Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kesenian Kendang Mebarung Baluk Terancam Punah

I Dewa Gede Rastana • Selasa, 14 Juni 2022 | 02:54 WIB
TERANCAM PUNAH : Pementasan Kendang Mebarung Desa Baluk, Senin (13/6). (GDE RIANTORY/BALI EXPRESS)
TERANCAM PUNAH : Pementasan Kendang Mebarung Desa Baluk, Senin (13/6). (GDE RIANTORY/BALI EXPRESS)
JEMBRANA, BALI EXPRESS - Kabupaten Jembrana yang terletak dibagian barat Pulau Bali memiliki banyak kesenian hingga tradisi ciri khas daerah yang dikenal dengan bumi makapung ini. Salah satunya kesenian yang masih bertahan yaitu Kendang Mebarung, namun keberadaanya terancam punah lantaran kurangnya minat generasi muda untuk melestarikannya.

 

Salah satunya wilayah yang memiliki kesenian Kendang Mebarung ini adalah Desa Baluk, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana dengan nama kelompok Panca Suara. Keberadaan kelompok tersebut terancam punah lantara tidak ada yang melanjutkan kesenian tersebut. Generasi muda di wilayah tersebut hanya berminat dengan kesenian lain seperti Jegog dan Baleganjur.

 

Hal tersebut diungkapkan Ketua Kelompok Kendang Mebarung Panca Suara Desa Baluk Wayan Suanta,66 saat ditemui, Senin (13/2). Pihaknya mengatakan kesenian Kendang Mebarung Desa Baluk ini ada sekitar tahun 1950 lalu, namun sempat vakum, hingga tahun 2003 kembali bangkit dengan jumblah anggota sebanyak 25 orang, namun salah satu kendang yang dipakai masih status pinjam.

 

"Kami berusaha untuk membangkitkan kembali tradisi budaya asli Kabupaten Jembrana ini di Desa Baluk pada tahun 2003 lalu, namun satu kendang masih berstatus pinjam, karena semangat warga Desa Baluk kemudian bangkit dengan kembali membuat kendang dengan menggunakan kayu nangka dari sumbangan warga, jadilah kendang tersebut hingga saat ini digunakan oleh seka Panca Suara ini," ungkap Suanta.

 

Kendang Mebarung ini, lanjut Suanta, dari cerita-cerita terdahulu diperkirakan Kendang Mebarung Desa Baluk ada sejak tahun 1950 lalu, diperkirakan sudah 10 kali regenerasi, "untuk kendang yang asli dari tahun 1950 itu sudah tidak ada, sudah hancur dimakan usia. Untuk panjang Kendang 2,1 Meter, diameter depan 80 Cm dan belakang 60 Cm, sementara untuk berat 1 (satu) kendang ini diperkirakan mencapai 3 sampai 4 Kwintal, dengan bahan rangka kayu nangka dan daun kendang menggunakam kulit sapi asli," jelasnya.

 

Mengenai kegiatan Kendang Mebarung, Suanta menjelaskan, biasanya Kendang Mebarung tersebut tampil saat ada kegiatan Upacara Keagamaan dan saat perayaan Nasional, "biasanya kita tampil saat ada upacara keagamaan, contohnya seperti saat piodalan di Pura Khayangan tiga (Pura Puseh, Pura Desa, dan Pura Dalam) yang ada di Desa Baluk. Untuk kegiatan Nasional biasanya untuk menyambut tamu, serta saat perayaan Hut Kota Negara hingga tampil di Pesta Kesenian Bali (PKB)," paparnya.

 

Selain kegiatan keagamaan, lanjut Suanta, Kesenian Kendang Mebarung ini biasanya ditampilkan pada even-even lainnya seperti lomba makepungan, perayaan 17 agustus, penyambutan tamu, "kalau dulu sering sekali kita tampil di even-even pemerintah daerah, namun sekarang sudah jarang sekali, terahir kita tampil pada perayaan Pesta Kesenian Bali (PKB) pada tahun 2010 lalu, namun saat ini hanya tampil saat piodalan di Khayangan Tiga dan acara-acara keagamaan lainnya," ujarnya.

 

Suanta juga menjelaskan mengenai kendala dalam pelestarian Kendang Mebarung Desa Baluk tersebut adalah kurangnya minat generasi muda dalam melestarikan kesenian asli Jembrana ini. “Regenerasi sangat kurang sekali disini, bahkan yang dulunya anggota seka Panca Suara sebanyak 25 orang, kini hanya tersisa 8 orang saja yang mengoperasikan kendang mebarung ini. Harapannya sih ada perhatian pemerintah dalam pelestariannya,”imbuhnya.

 

Sementara salah satu penglingsir Desa Baluk Wayan Suaba,80 mengatakan penerus kesenian Kendang Mebarung di Desa Baluk ini sangat minim. “Kurang perhatian dari generasi muda untuk meneruskan tradisi, angan sampai hilang. Di Bali hanya ada di Jembrana saja, sama dengan makepung. Untuk generasi muda mudah-mudahan ada niat untuk melanjutkan seni budaya asli Jembrana ini, jangan sampai punah. Kami yang sudah tua nantinya pasti sudah tidak kuat lagi, kalianlah yang harus meneruskan," pungkasnya. Editor : I Dewa Gede Rastana
#kendang mebarung #kesenian #kendang mebarung baluk #ciri khas #terancam punah #jembrana