Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Marak, Pesan Tawaran Kuota dan Hadiah Gratis, Ini Kata Diskominfos

I Putu Suyatra • Rabu, 27 Januari 2021 | 05:29 WIB
Marak, Pesan Tawaran Kuota dan Hadiah Gratis, Ini Kata Diskominfos
Marak, Pesan Tawaran Kuota dan Hadiah Gratis, Ini Kata Diskominfos


DENPASAR, BALI EXPRESS - Belakangan ini marak beredar pesan di aplikasi pesan WhatsApp yang menawarkan kuota belajar gratis maupun link pendaftaran kartu pra kerja kepada masyarakat. Hal ini tentu saja menjadi penawaran yang menggiurkan yang menarik minat untuk membukanya. Khusus di Kota Denpasar, terkait hal ini, Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfos) menyatakan berita itu adalah bohong alias hoax. 



 



Kadiskominfos, I Dewa Made Agung didampingi Kepala Bidang Komunikasi dan Informasi Publik (KIP), Gde Wirakusuma, Selasa (26/1) menjelaskan, setelah ditelusuri oleh pihaknya, terkait link tersebut, dipastikan hoax dan berpotensi menjadi wahana pencurian data atau phising.



 



Setelah dianalisa dan diverifikasi, kedua konten pesan hoax tersebut telah diposting di situs resmi antihoax milik Pemkot Denpasar di https://tangkalhoax.denpasarkota.go.id sebagai upaya edukasi kepada netizen atau pengguna internet. Link tersebut juga telah disebar kembali ke grup WhatsApp agar bantahan atau klarifikasi hoax terhadap kedua konten tadi kembali menyebar luas ke masyarakat. Sehingga masyarakat bisa mengetahui keberadaan hoax tersebut dan meningkatkan kewaspadaannya.



 



"Kami harap masyarakat berhati-hati dan waspada jika ada penawaran atau iming-iming hadiah gratis atau hadiah yang kurang masuk akal. Selain menghindari menjadi korban berita bohong yang merupakan kategori penipuan, link pesan tersebut bisa menjadi sarana pencurian data (phising). Sebab bisa saja dibalik penawaran hadiah atau iming-iming yang menggiurkan terselip upaya pencurian data," tegasnya.



 



Menurut Gde Wirakusuma menimpali, ada beberapa link promosi yang jika diklik atau diisi, dapat mencuri data dan informasi dari telepon pintar (smartphone) milik pribadi yang terkoneksi internet. Dari sinilah awal peretasan (hacking) media-media sosial pribadi dan digunakan oleh orang yang tidak bertanggungjawab untuk melakukan aksi kejahatan.



 



"Salah satu yang marak terjadi di Bali adalah penipuan dengan permintaan mengirimkan sejumlah uang atau pulsa via chat WA dari akun relasi yang sudah diretas (di-hack) oleh pembajak," jelasnya.



 



Atau bisa juga upaya penipuan lewat akun media sosial lain seperti facebook yang sudah diretas. Untuk menghindari menjadi korban penipuan atau pencurian data, Gde Wira berharap masyarakat lebih berhati-hati dan waspada dalam menggunakan telepon pintarnya. "Jika ada informasi ataupun penawaran, cek kembali linknya dengan menelusuri konten informasi tersebut melalui mesin pencari internet," sarannya.



 



Atau dengan mencari di media arus utama (mainstream) yang sudah terpercaya. Dan masyarakat bisa juga mengecek melalui akun-akun informasi tentang hoax yang sudah ada, salah satunya yang dimiliki Pemkot Denpasar melalui situs https://tangkalhoax.denpasarkota.go.id, akun turnbackhoax https://turnbackhoax.id/ atau link https://www.kominfo.go.id/content/all/laporan_isu_hoaks serta akun-akun resmi pemerintah lainnya. Masyarakat juga dihimbau jangan mudah langsung mengklik atau mengisi data pada link yang ditawarkan. Apalagi memberikan data-data pribadi yang bersifat rahasia seperti NIK, foto KTP, kode password dan sejenisnya.



 



"Salah satu tips yang bisa digunakan untuk menghindari peretasan akun media sosial adalah dengan mengganti password email dan akun media sosial secara berkala. Caranya dengan menggunakan password yang spesifik, setiap akun mempunyai password yang berbeda dan merupakan gabungan angka dan huruf," tandasnya.



Editor : I Putu Suyatra
#bali #denpasar