Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Putra Bali Menangi Sayembara Desain Istana Negara di Kaltim

I Komang Gede Doktrinaya • Sabtu, 3 April 2021 | 04:29 WIB
Putra Bali Menangi Sayembara Desain Istana Negara di Kaltim
Putra Bali Menangi Sayembara Desain Istana Negara di Kaltim



DENPASAR, BALI EXPRESS - Putra Bali, I Nyoman Nuarta asal Tabanan, menangkan sayembara desain Istana Negara di Ibu Kota Baru di Kalimantan Timur (Kaltim). 


Saat dikonfirmasi, Jumat (2/4), pria yang juga pembuat patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Bali ini, menjelaskan bagaimana perjalanannya hingga dapat memenangkan sayembara tersebut. Termasuk menanggapi dengan adanya pro-kontra yang  menyebut dirinya pematung, namun terlibat dalam dunia arsitektur.


Nyoman Nuarta menjelaskan, pada hari Kamis, 27 Februari lalu, ia mendapatkan undangan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).  Untuk menghadiri Rapat Koordinasi Sayembara Istana di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Ibu Kota Negara. 


Undangan itu ditandatangani Direktur Bina Penataan Bangunan, Ir Diana Kusumastuti, MT.  "Saya diundang oleh PUPR, karena melihat ini saya tertarik ikut. Namanya istana, kan wibawa bangsa," jelasnya.


Sementara dalam lampiran surat tertanggal 25 Februari, disebutkan nama-nama pejabat dan ahli yang diundang diantaranya Ketua Satgas Perencanaan Pembangunan Infrastruktur IKN. Ketua Bidang Penataan Kawasan, Gregorius Antar Awal (IAI), Gregorius Supie Yolodi (IAI), Isandra Matin Ahmad (IAI), Sibarani Sofian (MUDO), Nyoman Nuarta, Pierre Natigor Pohan, Grace Christiani, Dian Ratih N Yunianti, M Iqbal Tawakal, dan Achmad Reinaldi Nugroho. 


Selanjutnya Nyoman Nuarta pun langsung hadir di Ruang Rapat Satgas PPI-IKN Gedung Utama Kementerian PUPR Lantai 1, Jalan Patimura No 20 Kebayoran Baru, Jakarta Pusat. 


Pada saat itu dipresentasikan tentang rencana sayembara terbatas dengan mengundang arsitek atau ahli untuk membahas konsep gagasan desain bangunan gedung khusus di Ibu Kota Negara (IKN) di Kalimantan Timur. 


Gedung-gedung itu diantaranya berupa Istana Presiden, Istana Wakil Presiden, Komplek DPR/MPR/DPD, Mahkamah Agung, Kementerian/Lembaga, masjid, gereja Katolik dan Protestan, pura, wihara, dan kelenteng. Seluruhnya terdapat 12 konsep gedung yang disayembarakan. 


Disebutkan juga para ahli yang diundang dan hadir adalah Andra Matin, Supie Yolodi, Yori Antar, Nyoman Nuarta, dan Sibarani Sofian. Kelima arsitek dan ahli diminta secara khusus untuk menyampaikan visualisasi konsep gagasan desain bangunan berupa sketsa desain, yang mampu menggambarkan visi dan kriteria bangunan gedung khusus di IKN. 


"Kami hanya diberi waktu 12 hari untuk mewujudkan konsep gagasan desain dalam bentuk visual, dan harus membuat sekaligus 12 konsep desain," kata Nyoman Nuarta.


Setelah menemukan ide dari konsep desain, Nyoman Nuarta bersama tim, memvisualisasikan 12 konsep gagasan gedung-gedung yang disayembarakan. Secara tepat waktu, pada tanggal 5 Maret, Nyoman Nuarta telah mengirimkan desain-desain gedung khusus IKN ke Kementerian PUPR di Jakarta. 


Kementerian PUPR kemudian meminta kelima arsitek dan ahli untuk mempresentasikan konsep desain gedung-gedung khusus IKN pada 10 Maret. Waktu itu, kata Nuarta, tidak semua arsitek dan ahli yang diundang hadir.


"Ada12 desain harus selesai dalam waktu 12 hari, di studio kami sudah ada tim arsitek dan punya perusahaan arsitek, termasuk konsultan. Kalau saya fungsinya penggagasnya memberikan ide- ide dan bagaimana menerjemahkan ide saya, termasuk ada tim pematung, arsitek dan kontruksi. Banyak orang  menyangka saya pematung kok terjun ke arsitek, padahal saya sudah punya biro arsitek sejak tahun 1974. Karena dahulu jika tidak punya PT gak bisa ambil proyek dari pemerintah. Waktu itu bikin biro arsitek yang kini menjadi Nu Art Konsultan," terangnya.


Menurut prosedur yang diterima Nyoman Nuarta, seluruh hasil dari visualisasi konsep gagasan desain gedung-gedung khusus IKN, akan dilaporkan oleh Menteri PUPR kepada Presiden Joko Widodo pada 13 Maret. 


"Semua memang kemudian menjadi keputusan Presiden untuk memilih mana konsep desain yang dianggap memenuhi syarat. Mungkin kemudian kebetulan konsep saya yang dinyatakan sebagai pemenangnya dan kemudian diumumkan pada 29 Maret lalu kepada publik melalui media," kata Nyoman Nuarta. 


Selain mengikuti sayembara tersebut, ia juga beberapa kali sempat gagal dalam memenangkan kompetisi. Mulai dari bandara hingga tempat wisata di Pulau Komodo.  


“Ketika ada yang bilang mengapa pematung bisa menangani proyek khusus dan monumental kita kerjakan, mereka menyangka saya punya tim arsitek. Tidak semua mulus, saya sering ikut kompetisi dan tahun ini ada tiga. Airport kalah, di Pulau Komodo kalah, saya tidak marah kalau kalah, sebab berani bertanding siap kalah, ya jangam ngamuk,” imbuhnya.  


Nuarta melanjutkan, bahwa desain yang dibuatnya ada yang nyinyir itu tidak ramah lingkungan, namun ia pun hanya tertawa. “Mereka nganggep gedung itu tidak akan ramah lingkungan.  Mereka belum tahu sudah komen, menyebut tidak profesional, itu ide dasar belum kita kembangkan. Satu bulan mengembangkan desain itu, dan kami sudah jauh-jauh sebelumnya memikirkan itu,” tegasnya.


Dari ide awal itu akan dipoles dengan kreativitas, dan ia sendiri memberikan ide dari para ahli-ahli grup yang dimilikinya. Sebab, Nuarta tidak memiliki surat keterangan ahli (SKA), namun ia memiliki ahli yang ber-SKA. 


“Mengenai istana ini tidak bisa bicara istana saja, tidak berpikir seperti Gedung Putih, atau Istana Merdeka. Itu kan bikinan Belanda, kita ingin tampil sebagai anak bangsa dan tidak mengecilkan budaya etnik dan budaya yang lain,” ulas Nuarta.


Maka inilah  yang mereka pikirkan agar ada filosofinya, ketika ada yang menuduh tidak ramah lingkungan, sudah jauh hari pihaknya memikirkan  hal itu. Sebab, lokasinya berdekatan dengan garis katulistiwa tentunya panas. 


“Intelektual kita bagaimana caranya membuat ruangan itu menjadi nyaman. Sebab panas ada dua jenis, dari pancaran matahari langsung dan global warming. Maka kami harus menyiapkan desain ramah lingkungan. Apabila menciptakan 22 derajat sampai 26 derajat celsius dalam ruangan itu sudah normal, tidak banyak memakai AC,” tandasnya.  


Disebutkan para ahli yang di timnya bertugas menghitung hal itu, dan ia sendiri hanya melontarkan saja ide tersebut.  “Saya punya ide doang menciptakan ruangan yang nyaman. Ini dilontarkan kepada ahli-ahli saya, termasuk sampah, limbahnya bagaimana. Selain itu, tanahnya juga berkontur, itu kita telah pikirkan bersama 30 orang tim ahli dalam pra rencana ini,” tegas Nuarta.


Disinggung dengan tanggapannya ada kurang lebih lima pihak yang mengritiki desainnya itu. Nuarta pun sangat senang dan kritikan tersebut sebagai motivasi. “Jangankan 5, 10 ikatan juga boleh kok mari berdebat fair,  jangan ngomong di belakang. Kebiasan kita kan emang gitu, ngomong dulu baru belajar. Bukannya belajar dulu baru ngomong. Siapa bilang hanya arsitek saja yang boleh mengerjakan pekerjaan arsitek? Menghalangi seseorang bekreativitas itu melanggar HAM lho,” tegasnya.


 “Soal seni tergantung saya dong.  Itu adalah ungkapan dari pikiran subyektif, itu hak saya. Makanya di sini saya sebagai penggagas punya tim. Ini perlu diketahui. Mereka (yang protes) punya gak tim seperti saya, jangan sembarangan bicara. Ini sama persis waktu GWK dikritik 30 tahun lalu, ngomong dulu. Tanya dululah, alamat saya kan jelas, badan saya juga gede ngumpet gak bisa. Jangan asal ngomong, nanti kalau saya permalukan kan kasihan,” imbuhnya.


Lantas, bagaimana tanggapannya dengan isu bahwa Nuarta memiliki orang dalam di sayembara ini? Ia pun sadar diri, siapa dirinya. “Dibilang menarik-narik, Bapak Presiden Jokowi bisa saya atur? hebat sekali kalau seorang Nuarta itu bisa ngatur presiden. Jujur, proyek ini tidak seberapa duitnya, ini  masalah harga diri, istana kebanggaan kita. Bahkan saya sudah biasa dikritik, kritik itu sangat bagus dan bisa kita petik hikmahnya,” paparnya.


Nuarta menyebutkan yang mengritik itu belum tahu detailnya, sebab hanya dasar sekali. Sebab, dalam desain yang ditampilakannya baru ide awal sekali dan belum dikembangkannya.  


“Kalau ditanya ini kok pematung bikin kerjaan arsitek? Kalau saya tanya, kakek kita bikin rumah bisa gak? Padahal petani, boleh gak? punya SKA gak,” tanya dia.


Sedangkan ditanya mengapa Garuda? Nuarta memaparkan sejak diperkenalkan dan diresmikan dalam Sidang Kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS) oleh Presiden Soekarno, 11 Februari 1950, Garuda Pancasila resmi menjadi Lambang Negara Indonesia. Sejak itu pula Burung Garuda tidak hanya dikenal sebagai burung mitologis, sebagaimana telah ditemukan dalam berbagai peninggalan arkeologis dan kitab-kitab klasik.  Tetapi telah menjelma menjadi pemersatu bangsa.


Sosok Garuda yang kuat, tak kenal menyerah, disiplin, penuh dedikasi, satya wacana, serta pemelihara keseimbangan dunia, benar-benar telah menjadi inspirasi seluruh bangsa. 


Ia juga menyampaikan ketika kita menyebut kata garuda, maka akan selalu identik dengan negara besar yang memiliki luas daratan mencapai 1.919.440 kilometer persegi serta lebih dari 17.508 pulau dengan sekitar 714 suku bangsa, yang memiliki 1.100 bahasa.


“Sekarang, kalau menyebut nama Burung Garuda, maka itulah Indonesia, negeri dengan sejarah panjang, yang dikarunia keragaman etnis dan bahasa, serta hutan tropis dengan kekayaan vegetasi yang tak ternilai harganya. Itu artinya, ketika kita menyebutkan nama Garuda, maka itulah sebuah rumah besar (istana) bagi persaudaraan, persatuan, dan kerukunan hidup bersama. Apalagi kalau kita ingat semboyan yang tertulis dalam pita yang dicengkeram jari- jari kaki Garuda, 'Bhineka Tunggal Ika', kita berbeda tetapi tetap menjadi satu jua,” tutur Nyoman Nuarta.  


Jadi pada posisi itu, lanjutnya, Istana Negara akan menjadi simbol pemersatu bangsa. Ia mengatasi segala perbedaan, segala silang pandang, segala keragaman adat istiadat dan prilaku, dan bahkan perbedaan kepercayaan dan agama. 


Simbol persatuan yang dilekatkan pada Garuda, dalam Istana Negara akan benar-benar ditransformasikan dan diwujudkan dalam sebentuk pola arsitektur dengan mempertimbangkan aspek- aspek estetik, nilai guna, serta manfaat bagi kemajuan dunia pariwisata Tanah Air. 


Istana Negara dirancang sebagai sesosok patung Garuda yang tidak berhenti hanya sebagai landmark sebuah kawasan. Tetapi perwujudan pencapaian sinergi antara seni, sains, dan teknologi. Sebagai negara dengan keragaman kebudayaan yang kaya, Indonesia harus lahir menjadi satu-satunya negara di dunia yang berhasil memadukan secara pekat antara seni, sains, dan teknologi.


“Dalam tubuh patung Garuda, presiden akan berkantor, ditambah dengan unsur-unsur pendukung seperti sekretariat negara, sekretaris kabinet, dan kantor staf presiden,”  papar Nyoman Nuarta.


Dikatakannya, wujud Burung Garuda tidak berhenti sebagai sosok patung yang besar, tetapi menjadi karya arsitektural yang memadukan seni dan struktur bangunan gedung. “Inilah perpaduan antara unsur-unsur estetika dan desain,” ujar seniman kelahiran Tabanan, Bali ini. 


Pada bagian-bagian lain dari Istana Negara akan diisi dengan museum dan galeri, dua hal yang amat penting dalam menciptakan citra keteduhan sebagai sebuah istana negara. Bahkan, dirancang pula pameran-pameran untuk memperlihatkan karya-karya dari UMKM. “Ini kan jadi kebanggaan negara kita,” katanya. 


Sosok Burung Garuda yang menjadi inti dari arsitektur Istana Negara akan mengikuti pola-pola sebagaimana telah ditetapkan oleh para founding fathers kita di masa lalu. Sayap Garuda akan membentang sejauh 200 meter dengan tinggi mencapai 76 meter. Bulu-bulu pada masing-masing sayap Garuda akan berjumlah 17 helai, 8 helai pada bagian ekor, 19 helai pada pangkal ekor, serta 45 helai bulu pada bagian leher.


Oleh sebab itu, Garuda pada Istana Negara akan mewujudkan tanggal 17-8 l-1945, ketika rakyat Indonesia melalui Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Negara Indonesia. Angka 76 meter, tak lain sebagai pengingat bahwa ground breaking yang menandai dimulainya pembangunan Istana Negara dilakukan saat Indonesia menapaki usia 76 tahun. 


Perwujudan itu dilakukan untuk terus-menerus membangun kesadaran bahwa Istana berbentuk Burung Garuda adalah pencapaian cita-cita bangsa menjadi bangsa yang merdeka dan mandiri. Dan, kemerdekaan itu dicapai dengan perjuangan dan pengorbanan harta benda dan nyawa. 


“Maka, ketika kini kita memandang Istana Negara, akan tumbuh kebanggaan sebagai bangsa yang besar, teguh, dan kuat menghadapi segenap tantangan di depan,” kata Nyoman Nuarta. 


Istana Negara yang memiliki luas 4 hektare dengan rencana 9 lantai, hanyalah bangunan inti dari seluruh kawasan seluas 32 hektare. Di dalam kawasan ini terdapat Plaza Nusantara seluas 10 hektare, yang akan meliputi area rekreasi, area duduk outdoor, jogging trek, jalur pejalan kaki, serta jalur buggy. Bahkan, dirancang pula terdapat amphiteatre serta wilayah terbuka, dimana rakyat bisa mengaksesnya secara bebas.


Wilayah-wilayah seperti ini dibutuhkan untuk semakin menumbuhkan kecintaan dan rasa bangga terhadap negara. Cara-cara rekreatif semacam ini akan jauh lebih mengena di hati rakyat. 


Jika penggunaan ruang-ruang ini bisa dilakukan secara maksimal, maka Istana Negara dengan arsitektur inti patung Garuda akan tumbuh menjadi ikon baru, yang tidak hanya menjadi tempat presiden berkantor dan melakukan aktivitasnya sehari- hari, tetapi lahir menjadi magnet baru bagi dunia pariwisata. 


Disebutkannya, Pulau Kalimatan nyaris senantiasa tenggelam dalam perbincangan industri traveling, jika dibandingkan dengan daerah-daerah seperti Bali, Lombok, Yogyakarta, dan bahkan Raja Ampat. 


Pulau yang memiliki luas 743.330 kilometer persegi ini lebih dikenal sebagai pulau penghasil tambang setelah era kayu hutan berakhir. Tanah dan rimba di pulau ini, senantiasa dikeruk untuk memenuhi hasrat ekonomi manusia. Ia tidak pernah dilihat sebagai pulau dengan eksotika kultural, yang sesungguhnya menjadi modal penting dalam pengembaraan industri pariwisata.


“Citra Kalimantan yang lekat dengan tambang dan hutan, harus diperbaiki dengan menyodorkan sebuah ikon baru yang memadukan antara seni, sains, dan teknologi. Istana Negara akan dengan cita rasa estetik sebuah karya seni, dengan penggunaan sains, serta teknologi dalam mewujudkannya,” ujar Nyoman Nuarta.


Cita rasa estetik dipergunakan sebagai framing, yang membangun citra keindahan, keteduhan, kedamaian, serta persaudaraan dalam perbedaan. Sedangkan sebagai sebuah karya seni arsitektural, maka seluruh kalkulasi perwujudannya menerapkan dalil-dalil sains untuk menemukan unsur-unsur presisi, daya tahan dan kekuatan. 


Seluruhnya akan dibangun dengan menggunakan teknologi pembesaran yang telah teruji dalam berbagai kesempatan pembangunan patung gigantis. 


Secara konsep dan bentuk, patung Istana Garuda akan menjadi Istana Presiden pertama di dunia yang dibangun sebagai sebuah karya seni. Konsep ini akan mengedepankan estetika sebagai pijakan dasar, sebelum kemudian menerapkan dalil-dalil arsitektural untuk mewujudkannya menjadi sebuah building, yang layak, nyaman, mempertimbangkan soal-soal lingkungan, dan pantas sebagai sebuah simbol negara besar. 


Sedangkan secara teknologis, Istana Negara akan menggunakan teknologi pembuatan patung yang telah dipatenkan. Sosok Garuda dalam Istana Negara akan dibangun dari kerangka baja, serta cangkang dari tembaga dan kuningan. Kedua logam terakhir ini akan mengalami proses oksidasi sehingga perlahan-lahan akan berwarna hijau tosca, sebagaimana pula terdapat dalam patung GWK di Bali.  


Dengan penerapan pola-pola semacam itu, diharapkan Istana Negara di Kalimantan Timur, secara perlahan akan tumbuh menjadi daya tarik baru bagi dunia pariwisata. 


Wisatawan domestik, selain mengagumi wibawa dan kemegahan Istana Negara, sekaligus juga memupuk kepercayaan diri sebagai Bangsa Indonesia. Sedangkan wisatawan mancanegara, akan berdecak kagum melihat keindahan seekor Burung Garuda yang mengepakkan sayap di atas Istana Negara sebuah negeri bernama Indonesia. 


Sudah pada galibnya, tarikan dunia pariwisata satu wilayah akan menggerakkan sektor-sektor lain yang menjadi penunjangnya. Dalam waktu bersamaan daerah-daerah sekitar Kalimantan Timur akan turut bergerak, memberikan keleluasaan bagi masuknya industri baru, yakni industri pariwisata.


“Dengan demikian, Istana Negara akan berdiri di garda paling depan untuk mengubah citra sebuah pulau ‘terbengkalai’, yang selama ini seolah tak disentuh oleh pembangunan. Jadi, intinya tak hanya pemerataan, tetapi juga mendayagunakan lokasi yang dilupakan menjadi daya tarik baru,” jelas Nyoman Nuarta.


“Saya berharap semoga Istana Negara benar-benar menjadi rumah rakyat, tempat seluruh rakyat Indonesia mereguk nilai-nilai keadaban dan perdamaian, serta persaudaraan dan persatuan. Agar bangsa ini terus bertumbuh menjadi bangsa yang sehat, kuat, dan besar sepanjang masa,” tutupnya. 





Editor : I Komang Gede Doktrinaya