Seniman kelahiran Ubud tahun 1980 tersebut tak hentinya melukis ditengah kesibukannya yang cukup padat. Karya-karya seni lukisnya yang bercorak modern terus berlahiran. Segala tema, baik yang bersumber dari khasanah tradisional Bali maupun yang dari kejadian sosial sehari-hari digarapnya. “Khasanah lokal saya anggap sumber inspirasi yang selalu menelusup dari dalam, sedangkan peristiwa sosial yang begitu banyak saya tangkap sebagai ilham dari luar,” ujarnya.
Dengan begitu, tema yang dikerjakan kadang-kadang tidak terduga, bahkan oleh dirinya sendiri. Dan di tahun ini, Bratayasa menggarap tema kehidupan bawah air. Terutama kehidupan di dalam lautan Indonesia. “Saya sendiri agak terkejut, mengapa tiba-tiba saya mencebur diri ke dalam samudera,” sebutnya.
Lalu kata dia, dikanvasnya yang bermacam ukuran tergambar aneka tetumbuhan air dan beragam ikan. Alga atau ganggang laut cokelat (Phaeophyta), hijau (Chiorophyta) dan merah (Rhodophyta) terlihat bergoyang disentuh angin dasar lautan. Ikan neon netra, clown fish, yellow tang, butterfly fish, banggai, watchman goby, blue devil sampai angel fish terlihat berenang-renang riang. Bahkan tetumbuhan laut berbunga yang disebut lamun, atau lalamong, atau setu, atau samo-samo, juga ikut menghiasi dan menciptakan suasana.
Dalam sejumlah lukisannya, Bratayasa menggambarkan ikan mas koki (Carassius Auratus). Sejenis ikan air tawar yang berasal dari familia Cyprinidaeserta ordo Cyprintifoermes, dan dikenal sebagai favorit pencinta satwa air. Ikan air tawar yang dipercaya mendatangkan hoki ini dipersilakan menari di kedalaman danau, dengan batu-batu tanah dan kehalusan pasir menjadi lantai dansanya. Segubahan lukisan yang diam-diam memindahkan lokasi pemandangan umum tentang ikan koki, yang biasanya beratraksi di kotak akuarium.
Selain menggubah di atas kanvas, Bratayasa juga membuat pahatan di atas batu padas, yang menghadirkan corak terawang. Udang, kuda laut, kerang, oktopus ada dalam pahatannya. Sebelum nantinya muncul kakap, kerapu, kerisi dan seterusnya. Uniknya, jika dalam lukisan ia membentuk obyek dengan goresan dan besutan bebas, dengan sentuhan gaya impresionisme-ekspresif, dalam pahatan ia mengambil pola dekoratif, seperti ukiran tradisional Bali. Sehingga sejajaran pahatannya mengingatkan kepada lukisan maestro Anak Agung Gede Raka Turas atau Pande Ketut Bawa. Seniman senior yang sering mengeskplorasi satwa air dalam kanvas.
“Yang melatarbelakangi saya melukis dunia air, terutama yang berkait dengan isi samudera adalah semua ciptaan itu wujud kekhawatiran saya kepada rusaknya jagad laut, yang seringkali tidak diperhatikan habitatnya, dan agak dilupakan eksistensinya. Padahal, laut adalah kekuatan dan kekayaan Indonesia raya yang luar biasa. Bukankah kata sebuah lagu nenek moyangku adalah orang pelaut?,” paparnya.
Menurutnya, kekhawatiran itu muncul berkali-kali. Apalagi ketika ia berjumpa dengan berita-berita di majalah, koran, televisi serta di gawainya. Dan ia merasa sangat gundah ketika melihat dengan mata-kepala sendiri soal gelombang sampah yang berulang mendatangi dan memenuhi Pantai Kuta, akibat terbawa arus balik. Ia berkesimpulan, jika manusia tidak merusak laut dengan membuang sampah di laut, atau di sungai yang bermuara ke laut, arus tidak akan pernah membawa sampah.
“Saya rasa, laut Bali dan laut di seluruh Indonesia juga akan celaka seperti Teluk Jakarta apabila tidak dijaga. Padahal, kalau kita menjaga, bangsaIndonesia akan hidup makmur selamanya dari hasil laut,” tandasnya.
I Nyoman Bratayasa sendiri memang figur yang sangat aktif beraktifitas. Sebagai sarjana ekonomi manajemen, ia tetap aktif sebagai seniman yang bekerja untuk komunitas di lingkup desa dan banjar. Ia juga mendirikan
Kelompok Perupa Sari Lotus Lodtunduh, yang kemudian disusul sanggar seni rupa anak-anak Bares, di tahun 2017. Di sini ia mengasuh tak kurang dari 50 anak dari mana saja untuk melukis bersama dan belajar bersama. Di Sanggar Bares generasi dini itu dipererat dengan lukisan klasik dan tradisional Bali, dikenalkan dengan seni rupa modern dan kontemporer dunia. Ia juga menyosialisasikan karya-karya anak-anak itu lewat pasar, lewat pameran, lewat kompetisi nasional dan internasional. (ras)