Suara gembelan Bali dimainkan oleh sekaa (kelompok) gong terdengar sepanjang hari hingga pukul 24.00 Wita pada hari persembahyangan. Gong juga akan kembali terdengar esok harinya saat memasuki tahun baru. “Sejak kecil saya sudah melihat gong seperti ini ditabuh di kelenteng,” terang Tantra Surya Negara atau Tan Kok Bing yang kini menjabat sebagai Ketua Majelis Rohaniawan Tridharma Seluruh Indonesia (Matrisia), Kabupaten Buleleng, Minggu (22/1).
Dari sekaa mengatakan gong yang kerap diminta untuk tampil di kelenteng sudah bermain sejak 1976. Ada pula yang bermain sejak tahun 1980-an. “Kalau kami dari Sekaa Gong Pura Taman Sari sudah sejak 1976. Yang megong dahulu adalah senior-senior kami. Kalau yang sekarang sudah regenerasi,” ujar Ketua Sekaa Gong Pura Taman Sari, Kadek Redana.
Gong yang ditabuh oleh Sekaa Gong Pura Taman Sari merupakan gong yang disakralkan alias gong duwe. Gong itu tidak boleh ditabuh di sembarang tempat. Hanya di tempat-tempat suci seperti pura, kelenteng, wihara atau bahkan di tempat ibadah lainnya. Menariknya lagi, gong itu adalah sumbangan dari umat Tionghoa pada puluhan tahun silam, dengan berbahan kuningan asli.
“Ini gong duwen pura di Taman Sari. Ini bantuan dari orang Tiongkok di Surabaya tahun 1975. Ini belum pernah diganti gongnya. Masih awet karena dari Kuningan asli,” kata dia.
Alunan gong juga terdengar di tempat lain. Di konco Desa Kayuputih, Kecamatan Banjar puluhan umat juga melakukan pemujaan. Bedanya tidak ada umat Tionghoa yang merayakan Imlek. Melainkan pemujaan dilakukan oleh umat Hindu. Rangkaian perayaan dilakukan sehari sebelum persembahnyan Imlek.
Di Kayuputih, umat hindu melakukan persiapan seperti menyajikan masakan khas Tiongkok hingga berlanjut ke persembahyangan pada malam harinya. Perayaan Imlek atau yang lumrah disebut Galungan China di desa itu, tidak serta merta dilaksanakan begitu saja mengikuti perayaan Imlek pada umumnya. “Kalau di konco ini persiapannya dilakukan sehari sebelum Imlek. Kami sembahyangnya hari ini,” ujar pemangku konco, Jro Mangku Ni Kayan Parmi.
Ketika perayaan Galungan China tiba, masyarakat di desa itu akan bersuka cita. Tetapi tidak seluruh warga desa melakukan perayaan itu. Hanya tiga dadia yang melaksanakan Imlek atau Galungan China di desa itu. Dadia yang dimaksud disini semacam kelompok atau klan atau marga dari sebuah keluarga besar, berdasarkan garis keturunan Bali.
Mereka masing masing dari dadia Pasek, Dadia Arya, dan Dadia Pande. Umat yang berasal dari tiga dadia (klan) ini dengan khusyuk melakukan puja, seperti Trisandya lalu dilanjutkan dengan kramaning sembah. “Persembahyangan sama seperti umat Hindu,” imbuhnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya