Sosok almarhum Duniaji merupakan sosok yang royal. Ia adalah panutan bagi kelima anak-anaknya. Ia adalah sosok ayah yang bertanggungjawab dan penyayang. Ia selalu meluangkan waktu untuk keluarga. "Dulu bapak juga pernah jadi Ketua DPRD tahun 1999-2004. Kalau mengingat pekerjaan ya pasti sangat sibuk. Tapi bapak selalu ada untuk kami," ujar Mega Paramitha, putri keempat almarhum Duniaji.
Kendati sempat tersandung kasus korupsi, almarhum Duniaji tetap mengingatkan keluarganya agar tak salah langkah. Pengalaman almarhum pun menjadi guru bagi istri dan anak-anaknya. "Kami anak-anak tidak ada yang meniru jejak bapak di politik. Karena banyak pelajaran yang kami dapat dari bapak selaku tokoh politik. Jadi kami tidak memilih jalan itu," ujarnya.
Selain sebagai tokoh politik, almarhum Duniaji juga sebagai pemangku di merajannya. Ia menjalani takdirnya sebagai pemangku sejak tahun 2021.
Sebelum meninggal, almarhum sempat meyakinkan putri keempatnya itu terhadap calon suami pilihannya. Dari pandangan Mega, ayahnya terkesan menanyakan hal tersebut dengan terburu-buru dan tidak biasa. Namun Mega menanggapinya biasa saja. Pertanyaan itu terdengar aneh dan diajulan saat prosesi mejantos (lamaran). Padahal, pertanyaan itu seharusnya terlontar saat prosesi Ngidih (meminang mempelai). "Ini seperti buru-buru. Tapi saya jawab sewajarnya. Kemudian saat Oktober saya nikah bapak tidak ikut karena sudah tidak bisa jalan. Hanya Videocall sambil menangis. Setelah acara, kami langsung buat foto keluarga. Saya dan suami kembali berdandan pakai baju nikah. Foto itu kenang-kenangan dengan bapak," tuturnya.
Kehidupan almarhum Sudarmaja Duniaji sudah malang melintang di dunia politik. Ia tertarik pada dunia politik sejak tahun 1980-an. Ia bergabung dengan partai PDI. Partai besar yang cukup punya nama.
Ketertarikannya itu dilandasi atas keingintahuannya terhadap politik. Terlebih di wilayahnya, PDI di wiayah Seririt sedang mengalami tekanan politik dari penguasa kala itu. Tahun 1989 ditujuklah ia sebagai Ketua PAC PDI Seririt.
Meski karirnya cemerlang sebagai tokoh politik, ia juga memiliki pengalaman pahit. Ia nyaris kehilangan nyawa akibat ditebs golok di bagian kening. Ia diserang kawanan perampok sat tengah malam.
Pihak keluarga pun sempat memintanya untuk mundur dari dunia politik. Tapi ia tetap bertahan. Ia teguh pendirian dan berjalan dengan idealismenya. "Kami lihat tekanan politik itu berat. Bapak tetap jalan, hati bapak tetap untuk PDIP," tandasnya. Editor : I Dewa Gede Rastana