GIANYAR, BALI EXPRESS - Penjor merupakan salah satu benda yang wajib ada dalam perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan. Seiring berjalannya waktu, pembuatan penjor pun dikreasikan oleh masyarakat. Seperti halnya penjor yang satu ini. Berbeda dari penjor pada umumnya, penjor ini dikombinasikan dengan tumbuhan hias yang bernuansa hijau.
Penjor tersebut dibuat oleh I Kadek Sudila Sudarsa, 43, warga Banjar Pujung Kaja, Desa Tegallalang, Kecamatan Tegallalang, Gianyar. Menurutnya ide membuat penjor dengan hiasan berbagai tanaman hias itu terinspirasi profesinya sehari-hari yakni membuat aquascape dan natural pond. "Sabtu (6/11) pagi mulai membuat dan selesainya Minggu (7/11) sore di upacarai pada Penampahan Galungan," ujarnya.
Ia pun menghias penjor tersebut dengan tanaman hias seperti bromelia, Kadaka, Jenggot Musa, Moss, Kayu Santigi, dan tanaman rambat. "Tingginya kurang lebih 7 meter," imbuhnya.
Penjor tersebut ia kerjakan dalam waktu satu setengah hari dengan bantuan saudara-saudaranya. Menurutnya selama pembuatan, tidak ada kesulitan berarti yang ia alami. "Tapi yang sulit itu ide dan penempatan tanamannya," imbuhnya.
Namun untuk biaya pembuatan penjor tersebut, dirinya mengaku tidak bisa menghitung secara pasti karena tanaman yang digunakan kebanyakan hunting dan hasil panen. "Lalu untuk kayu sendiri itu berasal dari sisa-sisa pembuatan aquascape dan vertikal garden yang biasa saya buat," paparnya.
Keunikan penjor tanaman hias buatannya pun langsung viral di media sosial setelah video pembuatannya di unggah dan dibagikan berbagai akun. Penjor buatan Sudila pun mendapatkan apresiasi atas kreatifitasnya, namun tak sedikit juga netizen yang menganggap jika penjor tersebut kurang tepat untuk hari raya Galungan.
Terkait hal tersebut, menurutnya penjor adalah simbol gunung yaitu untuk kesejahteraan. "Dan asalkan sudah berisi sarananya seperti pala gantung, pala bungkak, sampian, lamak, padi, jagung, kelapa, dan janur maka itu sudah penjor upakara. Sedangkan masalah kita menghias itu kembali kepada seni kita masing-masing," tuturnya.
Bahkan sebelum dirinya membuat penjor, ia sudah sempat bertanya kepada tokoh agama dan hal itu tidak menjadi masalah. "Kata beliau karena agama berkaitan erat dengan seni. Dan menurut saya pro-kontra itu hal yang wajar, yang penting bagi saya beryadnya kita ikhlas tanpa pamrih," tandasnya.
Editor : I Dewa Gede Rastana