Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dunia Mistik dan Mitologi Bali Dituangkan Dalam Karya Seni Rupa

I Dewa Gede Rastana • Selasa, 4 Januari 2022 | 01:34 WIB
PAMERAN : Karya pameran seni rupa Artifacts. (Dian Suryantini/Bali Express)
PAMERAN : Karya pameran seni rupa Artifacts. (Dian Suryantini/Bali Express)
SINGARAJA, BALI EXPRESS – Membahas soal dunia mistik di Bali memang tak ada habisnya. Selalu menarik karena punya daya tarik yang unik.

Begitu pula cara menginterpretasikan mitilogi yang beredar luas di Bali. Bentuk visualisasi makhluk mitologi dituangkan dalam sebuah karya seni yang menarik. Dibuat dengan menggunakan tema besar makhluk mitologi yang kemudian dijabarkan menjadi beberapa bagian sub tema.

Bentuk visualisasi tentang makhluk mitologi di Bali dapat dijumpai pada pameran Artifacts yang digagas Fakultas Seni Rupa, Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja. Lima wujud makhluk astral yang digadang-gadang terkenal di Bali dibentuk dengan material serbuk paras dari desa Sangsit. Ada Aji Pengiwa Camra Berag, Garuda Mas, Nyejek Mupu, Rerajahan serta Taru Pula dari lontar Taru Premana. Karya pameran dalam bentuk patung itu merupakan Tugas Akhir (TA) yang dibuat I Dewa Putu Mahesatya Kencana. “Dalam dunia magis, Bali juga memiliki banyak makhluk-makhluk supranatural, serta beragam. Baik dari makhluk halus maupun mitologi. Di sini pada studi khusu TA Seni Patung, saya memilih konsep tersebut, sebagai karya yang memang merupakan ketertarikan saya dalam hal-hal yang berbau mistik atau pun bernuansa horror,” terangnya saat ditemui di ruang pameran, Senin (3/1) pagi.

Terakit visualisasi penampakan makhluk-makhluk tersebut, Dewa Putu mengaku memvisualkannya dari imajinasi sendiri. Ia pun membeberkan masing-masing sub tema dari konsep besar karya seni patungnya. “Sedangkan nyejek mupu itu imajinasi sendiri yang inspirasinya dari makhluk astral di Bali yang disebut ancangan setra. Sementara taru pramana itu saya ambil lebih spesifik lagi seperti pohon pule yang dikenal pingit atau angker. Itu merujuk pada kisah taru pule. Sekilas diceritakan Dewa Siwa sedang sakit dan dia mengutus dewi untuk mencari obat.

Didapatlah pohon ini sebagai obat. Konsep besarnya makhluk mitologi Bali. Saya percaya dengan adanya makhluk-makhluk seperti ini. Bukannya musrik atau bagaimana, tapi saya percaya,” kata dia.

Karya seni kearifan lokal juga dibuat dalam TA Ngakan Adi Parwata. Ia menuangkan konsep Soroh Pra Bali dalam sebuah lukisan lontar yang disebut prasi. Ada lima bagian yang dipamerkan. Masing-masing prasi memiliki kisahnya sendiri. Risetnya diambil dari kampung halamannya di kaki Batukaru. Ini diinterpretasikan dari kehidupan pra bali. Konsep yang pertama diilustrasikan dengan gambar meru tumpang tiga. Itu artinya tempat pemujaan leluhur yang dilakukan keluarganya di meru tumpang tiga. Yang kedua adalah pelinggih khusus yang merupakan penghargaan untuk warga pra bali.

Gambar-gambar di prasi itu disketsa dahulu dalam sebuah kertas. Yang ketiga adalah menceritakan kehidupan dirinya yang berasal dari keturunan pra Bali. Dan memiliki tugas mengemong pelinggih itu yang ada di Pura Batukaru. Keempat diilustrasikan dengan tokoh pewayangan dengan tema melepas tahta. Artinya pada jaman kerajaan Bali kuno sebelum Majapahit adanya peperangan antara pejabat-pejabat tinggi Bali. Yang terakhir masih berkaitan dengan konsep keempat, yakni menggambarkan tokoh patih yang mengabdi kepada rajanya, dan rela berperang demi kesejahteraan rakyatnya. “Gambar dalam prasi ini dari imajinasi saya sendiri,” singkatnya.

Karya prasi itu pun dibuat dalam waktu cukup lama. Satu seri lukisan digarap dengan kurun waktu dua minggu. “Penerjaannya sambil jalan aja. Sambil riset, sambil gambar,” ungkapnya. Editor : I Dewa Gede Rastana
#Dunia mistik #pameran #seni rupa #mitologi bali #undiksha