Proes rekontruksi dilakukan bersama dengan para penabuh dan penari yang konon embawakan tari tersebut saat jaman setelah kemerdekaan. Untuk informan tabuh, Dinas Kebudayaan Buleleng menggali informasi dari Made Damendra, Ketut Sumirta dan I Nyoman Chaya. Sementara untuk informan tari ada Nyoman Sumerti. Usia mereka pun tidak muda lagi, sehingga untuk menggali informasi mengenai kesenian ini dibutuhkan waktu yang lumayan panjang.
Kepala Bidang Kesenian Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Wayan Sujana menerangkan, Tari Pancasila memang diciptakan oleh Maestro Tari asal Desa Kedis, Kecamatan Busungbiu. Tetapi tarian tersebut diciptakan dan dipopulerkan di wilayah desa Kalisada, Kecamatan Seririt. Kesenian itu digarap oleh beberapa seniman. Mereka memilih berkarya lewat seni daripada turut berpolitik pada jaman setelah kemerdekaan RI. "Penciptanya Ketut Merdana. Ide dasarnya Pak Ketut itu mengajak teman-teman seniman pada jaman kemerdekaan untuk tidak berpolitik, tapi berkesenian. Jadi diciptakanlah tari Pancasila ini, atas kecintaannya terhadap Pancasila dan rasa nasionalisme saat kemerdekaan, untuk mengisi kemerdekan. Itu sekitar tahun 1950an," ujarnya, Selasa (28/3) siang.
Tari Pancasila konon ditarikan secara berkelompok yang terdiri dari 5 sampai 6 orang. Dalam setiap gerakannya,tarian ini menunjukkan formasi sesuai dengan lambang pada butir-butir Pancasila. Ada formasi Bintang, Rantai, Pohon Beringin, Kepala Banteng serta Padi dan Kapas. "Nanti para penari melakukan formasi sesuai dengan lambang itu. Ini ditarikan boleh laki-laki atau perempuan," kata dia.
Sujana mengklaim tabuh dari tarian ini sudah 100 persen rampung. Tahap selanjutnya adalah memperdengarkan tabuh ini kepada mantan penari terdahulu. Sehingga dari hasil dengar bersama, rekonstruktor akan mendapatkan gerak dari tarian tesebut. Tabuh yang diperdengarkan kepada para penari lawas itu juga dimaksudkan untuk membantu mengingat bagian-bagian gerak tari yang terpenggal. "Tinggal dihaluskan lagi 2 kali saja. Setelah itu direkam dan diperdengarkan pada penarinya. Dari sana baru bisa menangkap bagaimana gerakannya. Nanti kan penarinya bisa mengingat, itu nanti yang akan kami rekontruksi lagi. Mungkin setelah hut kota kami mantapkan lagi. Penarinya ada dari Kalisada, ada dari Mayong juga, ini kumpulan penari dahulu waktu diciptakan itu," ungkapnya.
Rekontruksi ini dilakukan untuk melestarikan kesenian khas wilayah Dauh Enjung yang lama hilang. Selain tari Pancasila, juga ada Tari Tani yang direkonstruksi. Tari Tani ini bercerita soal petani yang menggarap sawah. Kemudian disela-sela menggarap sawah, para istri dari petani datang untuk membawakan makan siang. "Intinya bercerita tentang kehidupan bertani, mengingat wilayah kita adalah wilayah agraris. Kalau yang ini penarinya ada 5 orang. Satu laki-laki dan empat perempuan. Penciptanya juga Maestro Ketut Merdana," papar Sujana.
Sementara itu, I Ketut Pany Ryandhi dari Sanggar Seni Wahana Santhi, Desa Umejero, Kecamatan Busungbiu mengatakan, proses rekonstruksi tari Pancasila ini baru sampai tahap perampungan komposisi musik. Selanjutnya dibutuhkan 3kali pertemuan lagi untuk tahap finishing pada aspek musiknya. "Setelah musik sudah rampung, baru ke narasumber, rekonstruktor tari dan penari membangun kerangka gerakan tari. Untuk tarian estimasi waktu merampungkannya dibutuhkan 5 kali pertemuan," kata dia.
Dalam proses ini kendala yang dihadapi salah satunya adalah membangun kembali ingatan informan. Komposisi yang dibuat sejak tahun 50 silam membuat informan berpikir keras untuk mengingat gerakan tari. "Karena ini sudah lama sekali tidak pernah ditampilkan kembali," imbuhnya.
Ketut Pany optimis rekonstruksi yang dilakukan dapat rampung pada bulan Mei mendatang. Walau tidak menutup kemungkinan saat itu akan terdapat banyak revisi serta penyesuaian konstruksi tari. "Saya kira Mei kami sudah siap menampilkan 100 persen," tegasnya. Editor : I Dewa Gede Rastana