Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Konsep Revitalisasi Pasar Ubud Diharapkan Tak Meniru Pasar Gianyar

I Dewa Gede Rastana • Rabu, 4 Mei 2022 | 01:04 WIB
Budayawan sekaligus Dosen Universitas Warmadewa, Anak Agung Raka. (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)
Budayawan sekaligus Dosen Universitas Warmadewa, Anak Agung Raka. (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)
GIANYAR, BALI EXPRESS – Pasar Ubud yang tengah direvitalisasi diharapkan konsepnya tak meniru konsep pembangunan Pasar Rakyat Gianyar yang juga baru rampung direvitalisasi. Seperti halnya yang disampaikan oleh Budayawan sekaligus Dosen Universitas Warmadewa, Anak Agung Raka. Dirinya ingin Pasar Ubud tetap tradisional karena yang dicari wisatawan selama ini adalah bukan pasar yang modern.

 

Menurutnya jika mengacu pada pangsa pasar pariwisata Ubud, pasar yang terlalu modern tidak akan diminati oleh wisatawan. "Wisatawan yang berkunjung ke Ubud itu yang mereka cari adalah tradisionalnya, bukan modernnya, kalau modern tentu di Negara mereka lebih modern," ungkapnya Selasa (3/5).

 

Ditambahkannya jika konsep yang diperlukan dalam membangun pasar khususnya Ubud adalah konsep pariwisata yang berwawasan budaya dengan spirit agama Hindu. Menurut Raka pembangunan apa pun di Bali semua harus mengacu konsep tersebut. Dan jika dikaitkan dengan bangunan pasar, hal itu termasuk bagian penting dalam ekonomi. "Nah di Ubud, kita kedepankan konsep ini, pembangunan pariwisata berwawasan  budaya. Akan sangat pas dengan bangunan pasar tradisional karena kita mengedepankan budaya," paparnya.

 

Lebih lanjut Raka mengatakan jika konsep dasar tersebut merupakan konsep paling fundamental yang harus ditanamkan. Dimana Ubud merupakan sasaran utama wisatawan asing yang ingin melihat keadaan sisi realitas masyarakat Bali. “Ketika kita berbicara konsepnya tradisional, bangunanya juga tradisional, baik arsitektur dan bangunannya. Jangan berbicara tradisional tapi bangunan modern. Meski kontruksinya beton tapi ada ciri khasnya tradisional," tegasnya.

 

Dari kaca matanya, ia membandingkan dengan bangunan Pasar Rakyat Gianyar yang konsepnya memang modern. Sehingga tidak pas jika konsepnya diterapkan di Ubud. "Kita apresiasi semangat bupati membangun, tapi yang disediakan dengan yang memakai belum siap secara mental, perlu penyesuaian. Namanya manusia ketika diarahkan mereka pasti mengikuti, tapi perlu waktu. Namun memang penyesuaianya lama, yang dulu menghuni pasar Gianyar dengan kondisi pasar sekarang  ewuh pekewuh. Meski bagus, yang tersedia dengan yang memakainya belum matching," sambungnya lagi.

 

Memang, ia mengakui jika hingga saat ini dirinya belum pernah melihat desain pasar Ubud. Namun dirinya tetap menekankan agar ada ciri khas tanpa menghilangkan identitas. "Belajar kearifan lokal itu kita tidak menolak perubahan. Tapi tetap jangan lepas dan mengabaikan alam pikiran lokal. Kita tetap bersifat akomodatif. Bali bisa bermain ke budaya Global, tidak lain senjatanya adalah budaya, kalau mengandalkan teknologi jauh kalah kita. Salah satunya ya dengan pembangunan elemen yang mendukung kearifan lokal," pungkasnya. Editor : I Dewa Gede Rastana
#pasar gianyar #budayawan #konsep revitalisasi #mega proyek ulapan #Pasar ubud #anak agung raka #tak meniru