GIANYAR, BALI EXPRESS – Setiap tahunnya ada ratusan hingga ribuan telur penyu yang menetas di konservasi penyu yang berlokasi di Pantai Watu Klotok, Banjar Tojan, Desa Tojan, Kecamatan/Kabupaten Klungkung, Bali. Konservasi Penyu Kelompok Pelestari Penyu Watu Klotok ini sudah berdiri sejak tahun 2000 silam. Berawal dari iseng, kelompok itu nyatanya bisa konsisten melakukan pelestarian penyu.
Wayan Gede Swibawa, 41, selaku Ketua Kelompok Pelestari Penyu Watu Klotok, menuturkan bahwa terbentuknya kelompok tersebut berawal ketika dirinya merasa prihatin atas banyaknya telur penyu yang dimakan predator di pesisir Pantai Watu Klotok. “Awalnya itu sekedar iseng karena melihat telur penyu banyak dimakan predator terutama anjing,” ujarnya Kamis (3/8).
Dari situ, ia pun mencoba berbuat dengan mengumpulkan telur-telur penyu tersebut dan membentuk kelompok pelestari penyu yang kala itu berjumlah 11 orang. Namun keisengannya itu justru berlanjut hingga saat ini karena memang pihaknya konsisten dalam melestarikan penyu. “Karena waktu itu saya berfikir agar kedepannya bisa memberikan sesuatu kepada masyarakat, jadi kami bergerak dengan sukarela dan sadar apa yang kami lakukan itu tidak ada yang menggaji,” sebutnya.
Lebih lanjut dirinya menjelaskan jika setiap tahunnya, penyu akan bertelur mulai bulan April hingga September. Dimana penyu-penyu ini biasa bertelur disepanjang pesisir Klungkung, mulai dari Pantai Tegal Besar hingga Pantai Kusamba. Namun memang paling banyak ditemukan di Pantai Watu Klotok. Adapun jenis penyu yang banyak ditemukan di pesisir pantai Klungkung adalah penyu Lekang. Selanjutnya telur-telur yang telah dikumpulkan akan dilakukan penanaman di konservasi tersebut selama 45 sampai 60 hari.
“Setelah itu mulai lah musim penetasan, biasanya tidak semua telur yang kita tanam akan menetas. Itu karena beberapa faktor, diantaranya suhu. Cahaya matahari itu dibutuhkan 75 persen dan 25 persennya lagi adalah air, jadi kita juga siram dengan air laut,” imbuhnya.
Seperti halnya telur penyu yang dikumpulkan di tahun 2023 ini sebanyak 7.616 butir dari sepanjang pesisir Klungkung, kata dia menetas 2.000-an butir, dan gagal menetas sebanyak 2.000 butir dan sisanya belum menetas. Kini tukik-tukik yang sudah keluar dari cangkak telur itu ditampung dalam lima petak kolam beragam ukuran di konservasi tersebut. Dimana Pemerintah Kabupaten Klungkung memberikan kelompok tersebut lahan seluas 4 are untuk dijadikan areal konservasi di Pantai Watu Klotok. “Paling tua umurnya 3 bulan, sudah siap dilepas dan paling muda baru 10 hari,” paparnya.
Sejumlah perusahaan dan instansi pemerintah maupun swasta pun sudah menghubunginya untuk melakukan pelepasan dari tukik tersebut cukup dengan memberikan dana punia secara sukarela kepada kelompok tersebut. Dan selama menjalani konservasi penyu, menurutnya tidak ada kendala yang berarti. “Kendala yang berarti tidak ada, tapi soal pakan tukik memang luar biasa, tapi kami di kelompok berusaha semaksimal mungkin agar konservasi ini tidak putus di tengah jalan,” beber Swibawa.
Sebab pihaknya ingin agar konservasi ini selain menyelamatkan habitat penyu juga dapat berguna bagi generasi penerus kedepannya. “Agar anak cucu kita nanti bisa juga menikmati dan melihat langsung penyu itu, tidak hanya bisa melihat gambar saja,” tandasnya. (*)