DENPASAR, BALI EXPRESS - Metafisika merupakan bagian dari ilmu filsafat yang mempelajari hal-hal di luar fisik atau supranaturalistik. Ketika seseorang meyakini sesuatu yang tidak bisa dilihat ataupun diraba, berarti orang tersebut meyakini sesuatu yang bersifat metafisik. Hal tersebut diungkapkan Ketut Suatmayasa atau yang lebih akrab disapa Guru Mangku Hipno ketika ditemui di rumahnya di Jalan Tukad Buana I No. 61 Kebo Iwa Utara.
Pemiliki dari Brahmankunta Centre ini menambahkan, metafisika tidak bisa dideteksi dengan kepintaran, kecerdasan, dan logika. Ketiga hal ini selalu berbicara tentang apa yang harus dilakukan. Sedangkan metafisika berbicara tentang kebijaksanaan, apa yang harus dihindari, dan tidak boleh dilakukan. Dengan kata lain, ilmu yang bersifat fisika mengutamakan kepintaran dan kecerdasan, sedangkan metafisika mengutaman kebijaksanaan. “Batasan antara kepintaran dan kebijaksanaan sangat jelas,” ungkapnya.
Segala sesuatu yang tidak bisa terdeteksi secara fisik, membutuhkan ilmu yang bersifat metafisik untuk menganalisanya. Contohnya, Covid-19. Secara metafisik, penyakit yang disebabkan oleh virus ini tergolong penyakit gaib. Karena bersifat gaib, maka penyelesainnya pun harus dengan cara gaib. Salah satunya dengan kuasa Tuhan. Kuasa Tuhan tidak pernah dilihat dan sentuh namun diyakini.
“Salah satu contoh kuasa Tuhan adalah angin. Angin tidak pernah kita lihat dan sentuh tetapi kita yakini bahwa angin menggoyangkan pohon,” paparnya.
Guru Mangku Hipno juga menambahkan, penyelesaian Covid-19 seharusnya dilakukan dengan pendekatan metafisik. Setiap orang yang ingin melindungi dan menyelamatkan diri dari Covid-19 adalah percaya dengan keajaiban Tuhan. “Hidup mati seseorang tidak ditentukan oleh penyakitnya, tetapi ditentukan oleh kuasa Tuhan,” imbuh Ketua Ikatan Cendikiawan Metafisika Bali ini.
Lebih lanjut Guru Mangku Hipno menyebut, saat ini yang menjadi persoalan adalah, secara komunal pendekatan kepada Tuhan terbatas di masa pandemic karena adanya pembatasan jarak. Solusinya, lakukan pendekatan kepada Tuhan secara personal. Pendekatan kepada Tuhan akan membuat hati menjadi lentur dan lebih banyak bersyukur.
Selama ini rohani tidak banyak mendapat asupan yang cukup. Dengan mendekatkan diri kepada Tuhan, akan mengurangi kemelekatan diri manusia terhadap kehidupan.
Dengan mendekatkan diri kepada Tuhan, bukan berarti mengabaikan anjuran dari pemerintah. Anjuran pemerintah merupakan usaha yang dilakukan secara ilmiah dan alamiah, sedangkan penyelesaian yang ditawarkan secara metafisika bersifat ilahiah.
“Pandemi Covid-19 tergolong penyakit ilahiah yang lebih banyak diselesaikan dengan berdoa kepada Tuhan. Selain itu, ikuti anjuran pemerintah dan para praktisi yang sudah memiliki pengalaman dalam mengatasi penyakit yang tak tampak,” pungkasnya. (win)
Editor : Nyoman Suarna