Kabarnya almarhum sebelum kepergiannya sempat ngayah di Pura Dalem Desa Carangsari. Setelah itu kondisi almarhum menurun dan akhirnya meninggal pada Minggu (12/12) dalam perawatan di RSD Mangusada akibat komplikasi kadar gula tinggi, paru-paru, dan penurunan fungsi ginjal.
Kepergian pria kelahiran 31 Desember 1946 ini, dianggap sebagai guru dan tokoh yang menginspirasi. Seniman mengiringi kepergiannya dengan menarikan topeng bondres. Dilanjutkan mempersembahkan badong (kostum topeng) dan sebuah pengelocokan (alat untuk menghaluskan sirih pinang) kepada almarhum ini wujud apresiasi seniman badung maupun Bali.
Kepergian almarhum meninggalkan istri tercinta Desak Ayu Suriati dan empat orang anak, yakni I Gusti Ayu Putri, I Gusti Ayu Sari, I Gusti Ngurah Putra, dan I Gusti Ngurah Artawan, serta 12 orang cucu.
Seorang Seniman I Made Agus adi atau Agus Cupak mengatakan dirinya adalah salah satu orang dari ribuan orang yang menjadi murid Maestro Topeng Tugek Carangsari. Ia menilai sosok IGN Windia adalah seniman multitalenta. Setiap nafas beliau adalah berkesenian dan berkarya. Ia juga menceritakan, Almarhum sangat terbuka kepada siapa pun, tidak hanya seniman Bali, bukan hanya seniman topeng, bahkan semua jenis kesenian terbuka.
“Karena pengalaman beliau luar biasa yang membawa harum nama seniman Bali. Saya ingat kata-kata beliau dengan sebongkah kayu berbentuk topeng ini, saya tau luar negeri. Itu kata beliau kepada saya dulu,” ujar Gus Cupak saat ditemui saat prosesi pelebon, Kamis (23/12).
Bertepatan pada pelebon bilau, Gus Cupak menjelaskan, seniman topeng yang ada di seluruh Bali mengataskan semua seniman tradisional seniman topeng akan memantaskan topeng keras masal sebelum dibakarnya layon almarhum. Sementara bertepatan prosesi pelebonan para seniman topeng yang ada di seluruh Bali mengawal layon (jenazah) beliau menuju setra dengan berpakaian topeng bondres. Editor : Nyoman Suarna