Ogoh-ogoh dengan nama Sad Ripu itu bercerita mengenai roh atau atma yang terikat dalam sifat-sifat jahat. Sad Ripu sendiri merupakan enam musuh dalam diri manusia. Bagiannya adalah Kama (hawa nafsu), Loba (tamak), Kroda (marah), Moha (bingung), Mada (mabuk) dan Matsarya (iri hati).
Roh-roh atau atma yang terpenjara dan tidak dapat mengendalikan Sad Ripu dibuat menggunakan sampah upakara. Seperti bekas canang yang sudah kering, ditempelkan pada bagian bawah. Kemudian disela-sela bekas canang tersebut dibuat juga gambaran atma atau roh menggunakan kertas bekas serta dilapisan akhir menggunakan kulit bawang putih. “Benda-benda itu kami dapat dari pura. Sebelumnya ada odalan dan banyak sampah upakara. Daripada dibakar kami ambil. Begitu juga dengan kulit kesuna (bawang putih) kami minta ke dagang-dagang di pasar, atau di rumah-rumah. Itu sampah dapur sebenarnya,” ujar Ketua STT. Yowana Gang Beten Timbul, Kadek Satya Saputra, Selasa (14/3) siang.
Para remaja 15 tahunan itu juga menggunakan bahan lain selain bekas canang dan kulit bawang putih. Mereka menggunakan bagian-bagian dari pohon pisang. Pada bagian rambut ogoh-ogoh, mereka menggunakan pelepah pisang yang kering (tali kupas). Kemudian untuk hiasan kepala atau mahkota menggunakan kayu kelapa (saang kepangan), daun cemara, bunga jepun kering serta bungsil atau buah kelapa yang muda dan mengering. “Ini tidak ada yang beli. Tinggal ambil di kebun-kebun. Ambil yang sudah jatuh-jatuh, tidak mengambil langsung dari pohon,” imbuhnya.
Pada detail gelang kaki dan tangan para remaja ini berinovasi dengan kulit kuaci. Kulit kuaci itu dikombinasikan dengan biji-bijian seperti kacang merah dan buah pohon pinus. Lagi-lagi tali kupas dan bungsil mengambil peran lebih banyak dalam ornament itu. “Kalau kuaci itu saya ambil sampah-sampahnya di sekolah. Banyak berserakan. Penggunaan kuaci ini juga terinspirasi dari pembuatan ogoh-ogoh ST. Tunas Muda Denpasar waktu tiga tahun lalu,” tambahnya.
Pada bagian utama yakni perwujudan Sad Ripu menggunakan kulit jagung kering sebagai bahan utama. Sebanyak satu karung besar kulit jagung dibutuhkan dalam pembuatan ogoh-ogoh itu. Kulit jagung diletakkan pada lapisan paling atas. Bahan ini didapatkan anggota STT dari petani jagung di ladang. “Diawal kami buat kerangka dari bambu, kemudian ditempel dengan kertas bekas, lalu ditimpa dengan kulit jagung. Kertas-kertas bekas itu juga kami dapatkan di sekolah. Ada sampah buku tulis sampai kertas HVS,” terangnya ditemani Sang Ayah, Gede Sukrawan.
Dibalik pembuatan ogoh-ogoh yang terbilang inovatif ini, STT. Yowana Gang Bten Timbul hanya menelan dana Rp 1,5 juta. Dana itu pun didapatkan dari sumbangan pihak swasta serta desa adat. Minimnya dana yang dimiliki membuat para remaja ini putar otak untuk membuat kreasi dari limbah. “Iya benar. Salah satu alasan kami membuat ogoh-ogoh dari limbah upakara ini karena kas kami Rp 0. Kami membuat proposal dan meminta donasi hanya terkumpul Rp 1,5 juta. Kami tidak mungkin membuat karya dengan dana seminim itu. Maka jadilah ini,” paparnya. (dhi)