SINGARAJA, BALI EXPRESS – Dari kejauhan seorang perempuan tua tergopoh-gopoh memikul karung. Tidak hanya satu, melainkan tiga. Karung-karung itu memenuhi Pundak hingga kepalanya. Langkah kaki tanpa alas seakan tak ragu ingin cepat sampai. Made Tari begitu sapaan perempuan tua berusia sekitar 78 tahun itu. Senyumnya merekah ketika ia sampai di depan pintu Bank Sampah Galang Panji, Desa Panji, Kecamatan Sukasada.
Made Tari menjadi salah satu nasabah BS Galang Panji sejak tahun 2020. Ia selalu datang dengan berjalan kaki. Namun ia tak pernah menggunakan alas kaki. Rumahnya tak jauh dari gudang bank sampah. Volume sampah yang disetorkan pun terbilang banyak. Sampah-sampah plastik itu ia kumpulkan, ketika sudah cukup banyak maka ia akan membawanya ke bank sampah. “Seminggu kadang 10-15 kilogram. Kadang dibantu cucunya membawa ke bank sampah,” terang Gede Ganesha, pendiri Bank Sampah Galang Panji, Desa Panji, Minggu (9/7) pagi.
Sampah-sampah yang disetorkan oleh Made Tari ini dikumpulkan dari rumahnya. Terkadang ia juga menerima sampah dari tetangganya. Made Tari juga mengumpulkan sampah dari tempatnya bekerja. Kesehariannya, ia kerap membantu beberapa rumah tangga untuk bersih-bersih atau mengerjakan sesuatu yang dapat ia lakukan. “Sambil bekerja sambal memungut sampah. Kadang mencari sayur lalu dijual keliling. Masih bisa bekerja,” ujar Ganesa.
Selain Made Tari ada juga nasabah lain dengan usia yang matang. Namanya Made Gari. Usianya 80 tahun. Sama seperti Made Tari, ia bergabung menjadi nasabah bank sampah sejak 2020 lalu. Setiap dua minggu sekali ia datang menyetor sampah. Tetapi tidak sebanyak Made Tari. “Tidak banyak, sekitar 2-5 kilogram saja setiap setor,” tutur Ganesa.
Laku positif dua perempuan tua ini juga dibarengi oleh Luh Kerti. Usianya sekitar 78 tahun. Ia juga membawa sampah ke bank sampah setiap dua minggu sekali. Tidak saja sampah plastik, sampah yang disetorkan Luh Kerti ini beragam. Ada kardus, botol kaca, sampai sampah kertas. “Biasanya sampah itu dikumpulkan sendiri atau dari sampah anaknya yang sudah menikah,” imbuhnya.
Ketiga nenek ini terbilang rajin menyetorkan sampah. Perempuan-perempuan tua itu menjadi nasabah istimewa karena usianya yang sudah renta. Mereka juga menjadi nasabah prioritas. “Ketika di bank sampah sedang ramai dan nenek-nenek ini datang, kami berupaya mendahulukan mereka agar tidak lama menunggu,” papar Ganesa.
Meski tak tidak selincah dulu, para nenek ini masih tetap berusaha mengumpulkan sampah. Sampah-sampah itu ditabung di bank sampah. Walau sudah memiliki tabungan, mereka tak sekali pun menghitung tabungannya. “Mereka tidak tahu punya uang berapa. Tapi kalau mereka mau menarik tabungan, kami di bank sampah selalu membantu. Mereka nasabah prioritas,” ujar pemuda bermata sipit ini sembari menirukan teller bank-bank pada umumnya.
Selain para nenek itu, nasabah Bank Sampah Galang Panji juga banyak yang masih anak-anak. Ganesa pun percaya, sembari mengumpulkan sampah, mereka juga belajar soal benda-benda yang dapat didaur ulang dan yang tidak bisa didaur ulang. Disamping mendapatkan upah dari sampah, mereka juga mengetahui sejak dini pentingnya menjaga lingkungan dari sampah. (*)