SINGARAJA, BALI EXPRESS – Lomba Megala-gala yang diselenggarakan Provinsi Bali sebagai salah satu bentuk pelestarian budaya lewat permaianan tradisional. Dalam lomba tersebut Kabupaten Buleleng menampilkan permainan Megoak-goakan. Sekaa goak yang ditampilkan diwakili siswa SMPN 1 Sawan sebanyak 49 orang. Perlombaan dilakukan di Lapangan Timur Monumen Perjuangan Rakyat Balu, Bajra Sandhi Renon, akhir pekan lalu. Bala Goak yang diterjunkan Buleleng ke Bali Selatan mampu meraih juara III.
Demonstrasi dipilih Megoak-goakan yang berasal dari Kabupaten Buleleng karena merupakan salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) sekaligus menjadi ajang pelestarian dan mengenalkan kepada seluruh masyarakat kekayaan tradisi dari Gumi Panji Sakti tersebut. Megoak-goakan ini terinspirasi dari burung gagak (goak) yang sedang mengincar mangsanya. Tradisi ini digelar setiap tahun setelah Hari Raya Nyepi, untuk menghormati jasa Raja Ki Barak Panji Sakti. Pada masa pemerintahan Raja Panji, beliau dikenal sebagai seorang raja yang murah hati serta memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi. Beliaulah pendiri kerajaan Buleleng pada era 1960an.
Munculnya permainan ini berawal dari Raja Panji Sakti tengah melihat burung gagak yang melintas dihadapannya. Ia tertarik dengan taktik goak itu dalam mengincar mangsanya. Maka sang raja pun menemukan ide untuk mengaplikasikan taktik sang gagak ke dalam sebuah permainan. Sehingga ia menemukan salah satu permainan yang dinamakan Megoak-goakan. Ia pun mempraktekkan permainan ini bersama prajuritnya.
Sebelum melakukan permainan sang raja membuat kesepakatan bersama prajuritnya. Jika sang raja memenangkan permainan maka semua keinginan raja harus dipenuhi oleh prajuritnya. Perjanjian itu pun disetujui oleh prajurit. Dengan kegesitan Raja Panji Sakti, maka raja berhasil memenangkan permainan. “Kami berharap dengan peran pemerintah, ikut menjaga dan melestarikan budaya sebagai taksi Bali. Jadi walaupun tradisi Megoak-goakan ini berasal dari Buleleng tapi harapannya dengan demonstrasi hari ini dapat dikenal bukan hanya seluruh Bali melainkan seluruh Indonesia bahkan Dunia,” ujar Ketua Umum Bala Goak, Desa Panji, Gusti Putu Agus Jaya.
Lomba Megala-gala ini dipilih dalam Jantra juga sekaligus untuk mempersiapkan generasi yang memiliki kemampuan dalam permainan tradisional ini untuk mewakili Provinsi Bali dalam mengikuti Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) mendatang. Pihaknya berharap kepada generasi muda di tengah gempuran perkembangan teknologi yang mau tidak mau tetap diikuti, agar juga mengikuti langkah pelestarian budaya yang diselenggarakan pemerintah dari tingkat kabupaten maupun provinsi melalui permainan tradisional sehingga tradisi tidak punah sekaligus dapat meningkatkan rasa gotong royong pada generasi muda. “Untuk info kriteria PKN ini belum diterima dari pusat, namun kita antisipasi dan sudah mempersiapkan bibit yang berpotensi dari sekarang dalam ajang PKB ini,” tegasnya. (*)
Editor : I Dewa Gede Rastana