Adanya infrastruktur baru ini
sebagai pendongkrak pertumbuhan ekonomi yang berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat secara berkeadilan di Bali Timur, Bali Utara, Bali Barat, Bali Tengah, dengan Bali Selatan.
Keberhasilan Gubernur Wayan Koster melaksanakan program prioritas pembangunan infrastruktur darat, laut, dan udara secara terintegrasi dan terkoneksi sebagai implementasi dari visi pembangunan Bali, Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru.
Dapat kita lihat, diantaranya meliputi Pembangunan Pelindungan Kawasan Suci Besakih di Karangasem, Pembangunan Kawasan Pusat Kebudayaan Bali di Klungkung.
Kemudian Pembangunan Jalan Shortcut Singaraja-Mengwi, Pembangunan 3 Pelabuhan sekaligus, Pelabuhan Sanur di Denpasar, Pelabuhan Sampalan di Nusa Penida, dan Pelabuhan Bias Munjul di Nusa Ceningan.
Selabjutnya pembangunan Turyapada Tower KBS 6.0 Kerthi Bali di Buleleng, pembangunan Bendungan Tamblang di Buleleng, Bendungan Sidan di Wilayah Badung-Bangli-Gianyar, dan pembangunan Tol Jagat Kerthi Bali, sepanjang 96 km, yang akan menghubungkan Gilimanuk-Mengwi, Badung.
Ahli Infrastruktur, Putu Rasjmawan menilai Pembangunan Pelindungan Kawasan Suci Besakih yang digagas Gubernur Bali, Wayan Koster merupakan suatu prestasi kerja luar biasa yang sejak dahulu kala dicita-citakan oleh krama Bali. Baru di era Gubernur Wayan Koster dapat terwujud dengan tujuan untuk memuliakan keagungan Pura Agung Besakih yang tercatat sebagai pura terbesar di dunia dan berlokasi di hulu-nya Pulau Bali.
"Bapak Gubernur Koster sungguh-sungguh merealisasikan tata titi alur pamedek /masyarakat yang ingin melakukan persembahyangan di Pura Agung Besakih. Dahulu aktivitas pamedek menuju areal suci pura sangat terganggu, sekarang pedagang dan UKM di Besakih sudah disiapkan kios kios yang rapi, tempat parkir kendaraan juga telah ditata dan ter-manage dengan baik," paparnya, Senin (16/1).
Tidak sampai disana, Gubernur Bali, Wayan Koster dinilai sangat detail. Keunikan dan keagungan yang dimiliki Pura Agung Besakih yang telah menjadi menjadi daya tarik tujuan wisata dunia dari tahun ke tahun, jadi makin menarik karena disiapkana zona khusus untuk kegiatan pariwisata.
"Agar orang yang berwisata tidak menganggu aktivitas persembahyangan dan sampai masuk ke areal utama pura, dalam pembangunan ini, juga sudah disiapkan anjung pandang bagi para wisatawan, " ungkapnya.
Selanjutnya, pembangunan Kawasan Pusat Kebudayaan Bali yang digagas dan dibangun oleh Gubernur Bali, Wayan Koster merupakan bentuk pengabdian Murdaning Jagat Bali untuk mengangkat kembali martabat kebudayaan Bali. Karena dalam sejarah Bali, di Klungkung adalah tempat masa ke-emasan kebudayaan Bali yang pernah terjadi di era Kerajaan Gelgel dengan Raja Dalem Waturenggong.
"Jadi secara posisi, Gubernur Koster sangat tepat meletakkan Kawasan Pusat Kebudayaan Bali di Klungkung. Kemudian, kalau dilihat dari penempatan lahan pembangunan, juga sangat jeli melihat lahan yang dahulunya tidak produktif karena menjadi bekas eks Galian C, kini disulap menjadi kawasan yang membuka pertumbuhan ekonomi baru," jelas Putu Rasjmawan.
Dikatakannya, lokasi Pusat Kebudayaan Bali sangat strategis, kalau memandang ke arah Utara-Timur, akan terlihat berhadapan dengan Gunung Agung, dan kalau memandang ke arah Selatan, Pusat Kebudayaan Bali akan terlihat berhadapan ke arah laut, sehingga secara konsep Kawasan Pusat Kebudayaan Bali berada pada posisi Nyegara Gunung.
Jadi, apa yang dilakukan Gubernur Bali, Wayan Koster di Klungkung, lanjutnya, diluar dugaan. Bahkan dalam membangun, Gubernur Bali jebolan ITB itu memperhatikan semua aspek secara cermat. Sehingga tidak Kawasan Pusat Kebudayaan Bali saja yang ia bangun, namun normalisasi Tukad Unda berhasil dituntaskannya menjadi lebih rapi.
Putu Rasjmawan meyakini dan semua pakar budaya dan ekonomi pun sudah melihat bahwa Kawasan Pusat Kebudayaan Bali akan memberi multiplier effect baik secara penguatan dan pemajuan kebudayaan maupun secara ekonomi baru kepada 4 Kabupaten di Bali Timur, Klungkung, Bangli, Gianyar, dan Karangasem.
Mimpi Krama Bali yang selanjutnya berhasil diwujudkan Gubernur Bali, Wayan Koster ialah Pembangunan Jalan Shortcut Singaraja-Mengwi dan Pembangunan Tol Jagat Kerthi Bali, sepanjang 96 km, menghubungkan Gilimanuk-Mengwi.
Pembangunan Tol Jagat Kerthi Bali, sepanjang 96 km, yang menghubungkan Gilimanuk-Mengwi, Badung yang digagas Gubernur Bali, Wayan Koster sangat sejalan dengan program Presiden RI, Bapak Ir, Joko Widodo.
Jalan Tol sebagai infrastruktur terkonektivitas akan menjadi satu-satunya akses jalan yang bisa mensitimulus pertumbuhan ekonomi dan memperlancar produktifitas angkutan barang dan kegiatan pariwisata dari Bali Selatan ke Bali Barat, begitu juga sebaliknya, hingga mampu menekan angka kecelakaan lalu lintas.
Belum berhenti sampai disana, kerja totalitas juga didedikasikannya terhadap pemuliaan air sebagai sumber penghidupan. Dengan melihat Bali yang kian tahun mengalami krisis air, kini era Gubernur Koster telah dibangun Bendungan Tamblang di Buleleng dan Bendungan Sidan di Wilayah Badung-Bangli-Gianyar.
Sementara Dosen Teknik Sipil Universitas Udayana, Anak Agung Gde Agung Yana menyebut Gubernur Bali, Wayan Koster adalah sosok pemimpin Bali yang betul-betul teliti dalam bekerja untuk kepentingan Pulau Bali. Saking telitinya, Bapak Wayan Koster memberdayakan ahli struktur, ahli bioteknik, ahli elektro, ahli teknik mesin, sampai ahli arsitektur dari Universitas Udayana untuk membangun Turyapada Tower KBS 6.0 Kerthi Bali di Buleleng.
Pihaknya juga sangat berterimakasih kepada Bapak Gubernur Bali, Wayan Koster yang telah mempercayai Universitas Udayana untuk membuat bangunan bersejarah sekelas Turyapada Tower KBS 6.0 Kerthi Bali.
"Tower ini dibangun bukan seperti tower biasa pada umumnya, namun tower ini memadukan nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi dengan kemajuan teknologi global, sehingga menjadi karya ikonik-monumental yang dilengkapi dengan taman wisata seperti adanya restoran putar, ada jembatan kaca, hingga wahana wisata lainnya," jelasnya.
Gede Agus Kusuma Jaya selaku Fast Boat Wijaya Buyuk bersama Wayan Subali selaku Tour Guide menilai Gubernur Bali, Wayan Koster adalah pemimpin Bali yang sangat-sangat memberikan pelayanan kepada masyarakat.
"Adanya Pelabuhan Sanur, Pelabuhan Sampalan, dan Pelabuhan Bias Munjul sangat membantu warga Bali dan wisatawan, yang dahulu mereka harus berbasah-basahan menuju kapal boat akibat tidak ada infrastruktur yang memadai, kini warga Bali dan wisatawan sangat nyaman menaiki kapal boat. Ini gagasan luar biasa Gubernur Bali, Wayan Koster," ungkapnya.
Sedangkan Kepala Wilayah Kerja Sanur Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Benoa, I Ketut Suratnata mengungkapkan Pelabuhan Sanur yang digagas oleh Bapak Gubernur Bali, Wayan Koster telah mampu meningkatkan kunjungan pariwisata dari Sanur, Denpasar ke Nusa Penida, Klungkung.
"Peningkatan kunjungan penumpang merupakan jawaban dari hadirnya infrastruktur aman dan nyaman di Pelabuhan Sanur yang digagas oleh Gubernur Bali, Bapak Wayan Koster, " jelasnya.