Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Anggaran Perawatan Terbatas, Kolam Lila Arsana Dibiarkan Berlumut

Nyoman Suarna • Selasa, 30 Maret 2021 | 00:14 WIB
Anggaran Perawatan Terbatas, Kolam Lila Arsana Dibiarkan Berlumut
Anggaran Perawatan Terbatas, Kolam Lila Arsana Dibiarkan Berlumut


SEMARAPURA, BALI EXPRESS- Semenjak pandemi Covid-19, perawatan kolam renang Lila Arsana di Jalan Gunung Rinjani, Semarapura tidak maksimal. Dua kolam yang ada di sana dibiarkan berlumut, sehingga berwarna hijau. Dinas Kebudayaan Kepemudaan dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Klungkung yang bertanggung jawab merawat kolam renang, sengaja membiarkan kondisi seperti itu karena keterbatasan anggaran.  Anggaran yang tersedia tidak cukup untuk merawat semua fasilitas di sana.


Kepala Dinas Kebudayaan Kepemudaan dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Klungkung Ida Bagus Jumpung Gede Oka Wedhana mengungkapkan, perawatan kolam renang butuh anggaran sekitar Rp 30 juta per tahun. Namun karena pandemi, anggaran yang dialokasikan untuk perawatan direfocusing.  Akhirnya, dinas setempat membiarkan air kolam berwarna hijau. Lagipula, kolam renang yang biasanya dibuka untuk umum tersebut ditutup selama pandemi karena dinas khawatir apabila dibuka akan menimbulkan klaster Covid-19.


Meskipun perawatan kolam tidak maksimal, lanjut Ida Bagus Jumpung, kolam yang airnya tidak pernah diganti dan berlumut itu tidak berbahaya bagi kesehatan. Misalnya menjadi sarang jentik nyamuk. Dinas setempat sudah koordinasi dengan Dinas Kesehatan agar air kolam tidak menjadi sarang jentik nyamuk. Sebab, jika airnya dikuras dan dibiarkan kering, dikhawatirkan kolam akan rusak. “Kalau kolam kami keringkan takut pecah-pecah, belah,” tegas Ida Bagus Jumpung, Senin (29/3).


Selain sudah koordinasi dengan Dinas Kesehatan, Disbudpora juga menempatkan tiga petugas kebersihan. Setiap hari bersih-bersih di sekitar kolam. Sehingga sekitar kolam tidak terlihat kumuh.  “Pemeliharaan tetap jalan dengan kondisi dana terbatas. Cuma untuk airnya sengaja kami biarkan seperti itu, karena butuh biaya besar,” tegasnya lagi.


Sementara itu, dua orang perempuan yang ditemui di kolam renang itu, Senin mengaku sebagai petugas kebersihan. Mereka setiap hari bersih-bersih di sekitar kolam renang. Biasanya sampai sekitar pukul 12.00. “Selain menyapu juga potong rumput,” kata salah seorang petugas kebersihan.  


Sekadar diketahui, kolam tersebut merupakan peninggalan zaman kerajaan Klungkung. Seiring perkembangan zaman, kolam tersebut dibuka untuk umum. Bahkan menjadi salah satu sumber pendapatan pemerintah daerah. Mereka yang berenang dikenakan retribusi. Pada 2017, tembok panyengker bagian utara sempat roboh. Kini, tembok tersebut sudah diperbaiki.

Editor : Nyoman Suarna
#covid-19 #klungkung