Seperti pada poin pertama tertulis, sesuai arahan pimpinan di Disdikpora, bahwa dalam tahap awal melaksanakan tugas tambahan selaku Kepala SMPN 5 Denpasar, kami melakukan konsolidasi, adaptasi, dan pemetaan situasi kondisi dan kebutuhan yang memerlukan atensi segera.
Terkait dengan penilaian kepemimpinan kepala sekolah sebelumnya hingga Plt jauh berbeda dengan kepala sekolah sekarang. Pada poin kedua klarifikasinya dijelaskan, tidak ada kebijakan baru yang dibuat, terbatas hanya melanjutkan kebijakan lama yang sudah ada.
Kemudian mengenai tudingan kepala sekolah tak menggubris ketika siswa memberikan salam. Pada poin keempat klarifikasi itu dijelaskan, penerapan 5S (Senyum Sapa Salam Sopan Santun) dalam menyambut siswa/i dan guru/pegawai rutin dilakukan, dengan melakukan sikap dan ucapan “Om Swastyastu”.
Terkait dengan tudingan pembina Pramuka yang ingin berkenalan dengan kepala sekolah tapi disambut kurang baik. Pada poin 13 dijelaskan, ‘terkait dengan penerimaan pelatih extra Pramuka yang tidak kami layani semestinya, itu pun tidak benar. Bapak tersebut yang tidak kami kenal, tiba-tiba sudah hadir di depan pintu membicarakan proposal dan lomba. Karena kami orang baru, maka kami arahkan agar Bapak itu berkoordinasi dulu dengan pendamping extra dan Waka Kesiswaan serta bendahara BOS. Kami minta bendahara BOS untuk melayani seperti umumnya yang berlaku di sekolah terkait pos-pos angkaran pada RKAS, bila dibutuhkan’ tulis poin ke 13.
Sementara itu, mengenai keluhan guru PJOK Gede Parwata yang menceritakan absensinya yang diblokir karena kesalahan kecil. Pada klarifikasi Eka Juliana Jaya di poin ke-23 ditulis, terkait dengan posisi guru PJOK, memang benar kami pernah mengajak beliau bicara dari hati ke hati tentang pengajaran PJOK di Lapangan Lumintang. Terjadi persamaan waktu antara jam mengajar beliau dan jam mengantar kedua anaknya pada sekolah SD yang berbeda. Seusai hasil rapat dengan Waka Kurikulum, maka kami membuatkan surat edaran untuk meluruskan kembali tentang tupoksi beliau selaku guru PJOK, agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan kepada siswa, terutama saat cuaca hujan petir. Sebagai akibat dari cutinya seorang Guru PJOK karena melahirkan, maka Guru PJOK ini mengampu empat kelas sekaligus di Lapangan Lumintang. “Ini menjadi tantangan tersendiri yang memang benar kami intervensi,” tulisnya. Eka Juliana Jaya berharap klarifikasinya membuat publik tak melihat dalam satu sudut pandang semata, agar tidak terjadi tendensius atau memojokkan satu pihak. (dip/wid) Editor : Nyoman Suarna