Dari pantauan di lapangan, tempat tersebut kini terlihat sepi dari kunjungan wisatawan. Hanya masyarakat sekitar yang datang berkunjung. Itu pun tidak untuk refreshing, melainkan untuk mencari rumput pakan sapi.
Kondisi danaunya juga cukup memprihatinkan. Debet air di danau tersebut sudah kecil, bahkan sedikit. Hanya rerumputan dan eceng gondok yang memenuhi danau seluas sekitar 7 hektare tersebut.
Kadus Banjar Dinas Yeh Malet I Nengah Sarianta yang dikonfirmasi, Senin (19/9), tak menampik hal itu. Kata dia, tempat yang disebut Danau Cinta itu kini tidak terawat. Ditambah lagi mengalami pendangkalan, sehingga air sangat kecil. “Sedimen lumpur tinggi sehingga air surut,” ujarnya.
Dari dulu, jelas Sarianta, objek wisata tersebut tidak ada pengelolanya. Sebelum ramai dikunjungi wisatawan, fasilitas pelengkap di tempat tersebut dibuat oleh masyarakat sekitar dengan bergotong royong. Namun, kini semua fasilitas tersebut sudah tidak ada. “Warga sekitarnya juga sempat membuat rakit secara swadaya,” lanjutnya.
Kawasan ini juga sempat viral, karena kunjungan wisatawan melebihi 100 orang setiap hari. Kini kondisinya berbanding terbalik. Kunjungan wisatawan sangat merosot.
Ia pun berharap objek wisata Danau Yeh Malet mendapat perhatian pemerintah. Di samping untuk membangkitkan desa wisata, juga untuk membangkitkan ekonomi masyarakat sekitarnya. (dir)
Editor : I Komang Gede Doktrinaya