Berdasarkan pantauan di lapangan, belasan orang tua calon taruna tersebut diterima langsung disebuah ruangan oleh Direktur Poltrada Bali, dr. Efendi Prih Raharjo.
Pada kesempatan itu, koordinator orang tua calon taruna, I Nyoman Suardika, menanyakan kejelasan hasil tes kesehatan yang dilakukan pihak Poltrada dalam tes lanjutan seleksi masuk ke sekolah kedinasan tersebut.
“Kami ingin menanyakan di bagian mananya kesehatan anak-anak kami yang tidak lulus. Kami ingin tahu hasilnya, karena tes kesehatan yang dilakukan Poltrada kami membayarnya cukup mahal,” tegas Suardika.
Pada dasarnya, kata Suardika, dirinya dan belasan orang tua calon taruna tidaklah mempermasalahan jika anak-anaknya tidak lulus menjadi Calon Taruna di sekolah kedinasan tersebut. Namuan saja yang menjado persoalan, adalah hasil tes kesehatan yang dilakukan Poltrada yang dinilai tidak transparan.
Sebab, sebelum melakukan tes kesehatan di Poltradra, belasan siswa yang melamar sudah melakukan medical cek up di RSAD dan secara keseluruhan dinyatakan hasilnya bagus. “Kami ingin minta hasil tes kesehatannya, karena anak-anak kami melakukan tes kesehatan tidak gratis, tapi membayar sebesar Rp. 1,8 Juta lebih. Jadi, wajib dong kami tahu gangguan kesehatan anak kami yang membuat mereka a tidak bisa lulus,” imbuhnya.
Disamping itu, pengumuman tes kesehatan tersebut juga ‘molor’ sehingga semakin mengundang kecurigaan dari para orang tua. Dimana seharusnya tes kesehatan sudah keluar per tanggal 21 Juli 2022 lalu, tapi pihak Poltrada baru mengeluarkan hasilnya Rabu 3 Agustus 2022.
“Ini sangat aneh, ada anak yang jelas kondisi fisiknya cacat (kaki bento O dan mata minus) serta tinggi badan dibawah dari yang dipersyaratkan justru dinyatakan lolos. Kemudian, dari semua jenjang tes yang dilakukan, anak kami berada diatas rata-rata, SKD juga lolos dan dinyatakan sangat memenuhi syarat. Tapi saat tes kesehatan, ternyata begini hasilnya,” tukasnya.
Namun kedatangan para orang tua tersebut nampaknya sia-sia karena pihak Poltrada tidak bisa memenuhi permintaan mereka. Mereka pun semakin yakin ada yang tidak beres dibalik tes kesehatan tersebut. “Aneh, tes kesehatan kami bayar, tapi giliran mau minta hasil rekam medisnya malah tidak dikasih. Ini benar-benar lucu. Sebagai orang tuanya wajib dong mengetahui kesehatan anak saya,” pungkas Suardika.
Para orang tua pun tak menyerah, dan kembali mendatangi Poltrada Bali Jumat (5/8). Dan apabila belum juga ditanggapi, mereka pun akan melapor kepada Ombudsman RI Perwakilan Bali.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Poltrada Bali, dr. Efendi Prih Raharjo mengatakan jika pihaknya tidak bisa memenuhi permintaan para orang tua siswa yang dinyatakan tidak lulus tes kesehatan itu. Ia berdalih jika dalam SOP, rekam medis tersebut tidak boleh diketahui orang tua calon siswa.“Ini sudah SOP, kalau bapak-bapak mau hasil rekam medisnya kami bersurat dulu ke Kementerian Perhubungan,” sebutnya.
Ditambahkan oleh Ketua Panitia Seleksi Poltrada Bali, Arif Kurniawan jika merupakan suatu hal yang wajar apabila orang tua menanyakan hal tersebut kepada pihak Poltrada. Hanya saja apa yang dilakukan oleh pihaknya sudah sesuai dengan prosedur dan petunjuk teknis penerimaan calon taruna yang disepakati dari Pusat. "Tidak ada tendensi kami untuk mempermainkan di internal kami. Kami disini hanya pelaksana teknis panitia daerah, ” tegasnya.
Ditambahkan jika penerimaan calon taruna tersebut formasinya adalah pola pembibitan, dimana nantinya calon taruna tersebut akan langsung menjadi CPNS Kementerian Perhubungan. Sehingga panitia yang berwenang langsung adalah Pusat. Maka dari itu, dirinya kembali menegaskan jika hasil tes kesehatan yang tidak bisa diungkapkan kepada para orang tua adalah sebagai sebuah konsekuensi.
“Kami kurang paham detailnya, yang jelas juknisnya seperti itu. Karena memang kami tidak mau juga bais juga ya, ada yang memanfaatkan situasi dan sebagainya dengan misalkan hasil itu dibalikkan ke orang tua atau peserta,” terangnya.
Menurutnya, segala resiko telah dipertimbangkan oleh Pusat sampai kemudian hasil tes tidak diperlihatkan. Dan kata dia, pihaknya pun telah menandatangani kontrak dengan pihak yang berkompeten. “Ada MoU dan sebagainya yang melekat tanggungjawabnya pada masing-masing pihak,” tegas Kurniawan.
Lebih lanjut dirinya menyebutkan jika tes kesehatan dilakukan diseluruh Rumah Sakit yang telah ditunjuk oleh Pusat. Pihaknya hanya mengajukan nama-nama Rumah Sakit tersebut untuk lokasinya. “Kita lihat yang berkompeten, itu ada di Bali ada RS Bhayangkara, RSAD, lalu kami laporkan ke pusat untuk penetapannya,” papar pria yang juga Kepala Bagian Keuangan Umum dan Kerjasama Poltrada Bali.
Saat ditanya mengenai upaya orang tua calon taruna melapor ke Ombudsman RI Perwakilan Bali? Kurniawan mengatakan jika proses seleksinya terbuka sehingga pihaknya mempersilahkan apabila hal itu dilakukan. “Kami juga menawarkan lapor resmi di pengaduan kami di website kami. Nanti ada jawaban secara institusi, link ada,” bebernya.
Dalam seleksi calon taruna kali ini, kata dia Kemenhub membuka 3.350 orang formasi baik darat, laut maupun udara hingga kereta. Nantinya calon taruna akan menjalani pendidikan di 22 sekolah Kementerian Perhubungan yang ada di Indonesia. “Untuk di Bali ada 144 formasi yang terbagi dalam 3 program studi. Setelah tes kesehatan ada seleksi psikotes dan wawancara. Wawancara minggu depan 11 Agustus. Dan nama-nama yang lulus bisa dilihat di website resmi www.poltradabali.ac.id,” tandasnya. Editor : I Dewa Gede Rastana