Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Lengkapi Dewa Yadnya, Wayang Lemah Disakralkan di Buleleng

I Komang Gede Doktrinaya • Senin, 18 Januari 2021 | 17:48 WIB
Lengkapi Dewa Yadnya, Wayang Lemah Disakralkan di Buleleng
Lengkapi Dewa Yadnya, Wayang Lemah Disakralkan di Buleleng

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Pertunjukan Wayang merupakan salah satu karya seni yang dipentaskan oleh seseorang yang disebut Dalang. Wayang bukan saja sekadar hiburan, tetapi juga  karya seni yang mengandung filsafat yang dalam. Bahkan, kerap dipentaskan jadi bagian dari upacara. Jadi, tidak melulu dipentaskan malam hari, karena ada wayang yang dipentaskan siang hari yang disebut dengan Wayang Lemah. 


Wayang Lemah merupakan salah satu wayang yang berkembang di Bali dan termasuk dalam tataran wayang yang disakralkan. Pementasan Wayang Lemah di Buleleng berbeda dengan di Bali Selatan. 


Di Buleleng, pementasan Wayang Lemah dipakai sebagai sebuah pamuput upacara yadnya, sementara di Bali Selatan pementasan Wayang Lemah cenderung dipentaskan sebagai wadah untuk mengasah kemahiran dalang. Seperti diungkapkan oleh Jro Dalang Gusti Made Aryana. 


“Kalau Wayang Lemah di Bali Selatan cenderung dilakukan oleh dalang dengan tataran baru latihan. Alasannya tidak ada yang menonton. Beda dengan Wayang Lemah di Bali Utara atau Buleleng," ujarnya, kemarin.


Di Bali Utara, lanjutnya, Wayang Lemah dilakukan saat upacara Dewa Yadnya. Wayang Lemah juga dilakukan oleh dalang yang sudah berpengalaman, karena kaitannya dengan upacara yang tingkatannya lebih tinggi,” jelasnya.


Wayang Lemah ini juga difungsikan sebagai pangruwat atau pembersihan. Dijelaskan pula Wayang Lemah ini salah satu wayang yang disakralkan, selain Wayang Sapuh Leger dan Wayang Sudhamala. Namun, ketiganya memiliki fungsai yang sama. 


Wayang Sapuh Leger dikenal sebagai yang paling angker dan biasanya digunakan untuk pembersihan kelahiran seseorang yang lahir pada Tumpek Wayang. Sementara Wayang Lemah dan Wayang Sudhamala memiliki fungsi sama dan lebin umum, seperti saat upacara Panca Yadnya. Wayang Lemah biasanya dipentaskan pada siang hari bergantung pada jenis yadnya yang diiringinya. 


Pementasan Wayang Lemah menggunakan kelir berupa benang tukelan bukan layar putih seperti Wayang Peteng. Benang ini direntangkan dengan disusun tiga yang berisi 11 uang kepeng dan diikatkan pada dua ranting dadap cabang tiga yang terpancang pada kedua belas ujung gedebong (batang pisang). Pentas Wayang Lemah juga tidak memakai lampu Blencong. 


“Wayang Lemah lebih sakral dari Wayang Peteng. Kalau Wayang Peteng lebih ke atraksi pertunjukan. Wayang Peteng menggunakan kelir sementara Wayang Lemah menggunakan benang yang disimbolkan sebagai langit. Sedangkan gedebong atau batang pisang sebagai pertiwi atau bumi. Sementara pencahayaan atau lampu atau yang disebut dengan Blencong pada pementasan wayang peteng adalah simbol Dewa Surya,” tambah Jro Dalang Aryana yang akrab disaap Dalang Sembroli.


Pertunjukkan Wayang Lemah menggunakan lakon yang disesuaikan dengan upacara yang dilaksanakan. Kalau misalkan pementasan wayang dilakukan pada upacara Dewa Yadnya, maka lakon yang digunakan adalah Kunti Yadnya, Marisuda Bumi, dan lainnya. 


Sedangkan pada upacara Bhuta Yadnya, maka lakon yang digunakan adalah Bima Dadi Caru, dan begitu juga upacara-upacara yang lainnya harus disesuaikan dengan prosesi upacara yang berlangsung.


Adapun Bebanten (sesaji) yang digunakan adalah Suci asoroh dengan guling itiknya. Selain itu, ada juga Ajuman Putih Kuning, Canang Gantal, Lenga-wangi Buratwangi, Daksina Gede serba empat, Sarma 8100 kepeng, Segehan Gede, Pedupaan, dan tetabuhan Arak Berem.


Bahan air suci sama dengan persediaan pada Wayang Sapuh Leger, dipuja setelah pementasan selesai, dipercikkan oleh pengacara yadnya atau oleh Ki Mangku Dalang sendiri kepada apa yang diupacarai. 


Apabila dalam rangkaian upacara Manusa Yadnya, Telu-Bulanan misalnya air suci dipercikkan kepada bayi yang diupacarai. Apabila dalam rangkaian Dewa Yadnya, Mlaspas Sanggar Pamerajan, Palinggih misalnya, air suci diarahkan kepada bangunan yang diplaspas itu.


Pertunjukan wayang ini membawakan lakon yang disesuaikan dengan jenis yadnya. Ketika difungsikan untuk mengiringi Dewa Yadnya, maka lakon yang dipentaskan mengambil dari cerita Dewa Ruci atau Mahabharata (Parwa). Sebagai misal Wana Parwa yang isinya mengandung ungkapan-ungkapan bahwa dewa-dewalah penegak kebenaran dan keadilan.


Apabila Wayang Lemah sebagai pengiring Manusa Yadnya, Pitra Yadnya, Bhuta Yadnya dan Resi Yadnya dicukilkan dari Mahabharata (Asta Dasa Parwa), Bhima Suarga dan Dewa Ruci.


Adapun makna dari sarana-sarana pewayangan dalam Wayang Lemah yakni gedebong pisang merupakan simbol pertiwi (tanah). kayu Dapdap merupakan simbol jiwa yang membuat manusia menjadi hidup.


Kayu Dapdap juga merupakan contoh tumbuh-tumbuhan yang mudah untuk hidup, jadi disini juga diharapkan agar kehidupan di bumi ini menjadi lebih mudah. 


Beras atau padi merupakan simbol Betari Sri, karena manusia tidak akan mungkin bisa hidup tanpa ada anugerah dari Betari Sri berupa beras. Uang Kepeng simbol Sang Hyang Sedana (Dewa uang), karena manusia dalam hidupnya sangat memerlukan uang untuk memenuhi kebutuhannya. 


Benang Tukelan merupakan simbol angkasa. Lintingan sumbu merupakan simbol Surya (matahari). Kropak wayang merupakan simbol bumi tempat manusia hidup. Sementara semua wayang yang ada di dalam kropak itu adalah simbol dari sifat dan watak tokoh manusia. 


Biasanya Wayang Lemah mengambil lakon yang dikutip dari sumber carita Mahabrata, Ramayana, mitologi dan kitab atau kekawin Jawa Kuno.



Editor : I Komang Gede Doktrinaya