Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pedagang Bermobil Menjamur, Ubud Dinilai Kumuh dan Semrawut

I Dewa Gede Rastana • Kamis, 4 Agustus 2022 | 22:47 WIB
DISAYANGKAN : Salah seorang pedagang yang sudah berjualan selama puluhan tahun di Pasar Ubud, I Wayan Roja, 66. (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)
DISAYANGKAN : Salah seorang pedagang yang sudah berjualan selama puluhan tahun di Pasar Ubud, I Wayan Roja, 66. (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)
GIANYAR, BALI EXPRESS – Pedagang di Pasar Ubud mengeluhkan kondisi kawasan Ubud yang belakangan ini cenderung semrawut dan resem (kumuh,Red), terutama pasca dimulainya revitalisasi Pasar Ubud. Apalagi, kini banyak pedagang bermobil yang menjajakan dagangannya di jalan-jalan utama dan menimbulkan kemacetan.

Seperti halnya yang diungkapkan oleh salah seorang pedagang yang sudah berjualan selama puluhan tahun di Pasar Ubud, I Wayan Roja, 66. Menurutnya sebagai masyarakat Ubud, sekaligus sebagai pedagang di Pasar Ubud, dirinya merasa kawasan Ubud khususnya Pasar Ubud kini terkesan kumuh dan tidak tertata. “Kita tahu padahal Ubud sudah dapat predikat kota wisata terbaik di dunia, kebersihannya, hotelnya. Tapi sekarang khususnya kawasan pasar kelihatan kumuh. Itu torisnya (wisatawan) yang bilang,” terangnya Kamis (4/8).

Disamping itu, pasca dimulainya revitalisasi Pasar Ubud, tidak ada tempat relokasi para pedagang yang dinilai memadai. Sehingga tidak sedikit pedagang Pasar Ubud yang memilih berjualan di gang-gang yang ada di sekitaran Pasar Ubud. Bahkan, banyak bermunculan pedagang ‘wajah baru’ alias diluar dari pedagang yang berjualan di Pasar Ubud yang nekat berjualan dipinggir-pinggir jalan utama dengan menggunakan mobil.

“Sane ngerereh pengupa jiwa (mencari nafkah) dari toris akhirnya menyebar, ada di gang-gang berjualan. Yang berani itu banyak pedagang luar yang berjualan menggunakan mobil. Dan sekarang efeknya bikin macet, di Jalan Kajeng, lalu utara ring Puri Ubud, Jalan Suweta misalnya, itu semua berisi pedagang bermobil, ada juga diatas trotoar,” paparnya.

Mereka pun berjualan berbagai macam jenis dagangan, mulai dari aksesoris, kain dan souvenir layaknya yang dijual di dalam Pasar Ubud sebelumnya. Padahal kata dia, pedagang-pedagang souvenir yang sebelumnya berjualan di Pasar Ubud rela berjualan di lokasi-lokasi yang sudah ditentukan oleh pemerintah. “Kalau pedagang luar ini mereka menggunakan mobil seperti pedagang pagi. Kalau pagi memang banyak pedagang bermobil, tapi kan aktifitas toris belum mulai jam segitu. Jadi semrawutnya waktu siang,” imbuh Roja.

Atas kondisi itu pihaknya pun berharap, pihak terkait dapat mengambil kebijakan agar pedagang yang merupakan warga asli Ubud tidak tergusur dengan orang luar. “Biar pasti, kalau pedagang pagi dimana lokasinya (relokasi), kalau pedagang siang dimana. Mangkin ten idaang meulehan, ten idaang ngudiang tyang. Sukeh ben megarang niki. Len be uyak Covid. (Sekarang sudah tidak bisa berupaya, tidak bisa berbuat apa. Sudah kalau berebut, belum lagi tertimpa Covid),” sebutnya sembari mengatakan jika ia sudah berjualan souvenir di Pasar Ubud sejak duduk dibangku SMP.

Hanya saja, ia mengaku belum sempat berkonsultasi atau menyampaikan kondisi tersebut kepada wakil rakyat. “Harapannya agar pemerintah bisa mengambil langkah, diapakan Ubud ini agar tetap juga bisa menjaga destinasi Ubud ini tetap lestari,” tukasnya.

Pihaknya juga berharap proyek revitalisasi Pasar Ubud dapat rampung tepat waktu, meskipun terjadi pemutusan kontrak kerja dengan pihak pelaksana proyek Pasar Ubud tersebut. “Semoga rampung tepat waktu,” tandasnya. Editor : I Dewa Gede Rastana
#dinilai kumuh #Menjamur #semrawut #timbulkan kemacetan #Pasar ubud #revitalisasi pasar ubud #kawasan ubud #pedagang bermobil