Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Minat Petani Gianyar Ikut Asuransi Pertanian Minim, Alasannya Jarang Gagal Panen

I Wayan Ananda Mustika Putra • Rabu, 23 Agustus 2023 | 06:00 WIB
Lahan sawah di Kecamatan Tegalalang, Gianyar.
Lahan sawah di Kecamatan Tegalalang, Gianyar.

GIANYAR, BALI EXPRESS- Kementerian Pertanian menargetkan 2.000 hektare tanaman padi di Kabupaten Gianyar ikut asuransi pertanian.

Hanya saja target pada tahun 2023 ini tidak bisa tercapai, mengingat minat petani di Gianyar tergolong minim ikut asuransi pertanian.

Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian Dinas Pertanian Gianyar Made Suarma menjelaskan sampai Agustus 2023, Dinas Pertanian Gianyar baru bisa memenuhi target asuransi pertanian seluas 80 hektare.

“Yang sudah terealisasi seluas 20 hektare dan sedang dalam proses seluas 60 hektare,” jelas Suarma, Selasa 22 Agustus 2023.

Selain itu, subak yang sudah masuk asuransi pertanian hanya Subak Lange dan Subak Cau Duur di Desa Sukawati, dengan jumlah petani keseluruhan 56 orang.

Jumlah tahun ini juga tergolong lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan asuransi pertanian yang sedang dalam proses ada di Subak Kesian, Gianyar dan Subak Taro di Desa Taro Tegalalang dengan luas keseluruhan 60 hektare, dengan jumlah petani yang ikut sebanyak 140an petani.

“Ini masih pendataan, dimana di dua subak tersebut sedang memulai masa tanam padi,” ujarnya. 

Petani yang ikut asuransi pertanian hanya membayar sebesar Rp36 ribu  per hektare dan disubsidi pemerintah sebesar Rp144 ribu.

Saat terjadi gagal panen, dengan luas kerusakan paling sedikit 75 persen, asuransi diajukan klaim dengan sebelumnya dilakukan pengecekan kerusakan oleh pihak asuransi.

Sedangkan bila klaim memenuhi syarat, petani diberikan pertanggungan kerusakan sebesar Rp6 juta per hektare.

Rendahnya minat masyarakat dengan asuransi pertanian di Gianyar karena secara umum di daerah ini sangat jarang terjadi gagal panen atau padi yang terserang hama sejenis blass atau tungro dan penyakit lain.

Baca Juga: Rumah Dosen di Jimbaran Bali Mengalami Kebakaran, Tetangga Sempat Dengar Bunyi Letupan

“Di sisi lain, saluran irigasi juga masih normal, sangat jarang kekurangan air dan sistem pemeliharaan tanaman sangat terjaga,” ungkapnya. 

Sedangkan kasus terakhir tanaman padi terserang hama blass pada tahun 2021 lalu seluas 11 hektare di Kecamatan Tegalalang.

“Ya, kasus terakhir tahun 2021 seluas 11 hektare, petani sudah mendapat klaim dari Rp3 juta sampai Rp6 juta, tergantung tingkat kerusakan tanaman,” pungkasnya. (*)

 

 

Editor : I Made Mertawan
#gagal panen #asuransi pertanian