DENPASAR, BALI EXPRESS - Belum lama ini, akun instagram milik anggota DPR RI Arya Wedakarna (AWK) @aryawedakarna mengunggah postingan terkait pengadaan bazzar di SMAN 2 Denpasar dalam rangka HUT SMAN 2 Denpasar.
Postingan berupa hasil capture chat yang masuk ke direct message (DM) AWK yang sekilasnya berbunyi, jika siswa SMAN 2 Denpasar tidak bisa menjual 4 bazzar dengan harga Rp 35 ribu per bazzar, maka siswa tersebut akan norok atau menggangi dengan uang senilai Rp 140 ribu.
Postingan soal bazzar SMAN 2 Denpasar tersebut tentunya mendulang banyak komentar, baik komentar pro dan kontra.
Kepala SMAN 2 Denpasar, I Gede Eka Mahendra membantah adanya kewajiban siswa mengganti rugi bazzar yang tidak laku terjual.
Justru pihaknya mengklaim, hal tersebut merupakan salah satu pendidikan karakter.
“Tidak benar itu, yang benar itu bazzar itu bagian dari pembelajaran penguatan profil pelajar Pancasila salah satunya kewirausahaan,” jelasnya, Sabtu (5/8).
Mahendra menambahkan, sebetulnya terkait HUT SMAN 2 Denpasar telah disiapkan oleh pihak sekolah.
Hanya saja murid-murid ingin berkreativitas bersama OSIS dengan salah satunya melalui penerapan enterpreneur, membuat atau menjual bahan makanan dalam bentuk bazzar.
“Kenapa dalam bentuk bazzar? Agar mereka tahu kapan dan berapa yang diorder itu kan harus jelas kan tidak buka stand setiap hari. Kemudian uang bazzar akan dikelola oleh OSIS juga MPK untuk men-support kegiatan HUT,” katanya.
Sementara untuk memeriahkan HUT SMAN 2 Denpasar, Mahendra mengungkapkan, pihaknya telah bekerjasama dengan brand ritel Tiongkok di Denpasar yang nantinya akan menghadirkan artis Nasional.
Namun untuk lebih memeriahkan HUT SMAN 2 Denpasar, dikatakan Mahendra siswa-siswi ingin mengundang artis lainnya.
Dikatakan Mahendra, pihak sekolah tetap mempersilahkan dan akan mengontrol agar uang bazzar tidak habis digunakan hanya untuk hura-hura karena juga terdapat program donasi ke panti asuhan.
“Mereka secara otomatis memberikan itu, sisanya sebagai keuntungan kelas kan setiap kelas yang berjualan bazzar, nantinya sisanya akan dikembalikan entah kelas itu dipakai kas atau bagaimana terserah mereka,” tambahnya.
Mahendra menekankan, ketika bazzar tidak laku, tidak ada istilah norok atau mengganti rugi. Hal ini karena kupon hanya digunakan untuk siswa yang berjualan menghitung berapa nantinya produk yang akan mereka jual agar tak rugi.
“AWK yang memposting juga dari prosedurnya sudah tidak benar. Jadi mereka memiliki modal Rp 15 ribu, mereka olah, lalu akan mendapatkan keuntungan entah bekerjasama dengan distributor yang lain atau membuat sendiri, kita tidak intervensi itu mereka kan berkreativitas sendiri,” ucapnya.
Disamping itu, ia juga meluruskan pemberitaan dengan menjual bazzar ini dapat meringankan biaya study tour. Yang mana, menurut Mahendra, untuk tahun ini, ia tidak memberlakukan study tour untuk siswa-siswa SMAN 2 Denpasar.
Meski diakuinya, sebelumnya ada yang mensosialisasikan terkait study tour, namun dari pihak sekolah belum melakukan atensi apa pun.
“Kok ada dikatakan bazzar bisa meringankan tour, mana bisa bazzar ringankan tour, logikanya begitu. Kemudian sarana-prasarana kalau itu dana BOS itu sudah ada peraturannya, dana komite untuk siswa itu kita sudah support setiap siswa dapat pakaian gratis 1.700 jumlahnya itu, kalau kita hitung angkanya anggaplah Rp 75 ribu sekitar Rp 160 juta kita sudah support konsumsi, sound sistem, rias untuk kegiatan mereka yang interen sudah jadi sudah ada aturannya,” bebernya.
Pihaknya pun menyayangkan AWK sekadar memposting hal tersebut di media sosial pribadinya.
Sementara itu dikutip terpisah, terdapat salah satu akun diduga milik salah satu siswa SMAN 2 Denpasar dengan nama @gedeerlanggaa yang turut mengomentari postingan AWK di sosial media Instagram terkait bazzar SMAN 2 Denpasar. Komentar tersebut berbunyi:
“Maaf sebelumnya, nama saya Erlangga selaku siswa SMAN Negeri 2 Denpasar. Terkait info bazzar yang dikirimkan melalu chat tersebut banyak info yang keliru jik. 1. Untuk modal per 1 makanan sebesar 15.000, 2. Kegiatan bazzar hanya difokuskan untuk hut saja, kegiatan diluar HUT tidak ada kaitannya dengan kegiatan bazzar tsb, 3. SISWA TIDAK PERLU NOROK APABILA KUPON TIDAK HABIS. SISWA/I HANYA DIMINTA UNTUK BELAJAR ENTREPRENEUR DENGAN MENJUALKAN BAZZAR. APABILA BAZZAR TSB TIDAK LAKU MAKA TIDAK APA-APA PARA SISWA/I TIDAK PERLU NOROK.”
Komentar tersebut juga dibalas langsung oleh AWK yang mengatakan untuk menggalang dana tak harus gunakan bazzar.
“Ga harus pake bazzar. Pake dana komite sebagai modal. Jng dibungkus2 program2. Negeri hati2 mslh uang,” tulisnya.
Editor : I Putu Suyatra