BULELENG, BALI EXPRESS - Ruang Terbuka Hijau (RTH) Bung Karno yang terletak di Kelurahan/Kecamatan Sukasada, Buleleng memang sudah tuntas dibangun. Selain ditandai dengan Patung Bung Karno yang berdiri tegak, di areal ini rupanya dibangun panggung terbuka dengan back stage Patung Singa Ambara Raja. Patung inipun digadang-gadang akan menjadi ikon baru di RTH Bung Karno.
Patung Singa Ambara Raja kini tidak hanya ditemukan di titik nol kilometer Kota Singaraja. Namun, ikon kebanggaan warga Den Bukit ini sekarang sudah bisa ditemukan di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Bung Karno yang baru tuntas dikerjakan. Bahkan, jika tidak ada aral melintang, Kawasan ini akan dipelaspas pada Purnama, 18 Desember 2021 mendatang.
Patung Singa Ambara Raja di kawasan ini memang difungsikan sebagai land mark panggung terbuka. Panggung terbuka ini nantinya akan dijadikan sebagai sarana pertunjukan seni budaya bagi masyarakat Buleleng.
Warna kuning keemasan mendominasi dari warna patung Singa Ambara Raja ini. Sedangkan gayor yang psosisinya sebelah kanan, kiri dan belakang patung didominasi warna merah bata, lengkap dengan ukiran khas Buleleng. Bahkan, dari kejauhan, ukiran ini seolah berbahan dari paras Abasan (Sangsit).
Usut punya usut, patung ini dikerjakan oleh seniman asal, Banjar Tebes, Peliatan, Kecamatan Ubud, Gianyar, I Wayan Winten, 60. Ia menggarap patung ini hampir selama 6 bulan lamanya. Dalam pengerjaannya, ia melibatkan hampir 50 orang pekerja.
Kepada Bali Express (Jawa Pos Group) Winten menceritakan, jika dirinya baru pertama kalinya membuat patung Singa Ambara Raja selama karirnya sebagai seniman patung. Menurutnya, punya kesan tersendiri dalam mengerjakan patung yang menjadi ikon masyarakat Buleleng ini.
“Saya belajar mematung sudah sejak usia 7 tahunan. Kemudian aktif menjadi seniman patung professional itu hampir 40 tahun lamanya. Dan ini kali pertama saya membuat patung Singa Ambara Raja. Tentu menjadi tantangan tersendiri karena patung ini cukup unik,” jelasnya.
Sebelum mulai mengerjakan patung ini, Winten sempat melakukan survey ke sejumlah pura di Buleleng yang menggunakan gaya ukiran khas Buleleng. Seperti Pura Madue Karang di Kubutambahan, Pura Beji Sangit, Pura Prapat Karang Bungkulan.
“Saya disana melihat bagaimana ukiran khas Buleleng dengan berbahan paras Abasan. Dari sana baru menentukan konsep ukiran untuk patung Singa Ambara Raja,” imbuh pria yang juga guru SMK di Batubulan, Gianyar ini.
Tuntas melakukan survey, ia kemudian mulai membuat desain patung di Gandalangu Studio miliknya, Peliatan, Ubud. Selanjutnya setelah desain Patung Singa Ambara Raja meyakinkan, ia pun mulai mengerjakan patung dengan dimensi tinggi 22 meter, gayor belakang patung 15 meter, sayap setinggi 17 ,5 dan lebar bentangan mencapai 45 meter.
“Jadi semua itu mengadopsi konsep Bun Samlung gaya ukiran pura kuno di Buleleng. Seperti Pur Beji, Pura Madue Karang, yang umumnya pakai paras Abasan,” katanya lagi.
Lalu apa bahan patung itu? Winten mengatakan, sebagian besar material merupakan cor-coran. Dimana, cor-coran rangkanya dibuat di ubud. Sedangkan proses pemasangan hampir 90 persen dilakukan di areal RTH Bung Karno.
“Bahannya ribuan sak semen, pasir, besi ukuran 12 dipakai. Nah kalau di bagian gayornya juga pakai material cor-coran. Tidak ada penggunaan paras Abasan. Jadi full itu material cor. Mungkin karena catnya merah bata, sehingga mirip seperti Paras Abasan,” tegasnya.
Disinggung terkait kendala dalam membuat patung ini, Winten mengaku tidak menemukan persolaan yang berarti. Hanya saja, sebagai seniman patung, ia berusaha memadukan antara kearifan lokal dengan skilnya agar lahir patung yang benar-benar menggambarkan karakter Buleleng yang cenderung keras, kreatif, inovatif, religius, cerdas dan berbudaya
“Bagaimana agar patungnya metaksu, berkarakter, disanalah tantangannya. Karena saya pantang membuat patung yang sama dengan wilayah lainnya. Sehingga inilah ketertarikan saya dalam membuat patung Singa Ambara Raja ini,” akunya.
Selama membuat patung ini, Winten mengaku tidak lepas dari hal-hal berbau mistis. Namun, sebagai seniman patung, hal ini adalah sesuatu yang wajar ia alami. Menurutnya, proses pembuatan Patung Singa Ambara Raja sudah melalui tahapan upacara saat mulang dasar.
“Secara niskala kami memohon doa disana, agar diberi kelancara. Banyak kejadian, anak buah saya ga permisi kencing kemudian sakit, kami sangat percaya kalau tempatnya juga sangat metaksu, sehingga menjadikan patung ini juga kepangluh” pungkasnya.
Terpisah, jika merujuk dari buku Sejarawan, Almarum Ketut Ginarsa, Singa Ambara Raja memang memiliki sejumlah makna. Ada kemiripan antara Singa Ambara Raja yang di titik nol kilometer Kota Singaraja dengan RTH Bung Karno.
Dimana, makna Singa Ambara bersayap tujuh belas helai melambangkan tanggal atau hari Proklamasi. Lalu jagung gembal yang berjumlah delapan helai melambangkan bulan yang ke delapan atau Agustus. Butir-butir jagung gembal berjumlah empat puluh lima butir melambangkan tahun proklamasi 1945.
Jika semua lambang itu digabungkan, maka dapat diartikan sebagai jiwa Proklamasi 17 Agustus 1945 yang berdasarkan Pancasila. Lalu arca Singa bersayap sebagai lambang daerah Kabupaten Buleleng yang terbentang dari timur ke barat.
Patung Singa yang memegang Jagung gembal sebagai lambang Buleleng, karena dalam sejarah tertuang jika Buleleng adalah penghasil dari Jagung Gembal.
Sedangkan jumlah bulu sayap yang besar dan kecil 30 helai, yaitu sayap jajaran pertama berjumlah lima helai, sayap jajaran kedua berjumlah tujuh helai, sayap jajaran ketiga berjumlah delapan helai, serta sayap keempat berjumlah 10 helai, melambangkan tanggal lahirnya Kota Singaraja.
Tiga buah tulang pemegang bulu sayap melambangkan bulan yang ketiga atau Maret, yaitu bulan lahirnya Kota Singaraja. Rambut, bulu gembal, dan bulu ekor singa yang panjang jumlahnya 1.604 helai, melambangkan tahun lahirnya Kota Singaraja.
Editor : Chairul Amri Simabur