor : Nyoman Suarna
#denpasar