DENPASAR, BALI EXPRESS - Kasus tewasnya ayah-anak Made Sudiantara, 47, dan putrinya Putu Rita Pravista Devi, 26, di rumahnya Jalan Bukit Tunggal Nomor 7, Banjar Alangkajeng Gede, Pemecutan, Denpasar Barat, menghebohkan masyarakat pada Kamis (6/7). Polisi sampai saat ini masih melakukan penyelidikan.
Kasatreskrim Polresta Denpasar AKP Losa Lusiano Araujo yang dikonfirmasi menerangkan, pihaknya sudah memeriksa keterangan saksi, termasuk juga dokter, terkait penyebab meninggal tersebut. "Sudah diambil keterangan saksi-saksi juga dari dokter. Rencana setelah rampung, dilakukan gelar perkara," ujarnya, Minggu (9/7).
Meski Satuan Reserse Kriminal Polresta Denpasar telah menyebutkan dugaan bahwa sang anak merupakan korban yang dibunuh ayahnya dan sang ayah bunuh diri, pihaknya tetap perlu memastikan penyebab kematian itu. Sehingga kasusnya benar-benar tuntas.
Sementara itu, informasi yang dihimpun koran ini dari sumber lain, jenazah Sudiantara dan Putu Rita keduanya sudah diambil oleh pihak keluarga untuk diupacarakan. "Kedua jenazah sudah di keluarganya, untuk lebih jelasnya bisa dikonfirmasi ke Polresta Denpasar," jawab sumber tersebut.
Namun, Losa yang disinggung mengenai jenazah ayah dan anak sudah diambil atau belum, pihaknya tidak memberi penjelasan perihal itu. Diberitakan sebelumnya, ayah bernama Made Sudiantara (MSA), 47, dan anak perempuannya Putu Rita Pravita Devi (PRPD), 26, ditemukan tewas di rumahnya, Jalan Bukit Tunggal Nomor 7, Banjar Alangkajeng Gede, Pemecutan, Denpasar Barat, pada Kamis (6/7), sekitar pukul 11.30.
Diduga, sang ayah membunuh putrinya, setelah itu mengakhiri hidupnya sendiri. Sudiantara ditemukan dalam kondisi pergelangan tangan mengalami luka sayat terbuka dan diduga meminum racun. Sedangkan, Putu Rita ditemukan dalam posisi tengkurap dengan leher terjerat tali dan luka lebam di beberapa bagian tubuh. Polisi juga mendapati ada palu, pisau cutter dan botol cairan HCL di tempat kejadian perkara.
Menurut pihak keluarga yaitu paman dari Sudiantara, Made Sudiana memastikan tidak ada pihak lain yang terlibat dalam kematian keduanya. Pihaknya juga menduga Sudiantara lebih dulu membunuh anaknya yang menderita kelumpuhan sejak lahir, lalu bunuh diri. Walaupun tak bisa memastikan, keluarga menduga kemungkinan ada tekanan atau beban hidup yang ditanggung Sudiantara dalam mengurus anaknya itu sekian tahun.
Tetapi, Sudiantara melakukan hal tersebut bukan karena membenci putrinya, tapi justru lantaran rasa sayangnya. "Kalau dia (Sudiantara) bunuh anaknya seolah-olah benci, tapi kenyataannya tidak seperti itu. Justru saking sayangnya, keponakan saya pingin mengakhiri bareng-bareng. Mungkin di pikirannya kalau dia saja yang meninggal, siapa yang mengurus anaknya? Karena selama ini kan dia yang merawat," tuturnya, saat ditemui koran ini di rumah duka, pada Jumat (7/7). (*)
Editor : I Dewa Gede Rastana