SINGARAJA, BALI EXPRESS - Gedung Kesenian Gde Manik Singaraja kini memiliki wajah baru. Gedung yang berlokasi di Jalan Udayana, Singaraja, Bali, ini telah rampung direhab.
Pengerjaan fisik dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Buleleng. Biaya yang dihabiskan mencapai Rp 1,3 miliar.
Kawasan di Gedung Kesenian Gde Manik Singaraja pavingnya telah diganti. Tampilan baru paving serta keramik di gedung itu menambah kesan segar. Kini gedung tersebut sudah menjadi auditorium atau hall tertutup.
Kapasitas gedung yang dulunya dapat menampung 2.000 orang, kini lebih ramping. Dalam gedung hanya tersedia 500 seat berupa kursi lipat. Gedung juga dilengkapi dengan 14 unit standing AC. Selain itu dibangun juga 2 unit toilet baru dalam gedung.
Balutan karpet merah juga terlihat bersih. wajar saja, gedung itu dapat terbilang baru dan belum pernah digunakan paska renovasi. Pada panggung utama juga terpasang satu set sound system permanen serta dua unit videotron untuk menunjang suatu pertunjukan. Begitu juga dengan lighting yang disetting dalam gedung.
"Kalau untuk konser musik gedung ini tidak bisa. Dialihkan ke tempat lain. Tapi kalau untuk pertunjukan seni lain misalnya teater, tari atau acara-acara resmi lain sangat representatif," ujar Kepala Dinas PUTR Buleleng, I Putu Adiptha Ekaputra, Kamis (17/8) pagi.
Di bagian belakang panggung, ruang tunggu atau ruang rias juga sudah diperbaharui. Pun dengan toiletnya sudah diperbaiki. Tetapi toilet yang berada di luar gedung akan dibersihkan dan pengelolaannya diserahkan ke Bagian Umum Setda Buleleng.
Dikonfirmasi atas hal tersebut, Kabag Umum Setda Buleleng, Pasda Gunawan mengatakan, toilet yang ada di luar gedung nantinya akan dikonsep ulang atau diubah menjadi gudang.
"Nanti bisa jadi gudang penyimpanan. Tapi ya harus dirombak dulu biar bersih. Toilet yang bi digunakan ada di dalam gedung atau di belakang panggung," terangnya.
Pasda juga mengatakan, desain baru Gedung Kesenian Gde Manik Singaraja dibuat oleh putra Buleleng. Penyedia sarana dan prasarana juga didapat dari rekanan lokal melalui e-katalog.
"Kami juga bersyukur rekanan yang kami dapat dari lokal. Jadi enak koordinasi dan lebuh mudah juga komunikasinya," ujar Pasda.
Untuk formasi tempat duduk, beberapa baris sengaja dibuat menyerong agar pandangan dapat ke arah panggung. Jika dibuat lurus dikhawatirkan kenyamanan penonton di sisi kiri dan kanan panggung terganggu.
"Kalau dulu kan tidak ada kursi seperti sekarang. Tinggal duduk lalu badan yang bergerak. sekarang tidak bisa seperti itu, kursinya kan nempel permanen. Jadi desainnya dibuat sedikit serong," paparnya. (*)