BANGLI, BALI EXPRESS- Warga Banjar Geria, Desa Adat Kawan, Bangli memanfaatkan kembali sumber mata air yang belasan tahun tidak terurus. Itu dilakukan karena sudah lebih dari sepekan, pasokan air dari Perumdam Tirta Danu Arta tersendat.
Sumber air di Sungai Gerubugan itu dialirkan ke tempat yang datar menggunakan mesin agar warga Geria yang mencapai 600 jiwa tidak kelimpungan mendapatkan air bersih. Sebab selama ini mereka sangat ketergantungan dengan Perumdam Tirta Danua Arta. “Ketika PDAM (Perumdam Tirta Danu Arta) macet, masyarakat kelimpungan cari air. Sekarang sumber mata air ini sebagai solusinya,” kata Klian Adat Banjar Geria Sang Ketut Widiana ditemui Minggu 16 Juli 2023.
Widiana saat ditemui bersama Kepala Lingkungan Geria Ida Bagus Made Indradata menyebutkan bahwa zaman dahulu, mata air Sungai Gerubugan itu dimanfaatkan oleh warga Kota Bangli. Debitnya besar. Selain itu memang ditata, seperti dibuatkan tempat mencuci dan pancuran yang terpisah antara laki-laki dan perempuan. Lokasinya juga tidak jauh dari permukiman. “Sekitar 17 tahun sumber air ini tidak dirawat. Sekarang baru dimanfaatkan kembali gara-gara PDAM macet,” jelas Widiana.
Sebelum Banjar Geria memutuskan memanfaatkan air itu, pihaknya sudah melakukan pengujian kualitas air. Hasilnya memang layak dikonsumsi. Warga juga tidak terlalu sulit mengalirkannya ke tempat yang datar di jaba Pura Dalem Cungkub, karena masih ada tersisa satu pancuran. Tinggal dibersihkan saja.
Tak sedikit warga luar Banjar Geria ikut antre air di sana, karena pelanggan Perudam di banjar lain juga tidak mendapatkan pasokan air bersih lebih dari sepekan. Widiana mempersilahkan semua orang yang ingin ambil air di sana. Gratis. Bahkan tak jarang, orang luar yang kebetulan lewat di sana disarankan ikut ambil air, mengingat melihat dari debitnya, air itu mencukupi untuk banyak orang. “Banjar Geria tidak membatasi. Siapa pun boleh. Sekarang ini lagi krisis, semua membutuhkan air,” kata pria yang seorang Manajer Front Office di salah hotel bintang lima di kawasan Ubud, Gianyar ini.
Ke depan, Widiana berencana menata kembali sumber mata air itu. Sehingga warga tidak kesulitan mendapatkan air bersih ketika Perumdam Tirta Danu Arta mengalami persoalan dalam pendistribusian. Selain itu sebagai upaya melestarikan sumber mata itu. “Rencananya ditata, dibuatkan tempat mencuci, tempat mandi seperti dulu,” tegasnya.
Sementara terkait kerusakan jaringan pipa Perumdam Tirta Danu Arta akibat cuaca ekstrem yang mengakibatkan pelanggannya tidak dapat air, Widiana berharap itu menjadi bahan evaluasi jajaran Perumdam Tirta Danu Arta. Mengingat persoalan seperti itu hampir terjadi setiap tahun. Lokasinya juga itu-itu saja. “Lokasinya sangat berbahaya, kenapa tidak dialihkan, kenapa berulang-ulang dengan case yang sama,” kritiknya.
Ia mengingatkan bahwa air itu kebutuhan vital. Kabupaten Bangli yang bisa menyuplai air ke kabupaten lain, namun malah warganya sendiri mengalami krisis air. (*)
Editor : I Made Mertawan